Kantor Bukan Tempat Memulihkan Harga Dirimu

Di tempat kerja, selalu ada orang yang kelihatannya cuma ingin "berceramah" dan "mencari-cari kesalahan".

Cara memakai fitur membaca

Dengarkan membacakan artikel. Baca cepat menampilkan frasa berurutan dengan kecepatan pilihan Anda. Latihan bahasa membandingkan terjemahan yang tersedia. Simpan menambahkan penanda di browser ini; buka kembali dari daftar tersimpan di pemutar.

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Iklan
Iklan

Di tempat kerja, selalu ada orang yang kelihatannya cuma ingin "berceramah" dan "mencari-cari kesalahan".

Mereka menunjuk kesalahan, bukan menyelesaikan masalah. Mereka berpidato soal "kesadaran", bukan membangun sistem. Berkas milik sendiri ditahan di meja, tapi orang lain dituntut punya rasa tanggung jawab. Waktunya habis untuk rapat tidak penting dan urusan dengan pihak luar, bukan untuk pekerjaan yang benar-benar penting. Dan entah kenapa, orang yang jarang lembur atau yang mengambil cuti malah ditekan.

Melihat orang seperti ini, jujur saja, aku cuma bisa berpikir begini:

Kerja yang benar. Jangan jadikan kantor sebagai tempat pemulihan harga dirimu.

Ini bukan sekadar menjelek-jelekkan. Kalau dilihat dari strukturnya, ini masalah yang cukup serius.

Orangnya mungkin merasa sedang "membimbing", "mengatur", atau "bicara demi kebaikan bawahan". Tapi kenyataannya, bisa jadi ia bukan sedang menyelesaikan masalah, melainkan menambal rasa kurang dihargai, hasrat menguasai, dan hidup pribadi yang belum terasa tuntas lewat hierarki di kantor.

Kalau Ini Pekerjaan, Apa yang Harus Dilakukan Sudah Jelas

Saat ada masalah di pekerjaan, yang perlu dilakukan sebenarnya sederhana.

  • Pastikan apa yang terjadi
  • Cari penyebab di struktur, bukan di individu
  • Temukan bagian mana yang membuat informasi tersendat
  • Tentukan siapa, kapan, dan sampai sejauh mana yang menangani
  • Buat hal yang belum diproses atau tertunda terlihat jelas
  • Jalankan berkas
  • Serahkan keputusan kepada orang yang berwenang memutuskan
  • Bangun sistem supaya tidak terulang

Misalnya, kalau terjadi kesalahan saat pergantian kontrak atau serah terima tugas, yang dibutuhkan bukan "lebih hati-hati lagi".

Yang dibutuhkan adalah membuat hal-hal berikut terlihat jelas untuk tiap orang:

  • jenis kontrak saat ini
  • masa kontrak saat ini
  • jenis kontrak berikutnya
  • masa kontrak berikutnya
  • keinginan orang yang bersangkutan
  • status persetujuan
  • apakah sudah dibagikan ke bagian terkait
  • hal-hal yang tertunda
  • langkah berikutnya
  • penanggung jawab
  • batas waktu

Kalau informasi tidak sampai, petugasnya tidak mungkin tahu. Karena itu, yang diperlukan bukan ketelitian pribadi, melainkan sistem yang membuat kondisi terlihat.

Inilah yang disebut bekerja.

Tapi Orang yang Cuma Ingin Berceramah Tidak Suka "Membuat Sistem"

Kalau memang ingin mencegah kejadian berulang, tinggal buat daftar, kelola tenggat, dan perjelas pembagian tanggung jawab.

Tapi orang yang cuma ingin berceramah biasanya kurang suka langkah konkret seperti ini.

Sebabnya, begitu ada sistem, terlihat siapa yang menahan.

Buat buku catatan pengelolaan. Tulis tenggatnya. Tulis penanggung jawabnya. Tulis status persetujuannya. Tulis hal yang tertunda. Tulis langkah berikutnya.

Lalu tiba-tiba semuanya kelihatan.

"Lho, siapa yang menahan berkas ini?" "Lho, siapa yang belum meneruskan persetujuan ini?" "Lho, apa yang diputuskan di rapat ini?" "Lho, dua jam itu menghasilkan kemajuan apa?"

Artinya, panggung ceramah selesai, dan tanggung jawab manajemen orang itu sendiri dimulai.

Makanya orang seperti ini suka sekali bilang "hati-hati", "sadar dong", "punya rasa tanggung jawab", tapi begitu muncul usul "kalau begitu kita catat di buku pengelolaan", "tentukan siapa yang memperbarui", "perjelas tenggatnya", "tunjukkan bola ada di tangan siapa", gerakannya mendadak jadi lamban.

Ini bukan perbaikan. Ini pura-pura memperbaiki.

Ceramah Bisa Jadi Hadiah bagi Orangnya

Kenapa orang bisa ketagihan berceramah dan menunjuk kesalahan?

Tentu tidak semuanya begitu. Ada juga yang menegur karena sungguh ingin bawahannya berkembang. Peringatan dan masukan yang perlu memang ada.

Masalahnya adalah ceramah yang tidak membawa perbaikan.

Bagi tipe orang ini, ceramah bukan pekerjaan, melainkan hadiah.

  • Ia bisa berada di atas
  • Ia bisa jadi pihak yang "paham"
  • Dengan merendahkan orang lain, ia merasa dirinya naik
  • Ia tidak perlu melihat pekerjaannya sendiri yang belum selesai
  • Ia merasa sedang bekerja
  • Ia bisa bergaya seperti atasan
  • Ia bisa sejenak melupakan hidupnya yang terasa belum tuntas

Singkatnya, ceramah bagi orang itu sudah menjadi cara murah untuk memulihkan harga diri.

Ini cukup merepotkan.

Sebab ia tidak ingin menyelesaikan masalah, ia ingin merasa enak setelah menunjuk kesalahan orang.

Kalau sudah begini, bawahan dan rekan tim bukan lagi teman kerja, melainkan alat pemulih pengakuan bagi orang itu.

Pamer Hierarki, Adu Gengsi, dan Menebus Hidup

Kalau struktur ini kita beri label sederhana, ada beberapa unsurnya.

1. Unsur "monyet": memastikan hierarki

Ia menunjuk kesalahan untuk memastikan "siapa yang di atas".

Memastikan hubungan atas-bawah lebih diutamakan daripada hasil kerja. Tujuannya bukan menang dengan logika, melainkan menciptakan suasana "aku di atas, kamu di bawah".

Ini bukan pekerjaan, melainkan pemastian hierarki.

2. Unsur adu gengsi: menjadikan kerja keras sebagai moral

"Aku lembur." "Aku tidak bisa ambil cuti." "Aku sudah susah payah." "Waktu aku muda, jauh lebih keras."

Entah kenapa, penderitaan semacam ini diubah menjadi keunggulan moral.

Padahal banyak lembur bukan tanda hebat. Tidak bisa ambil cuti juga bukan kisah yang patut dipuji. Itu bisa jadi masalah pengelolaan diri, pengaturan jadwal, penentuan prioritas, atau desain organisasi.

Orang yang menderita bukan yang hebat. Yang hebat adalah orang yang membuat pekerjaan maju.

3. Unsur menebus hidup: memulihkan penilaian diri di kantor

Kehidupan pribadinya tidak terasa penuh. Ia merasa hidupnya belum tuntas. Ia tidak percaya diri dengan prestasi dan kemampuannya. Tapi di kantor ia punya jabatan. Terhadap bawahan, ia bisa bersikap keras.

Maka kantor berubah jadi "arena menebus hidup".

Padahal tempat ini seharusnya untuk menjalankan pekerjaan, tapi malah dimulai acara pemulihan harga diri orang itu.

Ini benar-benar tidak perlu.

Kantor bukan tempat menambal kekurangan hidup pribadi siapa pun. Bawahan tidak ada untuk mengisi kekurangan pengakuan atasannya.

Orang yang Hanya Keras kepada yang Tampak Lemah

Yang lebih berat lagi adalah tipe yang memilih-milih lawan.

Kepada orang yang jabatannya lebih tinggi, ia tidak berani bicara. Kepada orang yang membalas dengan logika, ia tidak berani masuk. Orang yang bisa berdebat setara, ia hindari. Ia hanya keras kepada orang yang sulit membantah, sulit menolak, atau posisinya lemah.

Dalam hal ini, masalahnya bukan pada ciri lawannya. Usia, jenis kelamin, postur tubuh, atau latar pendidikan bukanlah kesalahan.

Masalahnya, tampak seperti ia memakai orang yang sulit membantah untuk memastikan keunggulan dirinya.

Atasan yang benar-benar bisa mengelola mampu memanfaatkan bahkan orang yang lebih pintar darinya, orang yang lebih muda dan lebih cakap, serta orang dengan keahlian berbeda.

Sebaliknya, makin belum matang seorang atasan, makin ia ingin dikelilingi orang yang tidak mengancamnya.

Itu bukan manajemen. Itu membangun panggung supaya ia nyaman berada di atas.

Yang Paling Buruk: Merendahkan Orang Lain demi Menjaga Diri

Hal paling buruk dari tipe ini adalah, urusannya tidak berhenti di kepuasan diri sendiri.

Kalau cuma dalam hati berpikir "aku sudah berusaha", "aku paham", bahayanya bagi sekitar masih kecil. Tapi mereka menjatuhkan orang lain. Merendahkan orang lain. Menjadikan jam lembur dan pengambilan cuti orang lain sebagai bahan. Memakai kesalahan dan kecemasan bawahan untuk menempatkan diri di atas. Hanya keras kepada orang yang sulit membantah.

Kalau sudah begini, ini bukan lagi sekadar kebutuhan akan pengakuan, melainkan perilaku yang membawa kerugian nyata bagi sekitar.

"Merendahkan orang lain demi menjaga diri." Struktur seperti ini benar-benar berat.

Seharusnya kecemasan, ketidakpuasan, rasa kurang terpenuhi, dan hidup yang belum tuntas diselesaikan di dalam kehidupan sendiri. Lewat hobi, istirahat, teman, atau berkonsultasi dengan ahli. Selesaikan di luar pekerjaan.

Tapi kalau semua itu dibawa ke kantor dan bawahan dipakai untuk memulihkan harga diri, seluruh tempat kerja jadi tercemar.

Orang-orang jadi ciut. Informasi tidak lagi naik ke atas. Kesalahan disembunyikan. Usulan perbaikan tidak muncul. Makin cakap seseorang, makin ia menjaga jarak. Yang tersisa hanya orang yang tahan diceramahi dan orang yang diam supaya tidak ditegur.

Ini bukan pekerjaan. Ini penghiburan diri ala kantor, untuk menjaga diri dengan merendahkan orang lain.

Kalau mau bicara keras, selesaikan sendiri saja. Jangan bawa ke kantor. Jangan seret orang lain. Jangan pakai bawahan. Jangan menggerus waktu dan mental orang lain dengan kepuasan diri yang berkedok pekerjaan.

Kantor Bukan Kelab Malam dan Bukan Ruang Konseling

Kalau mau bicara keras, begini:

Kantor bukan kelab malam tempat kamu memulihkan pengakuan (semacam bar di Jepang tempat orang membayar agar dilayani dan disanjung). Kantor juga bukan ruang konseling untuk mengolah emosimu.

Jangan mencoba memenuhi kebutuhan akan pengakuan di jam kerja. Jangan memulihkan harga diri lewat bawahan. Jangan merasa enak lewat ceramah. Jangan bawa hidup pribadimu yang belum tuntas ke hierarki kantor.

Kalau perlu, selesaikan di luar pekerjaan. Bercerita pada orang lain. Istirahat. Punya hobi. Ngobrol dengan teman. Berkonsultasi dengan ahli. Rapikan hidupmu sendiri.

Hal-hal itu sendiri tidak salah.

Tapi memakai bawahan atau rekan untuk menutup kekurangan pengakuanmu itu lain soal.

Perusahaan adalah tempat bekerja, bukan arena pertunjukan menebus hidup seseorang.

"Membimbing" dan "Main-main Berceramah" Itu Berbeda

Yang penting di sini adalah tidak menolak bimbingan itu sendiri.

Bimbingan yang diperlukan memang ada. Menegur kesalahan juga perlu. Menyampaikan standar juga perlu. Membina orang yang belum matang juga perlu.

Tapi bimbingan dan main-main berceramah itu berbeda.

Bimbingan

  • Tujuannya jelas
  • Perilaku berubah
  • Orangnya tahu apa yang harus dilakukan berikutnya
  • Tenggat, standar, dan peran ditunjukkan
  • Mengarah pada perkembangan orangnya dan perbaikan kerja
  • Perbaikan sistem ikut dipikirkan

Main-main Berceramah

  • Tujuannya kabur
  • Hanya merendahkan lawan bicara
  • Banyak kata abstrak seperti "kesadaran" dan "rasa tanggung jawab"
  • Tidak ada langkah berikutnya
  • Pekerjaan sendiri yang belum selesai tidak dilihat
  • Hanya yang menunjuk kesalahan yang merasa enak

Perbedaannya besar.

Bimbingan membuat pekerjaan maju. Main-main berceramah membakar waktu.

Kalau Rasa Aman Psikologis Hancur, Berbagi Informasi Makin Mati

Ketika ceramah, intimidasi, dan adu gengsi bertambah, informasi berhenti naik di tempat kerja.

Sebab orang yang bicara akan rugi.

Kalau bilang "ada masalah", dimarahi. Kalau bilang "saya tidak tahu", ditekan. Kalau bilang "informasinya belum sampai", dianggap cari alasan. Kalau bilang "ini masalah sistem", dianggap lari dari tanggung jawab.

Akhirnya orang memilih diam.

Hasilnya, masalah makin tidak terlihat. Kurangnya berbagi informasi mau diatasi dengan ceramah, malah makin parah.

Ini sama sekali berlawanan dengan tujuan.

Yang benar-benar dibutuhkan adalah suasana yang membuat orang mudah bicara, dan sistem yang membuat segalanya terlihat.

  • Bisa bilang tidak tahu
  • Hal yang belum diproses terlihat dalam satu daftar
  • Tentukan batas tanggung jawab
  • Tentukan tenggat
  • Tentukan siapa yang memperbarui
  • Jangan bergantung pada ingatan pribadi

Inilah yang disebut mengelola.

Cara Menghadapinya: Jangan Naik ke Panggung

Menghadapi orang yang "memulihkan diri lewat ceramah" seperti ini, membalas dengan argumen yang benar justru berbahaya.

Sebab yang diinginkan lawan bukan penyelesaian masalah, melainkan panggung untuk berceramah.

Kalau kamu bereaksi secara emosional, kamu ikut naik ke panggung itu.

Cukup tanggapi dengan sederhana.

1. Tinggalkan bukti

Catat "kapan, apa, dan kepada siapa kamu menyerahkannya".

Contoh:

Pada tanggal ○ bulan ○, saya menyusun usulan pencegahan agar tidak terulang dan menyerahkannya langsung di meja. Isinya: membuat status kontrak, keinginan orang yang bersangkutan, status persetujuan, dan hal yang tertunda terlihat per orang, serta memperjelas siapa yang memperbarui, kapan pengecekan dilakukan, dan batas tanggung jawab. Keputusan dan penerusan berkas setelah ini ditangani oleh kepala bagian.

2. Perjelas batas peranmu

Saya bisa menyiapkan contoh format dan usulan kolomnya. Tapi kalau penanggung jawab pengelolaan, petugas pembaruan, dan waktu pengecekan tidak ditentukan, saya khawatir kita akan bergantung pada satu orang lagi.

3. Jangan ikut dalam perdebatan soal kesadaran pribadi

Menurut saya, bukan hanya perhatian pribadi yang dibutuhkan, tapi juga cara agar pihak terkait bisa melihat kondisinya.

4. Jangan mengejar

Materi sudah diserahkan. Usulan sudah diajukan. Batas peran juga sudah disampaikan.

Dari titik itu, penerusan berkas, keputusan, dan urutan prioritas adalah pekerjaan pihak manajemen.

Kalau kamu terus-menerus memungut semuanya, kita kembali ke struktur "yang mampu menambal lubang".

Kesimpulan

Orang yang cuma ingin berceramah dan menunjuk kesalahan tampak seperti sedang bekerja, padahal mungkin hanya sedang memulihkan dirinya.

Adu gengsi. Memastikan hierarki. Menambal hidup yang terasa belum tuntas. Melampiaskan kebutuhan akan pengakuan. Menghindari tanggung jawab. Berpura-pura sedang mengelola.

Semua itu kadang muncul di kantor dengan wajah "bimbingan".

Tapi kantor bukan tempat pemulihan harga diri orang itu. Bawahan tidak ada untuk mengisi kekurangan pengakuannya. Perusahaan bukan kelab malam dan bukan ruang konseling.

Yang benar-benar dibutuhkan bukan ceramah.

  • Prioritas
  • Pengelolaan tenggat
  • Berbagi informasi
  • Batas peran
  • Membuat segalanya terlihat
  • Tanggung jawab memperbarui
  • Kesadaran akan biaya tenaga kerja
  • Mencegah terulang lewat sistem

Inilah yang disebut bekerja.

Kalau ada waktu untuk merasa enak lewat ceramah, lebih baik jalankan berkas. Kurangi rapat yang sia-sia. Tunjukkan bola ada di tangan siapa. Jangan menekan orang yang mengambil cuti. Jangan jadikan jam lembur sebagai kehormatan. Jangan pakai bawahan untuk menebus hidupmu.

Kerja yang benar.


Bagikan artikel ini

Iklan

Satu lagi? Ada yang seru?

Mumpung sudah selesai membaca: beberapa cerita yang mirip dan beberapa yang beda sama sekali tapi seru.

  1. Topik serupaPulang kerja, makan, lalu tidur berjam-jam?Mungkin bukan malas, tapi "defisit waktu pemulihan"
  2. Kebahagiaanku 75 dari 100apakah aku termasuk orang "tidak bahagia" di Jepang?
  3. Beda sama sekali, tapi seruMengapa Malatang Populer?Permainan Tekstur yang Diselamatkan Kuah
  4. Haruskah Pakai Merek Mahal agar Terlihat Menarik?Strategi Fashion Pria Murah, Praktis, dan Dimulai dari Celana yang Membuat Kaki Terlihat Lebih Rapi
  5. Tubuh manusia ribet bangetkenapa tidak ada satu stat “stamina +1”?
  6. Kok Pertunjukan Kapibara Seru Padahal Tidak Bisa Diharapkan?

Baca ini hari ini

Masing-masing menjawab pertanyaan yang biasanya muncul setelah membaca artikel ini.

Lihat semua artikelLebih banyak tentang Pekerjaan

Cari artikel lain

Semua artikel

Mendoi-chan

Pengelola situs

Mendoi-chan

Mengubah kerepotan di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari menjadi struktur yang jelas dan langkah berikutnya.