Dari penilaian kinerja yang terasa seperti ritual, sampai aku ingin cari uang sendiri
Tengah malam, sambil jalan kaki, aku masih saja memikirkan perusahaan dan cara kerja organisasi.
Kenapa orang resign? Bagaimana memisahkan mana masalah si karyawan dan mana masalah atasan atau lingkungan? Kalau karyawan yang masuk di tengah karier tidak bisa beradaptasi, apa yang kurang dari pihak yang menerimanya? Kenapa perusahaan seperti yang dilihat manajemen bisa beda jauh dengan perusahaan yang benar-benar berjalan di lapangan? Kalau setiap masalah dikembalikan ke sikap individu, kapan perusahaan akan belajar?
Aku membongkar pertanyaan-pertanyaan ini dari berbagai sudut, lalu menyambungkannya di kepala.
Tapi yang harus kuisi di lembar penilaian internal justru hal-hal seperti: pembuatan video, standardisasi, pengaruh terhadap orang sekitar, kesadaran akan peran, dan kesan yang kutampilkan.
Tentu saja, membuat video dan buku panduan standar itu memang fakta. Itu juga hasil kerja yang mudah dijelaskan perusahaan.
Tapi bagiku, membuat video itu bukan intinya.
Intinya adalah aku memikirkan
- kenapa pelatihan bergantung pada siapa yang kebetulan mengajar
- apa yang perlu diseragamkan, dan apa yang sebaiknya diserahkan pada keputusan orang di lapangan
- sampai seberapa rinci pengetahuan harus dipecah supaya orang lain bisa mengulanginya
- bagaimana mengubah maksud manajemen menjadi cara kerja yang benar-benar jalan di lapangan
lalu memilih video dan buku panduan sebagai alat praktis untuk mewujudkannya.
Begitu lewat lembar penilaian, semua itu diringkas jadi "orang yang bisa bikin video", "orang yang mendorong standardisasi", dan "orang yang perlu lebih memperhatikan sekitarnya".
Bukan peringkasannya yang mengganggu.
Yang paling kubenci adalah gambaran hasil ringkasan itu diperlakukan sebagai diriku yang resmi, lalu berdasarkan gambaran itu dibagikanlah pekerjaan, peran, promosi, gaji, bahkan kesempatan pengalaman berikutnya.
1. Kalau cuma "tidak dipahami", aku masih bisa tahan
Wajar kalau orang lain tidak bisa memahamiku sepenuhnya.
Setiap orang melihat dari tempat yang berbeda.
Penilai melihat dari posisi penilai. Orang lapangan melihat dari lapangan. Dan aku punya latar belakang serta alasan pengambilan keputusan yang hanya aku sendiri yang tahu.
Jadi menuntut "pahamilah seluruh diriku" memang tidak realistis.
Rasa tidak nyaman kali ini juga bukan sekadar karena tidak dipuji atau kecerdasanku tidak diakui.
Masalahnya, kurangnya pemahaman itu disertai wewenang.
Meskipun jangkauan pengamatan penilai sempit, dia punya kuasa untuk menentukan
- apa yang dipercayakan kepadaku
- seberapa besar kewenangan yang diberikan
- kemampuan apa yang menurutnya perlu kukembangkan
- apakah aku masuk kandidat promosi
- seberapa besar gajiku dinaikkan
- apakah aku boleh mencoba pekerjaan level lebih tinggi
Artinya, alurnya begini:
Pengamatannya belum cukup
↓
Dibentuk gambaran seseorang dari informasi terbatas
↓
Gambaran itu jadi penilaian resmi
↓
Berdasarkan penilaian itu, pilihan masa depan dibagikan
Ini bukan sekadar salah paham.
Batas persepsi orang lain diubah menjadi batas ruang geraku.
2. Apa benar orang-orang di sekitarku beresolusi rendah?
Di sini sebaiknya jangan menyimpulkan hanya dengan emosi.
Memutuskan bahwa "cuma aku yang melihat intinya dan yang lain tidak mikir apa-apa" bisa jadi resolusi rendah juga, hanya arahnya terbalik.
Orang-orang di sekitarku juga punya kemampuan lain.
- Membaca "suhu" hubungan antarorang
- Menyeimbangkan kepentingan tak terucap
- Menyelesaikan urusan tanpa menghentikan lapangan
- Menghindari bahaya lewat aturan praktis dari pengalaman
- Menakar berapa banyak informasi yang bisa diterima lawan bicara
- Memilih ungkapan yang laku di dalam organisasi
Ini kemampuan yang berbeda dari analisis struktur.
Jadi cara menyusunnya yang adil bukanlah
aku unggul di semua hal, yang lain rendah di semua hal.
Yang lebih tepat:
Aku cukup kuat dalam memisahkan individu, hubungan, lingkungan, aturan, data, dan persepsi manajemen, lalu menyambungkannya menjadi satu model sebab-akibat. Sementara penilai kali ini dan cara penilaian dijalankan hampir tidak mengamati kemampuan itu.
Dalam berpikir kompleks, ada "diferensiasi", yaitu membedakan berbagai sudut pandang, dan "integrasi", yaitu menghubungkannya satu sama lain.
Dalam penelitian, struktur berpikir yang membedakan sekaligus menghubungkan sudut pandang yang berbeda ini kadang disebut kompleksitas integratif (integrative complexity).
Yang penting bukan sekadar menyebut banyak poin.
Yang penting adalah mempertahankan faktor-faktor yang saling bertentangan, lalu menyusun apa yang terjadi pada kondisi tertentu.
Itulah yang kulakukan ketika melihat kasus orang yang keluar dari perusahaan.
3. Sejauh mana melihat satu kasus pengunduran diri?
Misalnya ada karyawan yang masuk di tengah karier, tidak mencatat, minta dipindahkan, lalu mulai condong untuk keluar.
Kalau hanya melihat permukaan, ceritanya selesai begini:
- Dia tidak mencatat
- Tidak bisa menguasai pekerjaan
- Minta dipindahkan
- Itu manja
- Itu masalah dia sendiri
Bisa jadi memang ada masalah perilaku dari orangnya.
Kalau tidak mencatat menghambatnya menguasai pekerjaan, bagian itu tetap tanggung jawabnya.
Tapi aku tidak menutupnya dengan 100 banding 0.
Faktor-faktor berikut juga kupisahkan.
Faktor individu
- Tidak mencatat
- Tidak menanyakan atau mengecek atas inisiatif sendiri
- Tidak melakukan tindakan belajar yang diperlukan
- Harapannya tidak cocok dengan isi pekerjaan
Faktor hubungan
- Apakah ini hubungan di mana bertanya malah dimarahi?
- Apakah atasannya senang kalau ada yang mengonfirmasi sesuatu?
- Apakah dia pernah ditolak ucapannya di masa lalu?
- Apakah sudah terbentuk hubungan yang memungkinkan dia minta tolong ke sekitarnya?
Faktor lingkungan
- Apakah peran dan harapan jelas?
- Apakah dia bisa mengakses informasi yang dibutuhkan?
- Apakah ada onboarding (pendampingan agar orang baru bisa menyesuaikan diri) untuk karyawan yang masuk dengan pengalaman?
- Apakah ada waktu untuk bertanya dan mencoba-coba?
- Apakah kekurangan orang atau beban kerja berlebihan?
Kaitan dengan data
- Apakah karyawan lain yang masuk dengan pengalaman juga keluar lebih awal?
- Apakah terpusat di departemen atau di bawah atasan tertentu?
- Berapa tingkat keluar untuk yang resign sebelum genap setahun?
- Apakah tanda-tanda awal seperti minta pindah atau cuti sakit terus berulang?
Keterputusan dengan persepsi manajemen
- Apakah manajemen hanya mempermasalahkan sikap orangnya?
- Apakah mereka tahu bagaimana orang baru benar-benar diterima di lapangan?
- Apakah mereka mempertimbangkan bahwa orang berpengalaman dari perusahaan lain mungkin mendeteksi keanehan lebih cepat?
- Apakah mereka hanya mencocokkannya dengan cerita lama bahwa "anak zaman sekarang lembek"?
Pembelajaran organisasi
- Apakah setiap resign ditutup dengan "salah orangnya"?
- Apakah hal yang sama terulang di departemen yang sama?
- Apakah analisis penyebabnya dipakai untuk perekrutan, penempatan, dan pelatihan berikutnya?
- Apakah sistemnya membuat informasi yang tidak enak bagi manajemen tidak pernah naik?
Kalau semuanya disambungkan sampai di sini, aku bukan sedang membela satu karyawan.
Aku mempertahankan tanggung jawab orangnya, sambil mencari variabel yang bisa diperbaiki perusahaan.
Ini bukan sekadar empati, bukan juga kritik.
Ini diagnosis organisasi supaya hal serupa tidak terulang.
4. Yang sedikit orang bisa: bukan tahu topiknya, tapi menyambungkannya
Banyak orang tahu istilah-istilahnya satu per satu.
- Rasa aman psikologis
- Tingkat turnover
- Onboarding
- Keterlibatan karyawan (engagement)
- Manajemen
- Pembelajaran organisasi
Tapi membicarakan masing-masing secara terpisah itu beda dengan menyambungkannya lintas lapisan pada kejadian nyata.
Kebanyakan analisis berhenti di tengah jalan.
| Tahap analisis | Kesimpulan yang lazim |
|---|---|
| Perilaku di permukaan | Salah orang yang tidak mencatat |
| Mempertimbangkan perasaan | Cara bicara atasan juga bermasalah |
| Faktor lingkungan | Rasa aman psikologisnya rendah |
| Faktor aturan | Ada masalah di cara menerima karyawan berpengalaman |
| Kaitan dengan data | Karyawan seperti itu banyak yang keluar cepat |
| Kaitan dengan manajemen | Persepsi manajemen dan kenyataan di lapangan tidak nyambung |
| Pembelajaran organisasi | Kebiasaan menutup semuanya sebagai kesalahan individu itulah yang membuat masalah terulang |
Aku cenderung memikirkannya sampai tahap paling akhir.
Dan aku terus memikirkannya juga di luar jam kerja.
Saat jalan kaki, saat mandi, sebelum tidur, aku menyambungkannya dengan kasus lain dan memperbarui modelnya.
Perbedaan kemampuan ini bukan hanya soal sifat kognitif, tapi juga soal jumlah waktu yang kutanam.
Aku juga tidak perlu menjelaskannya dengan tipe kepribadian seperti INTP.
- Minat pada struktur dan sebab-akibat
- Kebiasaan tidak puas dengan satu penjelasan
- Kepekaan terhadap kontradiksi dan sikap lempar tanggung jawab
- Pengalaman lintas pengadaan, SDM, pelatihan, dan perbaikan proses kerja
- Waktu panjang untuk merenung dan memperbarui model
Semua itu menumpuk.
Jadi daripada bilang "aku jenius dan yang lain rendah", lebih masuk akal kalau dikatakan:
Di bidang masalah tertentu, aku punya lebih banyak sudut pandang, integrasi yang lebih dalam, dan total waktu berpikir yang jauh lebih besar.
5. Lembar penilaian beresolusi rendah itu sendiri tidak buruk
Lembar penilaian punya fungsi yang sah.
Kemampuan dan cara berpikir seseorang tidak mungkin dicatat apa adanya.
Supaya bisa dijalankan sebagai sistem, memang perlu diringkas sampai batas tertentu.
- Bisa dibaca dalam waktu singkat
- Bisa dibagi antarpenilai
- Berdasarkan perilaku yang bisa diamati
- Bisa dipakai untuk menetapkan target
- Bisa ditinjau kembali nanti
- Bisa disimpan sebagai catatan SDM
Karena itu, wajar kalau penjelasan panjang seperti
mengintegrasikan individu, lingkungan, aturan, dan persepsi manajemen untuk menemukan penyebab berhentinya pembelajaran organisasi
diubah menjadi tindakan seperti
mengumpulkan informasi dari pihak terkait
menyusun masalah secara terstruktur
mengusulkan perbaikan
mewujudkannya dalam buku panduan dan video
Penelitian tentang penilaian juga menjelaskan bahwa hasil penilaian bukan pembacaan langsung dari "kemampuan sebenarnya", melainkan dipengaruhi proses berpikir penilai, jangkauan pengamatannya, tujuannya, dan konteksnya.
Jadi lembar penilaian yang tidak menampilkan seluruh diri seseorang itu, lebih tepat disebut keterbatasan sistem daripada cacat sistem.
Masalahnya bukan pada peringkasan.
Apakah sebelum meringkas ada pengamatan dan dialog yang cukup? Apakah hasil ringkasan diperlakukan sebagai hipotesis yang bisa dikoreksi? Apakah hasilnya dicegah mengeras menjadi batas atas kemampuan orangnya?
Itulah yang penting.
6. Batas antara "penerjemahan" dan "ritual"
Penilaian yang efektif punya siklus seperti ini:
Mengamati secara konkret di lapangan
↓
Mendengar informasi yang dimiliki orangnya dan alasan keputusannya
↓
Mencocokkan hipotesis penilai dengan penjelasan orangnya
↓
Menurunkannya menjadi tugas perilaku yang konkret
↓
Memberikan wewenang, pekerjaan, dan dukungan yang diperlukan
↓
Mengamati hasil pelaksanaannya
↓
Memperbarui gambaran tentang orangnya dan tugas yang ditetapkan
Kalau begitu, lembar penilaian menjadi alat penerjemah yang mendorong pengembangan.
Sebaliknya, kalau sudah jadi ritual, yang terjadi begini:
Gambaran orang dibentuk tanpa melihat lapangan dengan cukup
↓
Diubah menjadi kata abstrak seperti "inisiatif", "pengaruh ke sekitar", "kesadaran peran"
↓
Orangnya disuruh menulis ulang teks berkali-kali
↓
Catatan bahwa bimbingan sudah dilakukan ditinggalkan
↓
Peran, kewenangan, pekerjaan, dan dukungan tidak berubah
↓
Gambaran awal juga tidak diperbarui
Dalam keadaan ini, penilaian bukan lagi pengembangan, melainkan lebih dekat ke kegiatan untuk melengkapi tampilan bahwa sistem sudah dijalankan.
Yang membuat "sensor basa-basi" dalam diriku bereaksi kali ini bukanlah keberadaan lembar penilaiannya.
Tapi karena beberapa kondisi ini bertumpuk:
- Penilai belum cukup melihatku langsung di lapangan
- Masukannya bukan perilaku konkret, melainkan penilaian abstrak tentang pribadi
- Meski aku menjelaskan alasan keputusanku, model penilaiannya tidak diperbarui
- Merevisi lembar penilaian sudah jadi kegiatan utama
- Ceritanya jadi orang yang sama masih mengurusiku bahkan setelah aku dipindahkan
- Pekerjaan itu tidak tersambung ke wewenang baru atau kesempatan pengalaman
Jadi ungkapan yang paling netral adalah:
Sistem penilaian itu sendiri punya logika mengubah kemampuan yang kompleks menjadi perilaku yang bisa diamati. Tapi dalam penerapan kali ini, gambaran abstrak mendahului pengamatan dan dialog penilai yang kurang, dan merevisi lembar penilaian jadi tujuan itu sendiri, sehingga bagiku ini lebih mirip ritual daripada pengembangan.
Ini lebih akurat daripada menyatakan "semuanya sandiwara".
7. Kalau aku tidak menunjukkan informasi, wajar kalau tidak dinilai?
Di sini ada ketimpangan informasi.
Informasi yang kupegang dan informasi yang dilihat penilai berbeda.
Lagi pula, aku sendiri tidak membuka semua informasi yang kumiliki.
Tapi ada alasan kenapa aku tidak membukanya.
Membuka informasi itu ada biayanya
- Sudah dijelaskan pun tidak dipahami
- Langsung ditolak sepihak
- Pembicaraan berubah menjadi soal sikap atau karakter
- Cuma diberi tambahan pekerjaan dan tanggung jawab
- Diminta penjelasan yang panjang
- Ikut rapat berarti rugi waktu dan tenaga
- Dianggap sebagai orang yang mengangkat masalah
- Ucapanku diterjemahkan jadi arti lain
Di lingkungan seperti ini, tidak mengeluarkan informasi bukan sekadar pasif.
Itu juga cara melindungi sumber dayaku, berdasarkan bagaimana orang bereaksi sebelumnya.
Ada penelitian tentang kenapa karyawan menyampaikan pendapat dan kekhawatiran, atau memilih diam, dan itu tidak hanya soal kepribadian, tapi juga terkait perkiraan akibat setelah bicara, keterbukaan atasan, dukungan organisasi, rasa aman psikologis, dan lainnya.
Jadi belum tentu benar bahwa
tidak cukup membagikan informasi
= tidak punya inisiatif
= tidak memperhatikan sekitar
Justru bisa terjadi siklus seperti ini:
Tercipta lingkungan yang sulit untuk membuka informasi
↓
Informasi berhenti keluar
↓
Perilaku yang terlihat oleh penilai berkurang
↓
Dinilai "tidak punya inisiatif dan pengaruh ke sekitar"
Ini struktur di mana organisasi menurunkan keterlihatan, lalu menilai kekurangan pengamatan itu sebagai kekurangan kemampuan orangnya.
8. Yang tidak terlihat diperlakukan seolah tidak ada
Penilai tidak melihat itu tidak sama dengan orangnya tidak memikirkan.
- Tidak bicara di rapat
- Tidak membagikan secara luas ke orang sekitar
- Tidak angkat tangan dan maju ke depan
- Tidak sering berkonsultasi ke atasan
Kalau hanya melihat perilaku itu, mungkin tampak seperti kurang inisiatif.
Tapi di sisi orangnya, bisa jadi dia sedang memikirkan hal-hal seperti ini:
- Tujuan rapatnya tidak jelas, jadi ikut rapat itu rugi
- Meski bicara, tidak masuk ke keputusan
- Dalam hubungan ini, membuka informasi yang kupunya tidak ada untungnya
- Masalahnya sudah ditangani dengan cara lain
- Kalau ikut campur tanpa wewenang, tanggung jawab saja yang bertambah
- Sedang menimbang prioritas terhadap pekerjaan penting lainnya
- Karena pengalaman ditolak di masa lalu, dia menahan diri untuk bertanya atau mengonfirmasi
Kalau tidak dikonfirmasi dulu lalu "yang tidak terlihat dianggap tidak ada", penilaiannya akan melenceng jauh.
Semakin sedikit penilai melihat lapangan, semakin dia bergantung pada perilaku yang mudah diamati.
- Jumlah kali berbicara
- Kehadiran di rapat
- Menyapa dan mengajak bicara
- Tampilan dokumen
- Reaksi terhadap instruksi
- Semangat di depan atasan
Semua ini mudah dipahami, tapi hanyalah indikator pengganti dari kemampuan secara keseluruhan.
Penelitian tentang penilaian juga menunjukkan bahwa reputasi kerja dan penilaian orang lain bisa mencakup bukan hanya kemampuan dan hasil sebenarnya, tetapi juga perilaku yang ditampilkan secara selektif kepada penilai serta bias kognitif yang dianut bersama.
Terlihat dan bernilai itu bukan hal yang sama.
9. Kenapa terasa seperti "dijual murah"
Kalau penilaiannya hanya kasar, aku bisa menanggapinya sekadar formalitas lalu selesai.
Alasan penolakannya kuat adalah karena penilaian itu merembet ke masa depan.
Penilaian beresolusi rendah
↓
Hanya diberi peran kecil
↓
Tidak bisa menumpuk pengalaman mengambil keputusan di level lebih tinggi
↓
Prestasi resmi yang bisa ditulis di CV tidak bertambah
↓
Di pasar tetap diperlakukan sebagai orang tanpa pengalaman
↓
Gaji dan pilihan tidak bertambah
Kalau dipikirkan begini, penilaian bukan sekadar kesan.
Ia adalah alat pembagi kesempatan pengalaman.
Video dan buku panduan memang salah satu bukti kemampuanku.
Tapi kalau gambaran orangnya dikunci hanya dari itu, hal-hal berikut lenyap dari penilaian:
- Kemampuan mendiagnosis struktur pekerjaan
- Kemampuan menyambungkan informasi dari beberapa departemen
- Kemampuan memisahkan faktor individu dan faktor lingkungan
- Kemampuan menemukan keterputusan antara manajemen dan lapangan
- Kemampuan menemukan struktur yang membuat pembelajaran organisasi berhenti
Hanya dari hasil di ujung, kemampuan diagnosis dan perancangan di hulu ikut diberi harga.
Karena itulah muncul perasaan "dijual murah".
Lebih tepatnya, rasa janggal ini:
Aku merasa membawa fungsi yang mahal, tapi penilai yang tidak bisa mengamatinya menempatkanku pada kegunaan murah yang mudah terlihat.
10. Kemampuan yang kurang dimanfaatkan, dan rasa tidak suka yang menyertainya
Satu hal yang perlu diperhatikan di sini adalah soal apakah kemampuanku bisa dibuktikan secara objektif.
Meski aku merasa levelku tinggi, bagi pasar atau organisasi bisa saja pengalaman formal dan hasilnya masih kurang.
Memang, kalau aku melamar ke posisi DX (transformasi digital), perusahaan IT besar, atau product owner (penanggung jawab produk) lalu ditolak, bisa jadi pasar saat ini melihat kurangnya bukti praktik dalam hal seperti
- tanggung jawab atas produk
- merumuskan kebutuhan pelanggan
- menentukan prioritas
- mengelola KPI (angka yang dipakai untuk mengukur hasil)
- bekerja sama dengan tim pengembang
- penerapan sistem
- tanggung jawab atas anggaran dan hasil
Itu bisa kupahami.
Pasar tidak bisa membeli isi kepalaku secara langsung.
Pasar menilai risiko dari apa yang pernah dipercayakan kepadaku dan hasil apa yang pernah kuraih.
Karena itu, wajar kalau aku diberi harga berdasarkan pengalaman yang sudah terbukti: pengadaan, VBA (makro Excel), standardisasi, dan perancangan pelatihan.
Meski begitu aku tetap tidak nyaman, karena arahnya sudah kelihatan tapi bentuk pengalaman kerjaku belum menyusul.
Penelitian telah merangkum bahwa persepsi kemampuan yang kurang dimanfaatkan, yaitu merasa keterampilan melebihi kebutuhan pekerjaan, berkaitan dengan sikap terhadap pekerjaan, niat keluar, kesejahteraan, dan hasil karier.
Namun ini tidak membuktikan bahwa "aku benar-benar luar biasa unggul".
Yang penting adalah aku merasakan kesenjangan besar antara kemampuan yang kumiliki dan peran yang kuterima sekarang.
Dan kalau kesenjangan itu dikunci oleh penilaian beresolusi rendah dari atasan, penolakan di dalam diriku makin kuat.
11. Kenapa ingin cari uang sendiri
Kalau terus memikirkan masalah ini, aku jadi ingin cari uang sendiri.
Alasannya sederhana.
Aku tidak mau penetapan harga atas nilaiku dipegang oleh satu orang penilai.
Di perusahaan, jalur penilaian itu terbatas.
- Atasan mengamati
- Diubah menjadi lembar penilaian
- Disesuaikan di rapat
- Tercermin di golongan dan gaji
- Pekerjaan berikutnya dibagikan
Kalau orang di jalur itu tidak bisa mengamati kekuatanku, nilaiku tidak berubah jadi uang.
Kalau cari uang sendiri, setidaknya jalur penilaian bisa disebar.
- Pelanggan yang membeli produk
- Pengguna aplikasi
- Orang yang membaca artikel
- Tingkat penggunaan berkelanjutan
- Penjualan
- Pertanyaan masuk
- Rekomendasi
- Kunjungan dari mesin pencari
- Beberapa pasar
Meski satu atasan tidak paham, mungkin ada orang lain yang membeli.
Penilai bisa dipilih ulang.
Selain itu, aku sendiri bisa menentukan
- apa yang diperlakukan sebagai masalah
- kemampuan apa yang digabungkan
- apa yang dijadikan produk
- berapa harga yang dipasang
- seberapa banyak waktu yang diinvestasikan
- apa yang diperbaiki kalau gagal
Ini bukan hanya soal penghasilan.
Ini soal kebebasan menentukan sendiri untuk apa kemampuanku dipakai, berapa label harganya, dan pengalaman apa yang kudapat.
12. Pasar individu juga tidak beresolusi tinggi
Tentu, cari uang sendiri tidak berarti semuanya akan dipahami.
Malah pasar itu beresolusi cukup rendah.
Pelanggan tidak membeli kompleksitas integratifku atau kemampuan diagnosis organisasiku itu sendiri.
Yang dilihat pelanggan adalah
- apa yang jadi lebih mudah
- berapa jam yang terhemat
- berapa keuntungannya
- apa yang bisa dicegah
- apakah bisa langsung dipakai
- apakah lebih mudah dimengerti daripada produk lain
Karena itu, di pasar individu pun kemampuan tingkat tinggi harus diterjemahkan menjadi nama produk yang sederhana.
Misalnya, meski intinya analisis proses kerja tingkat tinggi, di permukaan jadinya seperti ini:
- Membuat buku panduan standar Excel secara otomatis
- Templat untuk mencegah hal tercecer saat serah terima pekerjaan
- Laporan persiapan wawancara per perusahaan
- Alat yang menyusun kerangka video pelatihan
- Diagnosis hambatan pada proses kerja internal
- Aplikasi untuk menilai dokumen rekrutmen
Di pasar pun terjadi peringkasan.
Bedanya dengan perusahaan, versi ringkasan itu tidak dikunci sebagai batas atas kemampuanku.
Di perusahaan, cenderung begini:
Membuat video
= orang yang bertugas membuat video dan standardisasi
Dalam usaha sendiri, bisa kubuat jadi:
Menjual dukungan pembuatan video sebagai produk
= kali ini aku memakainya sebagai pintu masuk
Meski produknya sederhana, di baliknya aku bebas memasukkan berbagai kemampuan.
Peringkasan bukan lagi penilaian, melainkan antarmuka untuk berjualan.
13. Cari uang sendiri bukan "mencari orang yang memahamiku"
Jalan cari uang sendiri juga jangan terlalu diidealkan.
Pelanggan memutuskan lebih cepat daripada atasan.
Melihat halaman produk beberapa detik lalu pergi. Penjelasan canggih tidak dibaca. Yang berguna pun bisa tidak laku. Masalah yang kusukai dan masalah yang dibayar pelanggan tidak selalu sama.
Jadi cari uang sendiri bukanlah
mencari orang yang memahami kedalamanku.
Melainkan
mengubah kemampuan pemrosesanku yang dalam menjadi bentuk yang mudah diambil nilainya oleh orang lain, dan memilih sendiri cara pengubahan serta pasar yang menilainya.
Baik di perusahaan maupun di pasar, penerjemahan itu perlu.
Yang kubenci bukan penerjemahannya.
Yang kubenci adalah versi terjemahan diperlakukan sebagai aslinya, lalu nilai dan masa depan versi aslinya ikut dibatasi.
Kalau cari uang sendiri, aku bisa tetap memegang aslinya sambil mencoba beberapa versi terjemahan.
Ini besar artinya.
14. Cara realistis menghadapi penilaian ini
Aku tidak perlu membenahi seluruh sistem hanya karena penilaian kali ini.
Kalau pemindahan sudah diputuskan dan pencarian kerja baru juga sedang berjalan, aku perlu memikirkan waktu yang dikeluarkan dan apa yang kembali.
Pisahkan teks terjemahan untuk perusahaan dari definisi kemampuan versiku sendiri
Di lembar penilaian, aku menulis dengan kata-kata yang bisa dibaca perusahaan.
- Fakta
- Angka
- Tindakan yang dilakukan
- Prosedur yang bisa diulang
- Tindakan konkret berikutnya
Tapi aku tidak menganggapnya sebagai gambaran utuh diriku.
Konkretkan masukan yang abstrak
Bukan "perhatikan sekitar", tapi dikembalikan ke
- pada situasi apa
- terhadap siapa
- melakukan apa
- sampai kapan
- seberapa banyak
- apa yang dihitung sebagai perbaikan
Jangan bertarung untuk membuat mereka memperbaiki gambaran tentangku
Menjelaskan seluruh pemikiranku yang rumit kepada penilai yang tidak melihat lapangan itu mahal.
Kalau membuat mereka paham jadi tujuan itu sendiri, kerugiannya makin besar.
Dokumen yang wajib dikumpulkan kuloloskan, dan hasil resmiku kusimpan sendiri secara terpisah.
Simpan "aslinya" milikku sendiri
Terpisah dari lembar untuk perusahaan, aku mencatat
- struktur masalah yang kutemukan
- informasi yang dipakai dalam analisis
- pilihan yang kupertimbangkan
- cara yang kuterapkan
- hasil dalam angka
- kemampuan yang bisa diulang
- unsur yang bisa dibawa ke jenis pekerjaan berikutnya
Ini jadi bahan untuk pindah kerja, pengembangan pribadi, artikel, dan perancangan produk.
15. Kesimpulan yang paling adil
Kalau rasa janggal kali ini dinyatakan sedatar mungkin, jadinya begini:
Aku punya kemampuan dan kebiasaan yang kuat dalam memikirkan masalah organisasi dengan memisahkan individu, hubungan, lingkungan, aturan, data, dan persepsi manajemen, lalu menyambungkannya. Orang-orang di sekitarku belum tentu berkemampuan rendah secara umum; mereka punya kemampuan praktis yang lain. Sementara penilaian kali ini tidak mengamati fungsi terkuatku dengan cukup, dan meringkasnya jadi butir-butir yang mudah dipahami penilai seperti video, standardisasi, dan pengaruh ke sekitar. Peringkasan itu sendiri memang perlu dalam sebuah sistem, tapi karena pengamatan dan dialognya kurang, dan pekerjaan merevisi tidak tersambung ke peran, kewenangan, atau kesempatan pengalaman, bagiku ini tampak lebih seperti ritual daripada pengembangan.
Dan inti dari rasa tidak nyaman ini adalah:
Aku benci kalau penilai beresolusi rendah mengubah kemampuanku menjadi indikator beresolusi rendah, lalu memakai hasil konversi itu untuk membagikan pekerjaan, peran, promosi, gaji, bahkan kesempatan pengalaman berikutnya.
Kalau ditambah masalah informasi:
Aku tidak mau batas jumlah informasi yang bisa kutunjukkan kepada penilai diperlakukan sebagai batas kemampuan, motivasi, dan potensiku.
Ini bukan "aku ingin dipuji lebih banyak".
Ini tuntutan agar kebebasanku di masa depan tidak dipersempit oleh gambaran yang dibuat dari pengamatan terbatas.
Itulah kenapa penilaian itu tampak seperti ritual.
Itulah kenapa aku lebih ingin mencurahkan waktu untuk mencari kerja daripada berinvestasi tambahan agar perusahaan memahamiku.
Dan pada akhirnya, itulah kenapa aku ingin cari uang sendiri: untuk menentukan sendiri kegunaan kemampuanku, label harganya, dan kesempatan pengalamannya.
Cari uang sendiri bukan kebebasan dari penilaian siapa pun.
Pasar menilai dengan keras.
Tapi jalur penilaian tidak dimonopoli oleh satu atasan.
Aku bisa meluncurkan beberapa produk. Aku bisa mencobanya ke beberapa pelanggan. Aku bisa mengubah harga. Aku bisa belajar sendiri dari kegagalan. Aku bisa memilih pengalaman berikutnya.
Yang kucari bukan kebebasan dari penilaian.
Tapi kebebasan untuk memilih pasar yang menilaiku.
Poin penting
- Bukan berarti semua orang di sekitarku beresolusi rendah, tetapi penilaian kali ini tidak menangkap kemampuan analisis struktur berlapisku.
- Lembar penilaian meringkas kemampuan itu wajar adanya.
- Masalahnya, tanpa pengamatan dan dialog yang cukup, gambaran hasil ringkasan diperlakukan sebagai batas atas kemampuan.
- Di balik tidak membuka informasi ada faktor lingkungan: hubungan, rasa aman psikologis, untung-rugi ikut rapat, dan tanggung jawab tambahan.
- Kalau perilaku yang tidak terlihat dianggap kemampuan yang tidak ada, batas pengamatan penilai berubah menjadi batas atas karier orangnya.
- Video dan buku panduan bukan kemampuan inti, melainkan salah satu cara mewujudkan perancangan organisasi dan pekerjaan.
- Kalau penilaian tidak tersambung ke peran, kewenangan, dukungan, dan kesempatan pengalaman, ia mudah menjadi ritual, bukan pengembangan.
- Ingin cari uang sendiri karena tidak mau penetapan harga nilaiku dimonopoli satu penilai.
- Di pasar individu pun perlu penerjemahan, tetapi versi terjemahan tidak perlu dijadikan batas atas kemampuanku.
- Yang kucari bukan tidak dinilai, melainkan bisa memilih pasar yang menilai.
Referensi
Pulakos, E. D., Mueller-Hanson, R. A., & Arad, S. (2019).
The Evolution of Performance Management: Searching for Value.
Annual Review of Organizational Psychology and Organizational Behavior.
https://www.annualreviews.org/doi/10.1146/annurev-orgpsych-012218-015009Morrison, E. W. (2023).
Employee Voice and Silence: Taking Stock a Decade Later.
Annual Review of Organizational Psychology and Organizational Behavior.
https://www.annualreviews.org/content/journals/10.1146/annurev-orgpsych-120920-054654Molina, I. et al. (2023).
Current research trends on cognition, integrative complexity, and decision-making.
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10546895/Brodbeck, F. C. et al. (2021).
Group-level integrative complexity: Enhancing differentiation and integration in group decision-making.
https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/1368430219892698Erdogan, B., & Bauer, T. N. (2021).
Overqualification at Work: A Review and Synthesis of the Literature.
https://www.annualreviews.org/doi/10.1146/annurev-orgpsych-012420-055831CIPD (2022).
Performance feedback: An evidence review.
https://www.cipd.org/globalassets/media/knowledge/knowledge-hub/evidence-reviews/performance-feedback-evidence-review_tcm18-111378.pdfSchleicher, D. J. et al. (2019).
Evaluating the Effectiveness of Performance Management.
https://www.apa.org/pubs/journals/features/apl-apl0000368.pdfConnelly, B. S. et al. (2024).
Origins and Outcomes of Shared Person Perceptions.
https://www.annualreviews.org/content/journals/10.1146/annurev-orgpsych-110721-022320
