"Udah umurnya, harus nikah dong" bukan omongan buat kantor: tekanan menikah itu pelecehan berkedok nasihat hidup

Cara memakai fitur membaca

Dengarkan membacakan artikel. Baca cepat menampilkan frasa berurutan dengan kecepatan pilihan Anda. Latihan bahasa membandingkan terjemahan yang tersedia. Simpan menambahkan penanda di browser ini; buka kembali dari daftar tersimpan di pemutar.

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Iklan
Iklan

Di kantor, kadang ada ucapan yang bikin risi.

"Udah waktunya nikah, umur segitu"
"Kok belum nikah?"
"Biasanya umur segini sudah berkeluarga"
"Kalau nggak nikah, orang bakal mikir kamu ada masalah"

Ada orang yang mengatakan ini dengan gaya seolah-olah "nasihat hidup yang baik hati".

Tapi coba pikir sebentar.
Mau menikah atau tidak itu pilihan hidup orangnya sendiri, bukan urusan rekan kerja untuk memberi nilai.

Kantor itu tempat bekerja, bukan tempat memasang "template hidup" milik orang lain ke orang lain.


Belum menikah = bermasalah, penilaian orang yang asal-asalan banget

Yang paling aneh adalah mengaitkan status belum menikah dengan "orang yang ribet", "nggak normal", atau "pasti ada apa-apanya".

Ini bukan sekadar basa-basi.

"Orang yang sudah menikah itu baik-baik"
"Orang yang belum menikah itu bermasalah"

Ini penilaian orang yang asal-asalan sekali.

Padahal kenyataannya, ada orang menikah yang tetap menyebalkan.
Ada yang belum menikah tapi tulus.
Ada yang sudah menikah tapi nggak bisa kerja.
Ada yang belum menikah tapi luar biasa pintar.

Jadi, status menikah dan kepribadian itu dua hal yang berbeda.

Meski begitu, orang yang bilang "umur segini harus nikah" itu tidak melihat individunya.
Nilai-nilai hidupnya, kesehariannya, kebebasannya, kariernya, kondisi kesehatannya, cara dia memandang uang, rencana masa depannya, satu pun tidak dilihat.

Dia cuma memaksakan template lama yang ada di kepalanya.

Yang sudah menikah pun ada yang kelakuannya kayak monyet.
Yang belum menikah pun ada yang waras dan baik.
Intinya: jangan ukur kepribadian orang dari status pernikahannya.


Jangan masuk ke urusan pribadi di kantor

Menikah atau tidak.
Pacaran dengan siapa.
Punya anak atau tidak.
Tinggal di mana.
Mau hidup seperti apa.

Semua itu orangnya sendiri yang menentukan.

Orang kantor tidak berhak seenaknya membawa-bawa standar "normal" dan memberi nilai pada hidup orang lain.

Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, lewat situs dukungan anti-pelecehan di tempat kerja (Akarui Shokuba Oendan), menjelaskan bahwa pelecehan seksual di tempat kerja adalah ucapan atau tindakan "bersifat seksual" di "tempat kerja" yang tidak diinginkan "pekerja", sehingga menimbulkan kerugian pada kondisi kerja atau memburuknya lingkungan kerja. Topik pacaran, pernikahan, dan keluarga gampang sekali berkaitan dengan peran gender dan kehidupan pribadi, jadi kalau dibahas dengan cara yang membuat lawan bicara tidak nyaman, itu mudah menjadi masalah pelecehan.

Selain itu, dokumen kementerian yang sama juga memberi contoh bahwa terus-menerus bertanya kepada pria lajang "kenapa kamu nggak nikah?" termasuk ucapan yang berpotensi menjadi pelecehan.

Tentu saja, bukan berarti semua obrolan soal pernikahan langsung salah.
Kalau orangnya sendiri yang membuka topik itu, ada rasa saling percaya, dan lawan bicara tidak keberatan, itu bisa jadi obrolan biasa.

Tapi kalimat seperti

"Kok belum nikah?"
"Umur segitu sudah waktunya, kan?"
"Biasanya orang itu menikah"
"Kalau nggak nikah, nanti dipandang aneh"

itu lain cerita.

Itu bukan obrolan ringan, tapi ucapan yang merendahkan orang yang belum menikah.


Kata "biasanya" hampir selalu jadi tongkat untuk mengekang orang lain

Yang paling menyebalkan dari ucapan semacam ini adalah kata "biasanya".

"Biasanya orang menikah"
"Biasanya orang berkeluarga"
"Biasanya umur segini sudah mapan"
"Biasanya orang bikin orang tua tenang"

"Biasanya" ini hampir selalu dipakai sebagai tongkat untuk merebut kebebasan lawan bicara.

Apakah orangnya bahagia.
Apakah orangnya memang mau.
Apakah cocok dengan rencana hidupnya.
Apakah pilihan itu terasa ringan atau berat baginya.

Semua hal penting itu diabaikan, dan yang tersisa cuma "semua orang begitu, jadi kamu juga harus begitu".

Menurutku, ini cara berpikir yang cukup kejam.

Kata "biasanya" itu praktis,
karena bisa mengekang orang tanpa perlu menjelaskan alasan.

Tapi kalau "biasanya" itu dipakai untuk menggerakkan hidup orang lain, itu sudah bukan nasihat.
Itu cuma tekanan.


Bagi perusahaan pun, tekanan menikah itu menguntungkan

Hal yang lebih menyebalkan lagi: bagi perusahaan, "ayo nikah" juga menguntungkan.

Menikah.
Punya keluarga.
Ambil KPR.
Anak lahir.
Biaya hidup naik.

Kalau sudah begitu, karyawan jadi sulit untuk resign begitu saja.

Lalu perusahaan jadi gampang berkata:

"Kamu kan sudah punya keluarga, harus lebih bertanggung jawab"
"Kamu harus menafkahi keluarga, jadi berusahalah lebih keras"
"Mutasi juga harus diterima, ya"
"Divisi ini juga bisa kamu tahan, kan?"
"Kalau masih ada cicilan rumah, kamu nggak bakal keluar, kan?"

Tentu tidak semua perusahaan menyarankan menikah dengan niat buruk.
Tapi kalau dilihat dari strukturnya, karyawan yang sudah menikah, berkeluarga, dan punya cicilan rumah gampang menjadi "karyawan yang sulit kabur" di mata perusahaan.

Membicarakan ini hanya sebagai cerita indah itu berbahaya.

Menikah bisa jadi pilihan yang membahagiakan bagi orangnya.
Tapi bagi perusahaan, itu juga bisa jadi faktor yang menaikkan hambatan untuk keluar.

Karena itu, tekanan "umur segini harus nikah" perlu diwaspadai.

Pernikahan bukan kontrak kesetiaan kepada perusahaan.
Keluarga bukan sandera yang dipakai perusahaan untuk mengikat karyawan.


Itu bukan kebaikan, tapi melanggar batas pribadi

Orang yang bilang begini biasanya berdalih:

"Aku cuma khawatir"
"Aku nggak ada maksud jelek"
"Sebagai senior dalam hidup"
"Ini kan obrolan biasa"
"Semua orang juga ngomong begitu"

Tapi ada tidaknya niat buruk bukan inti masalahnya.

Masalahnya, kamu menginjak batas kehidupan orang lain.

Menikah atau tidak.
Pacaran dengan siapa.
Punya anak atau tidak.
Bekerja dengan cara seperti apa.
Tinggal di mana.
Seberapa penting kebebasan baginya.

Semua itu orangnya sendiri yang menentukan.

Orang kantor tidak berhak seenaknya membawa-bawa standar "normal" dan memberi nilai pada hidup orang lain.

Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, demi mencegah pelecehan di tempat kerja, meminta pemberi kerja untuk menjelaskan kebijakan dengan jelas, menyiapkan sistem konsultasi, memastikan fakta kejadian, mencegah terulang, dan melarang perlakuan merugikan terhadap orang yang berkonsultasi. Artinya, kalau ucapan di kantor membuat lingkungan kerja memburuk, itu tidak bisa dianggap selesai dengan alasan "cuma bercanda" atau "dari dulu ngobrolnya begitu".


Cara membalasnya: tarik batas, bukan meledakkan argumen benar

Saat dibilangi begitu, mungkin isi hatimu begini:

"Lah, kamu sendiri sudah menikah tapi tetap karyawan yang ribet"

Itu cukup benar.
Tapi kalau langsung ditembakkan begitu di kantor, bisa jadi malah rugi.

Dalam praktiknya, cukup tarik batas dengan kalimat yang lebih singkat.

Menikah itu pilihan pribadi, jadi aku kurang nyaman kalau di kantor dibicarakan seperti penilaian.

Topik itu urusan pribadi, jadi aku nggak terlalu mau dibahas di kantor.

Ini bukan soal pekerjaan, jadi cukup sampai di sini saja topiknya, ya.

Itu sudah cukup.

Tidak perlu mematahkan argumen lawan.
Yang penting menarik garis:
"Itu urusan pribadiku"
"Tolong jangan masuk ke situ di kantor".

Kalau orangnya mundur sekali bilang, berarti masih manusia.
Kalau terus memaksa masuk, berarti dia monyet pelanggar batas.


Menikah boleh saja, tapi bukan karena ditekan

Menikah itu sendiri tidak salah.

Ingin hidup bersama orang yang dicintai.
Ingin saling mendukung.
Ingin membangun keluarga.
Ingin membangun hubungan yang membuat tenang.

Kalau ada motivasi dari dalam diri seperti itu, menikah adalah pilihan yang indah.

Tapi menikah karena alasan seperti

"karena umur"
"karena biasanya begitu"
"karena di kantor nanti dipandang aneh"
"biar orang tua tenang"
"karena orang-orang di sekitar sudah menikah"

itu berbahaya.

Itu artinya menjalani template orang lain, bukan hidupmu sendiri.

Pernikahan bukan kartu identitas yang harus diserahkan ke perusahaan atau masyarakat.
Putuskan berdasarkan apakah itu benar-benar dibutuhkan dalam hidupmu.


Kesimpulan: jangan ukur orang dari status menikahnya

"Udah umurnya, harus nikah dong."

Sekilas kalimat ini terdengar seperti nasihat hidup.

Tapi isinya adalah masuk ke urusan pribadi, memaksakan "normal" yang sudah usang, dan menilai kepribadian orang yang belum menikah.

Tidak perlu diucapkan di kantor.
Kalau yang mendengar tidak nyaman, itu sudah dekat dengan pelecehan.

Status menikah tidak menentukan kepribadian seseorang.
Tidak menentukan kemampuan kerjanya.
Tidak menentukan apakah dia orang yang merepotkan.

Yang sudah menikah pun ada yang kelakuannya kayak monyet.
Yang belum menikah pun ada yang waras dan baik.

Jadi kesimpulannya cukup begini.

Menikah itu kebebasan pribadi. Jangan paksakan "normal" di kantor. Jangan seenaknya memasang template karyawan kantoran ke hidup orang lain.


Baca ini hari ini

Masing-masing menjawab pertanyaan yang biasanya muncul setelah membaca artikel ini.

Lihat semua artikelLebih banyak tentang Hubungan di tempat kerja

Bagikan artikel ini

Iklan

Satu lagi? Ada yang seru?

Mumpung sudah selesai membaca: beberapa cerita yang mirip dan beberapa yang beda sama sekali tapi seru.

  1. Topik serupaSaat Orang Tua Pasangan Menyudutkan AndaApakah Pasangan Membela?
  2. Kenapa Pasangan Bisa Putus Padahal Tak Ada yang Jahat
  3. Beda sama sekali, tapi seruKenapa Genji di "Harem King's Isekai Press Tour" Bisa Melakukan Apa Saja?
  4. Kenapa Chiikawa selalu makan?Makanan, rumput liar, monster, kerja, dan rating 10+
  5. MinecraftCreeper Meledakkan Segalanya, Lalu Fokus Menanam Kentang
  6. Kaleng 500 mL kadar 9% itu benar-benar "satu"?Setara 2.6 bir

Cari artikel lain

Semua artikel

Mendoi-chan

Pengelola situs

Mendoi-chan

Mengubah kerepotan di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari menjadi struktur yang jelas dan langkah berikutnya.