Apakah Wajar Menghargai Orang yang Banyak Ngobrol di Kantor? Lihat Kriterianya

Cara memakai fitur membaca

Dengarkan membacakan artikel. Baca cepat menampilkan frasa berurutan dengan kecepatan pilihan Anda. Latihan bahasa membandingkan terjemahan yang tersedia. Simpan menambahkan penanda di browser ini; buka kembali dari daftar tersimpan di pemutar.

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Iklan
Iklan

Di X dan media sosial lain, banyak sekali postingan soal hubungan antarrekan di kantor.

Misalnya seperti ini:

Di kantor, terlalu banyak bicara bisa gagal Terlalu sedikit bicara juga gagal Orang yang suka ngobrol, kalau bikin salah, jadi bahan tertawaan saja Orang yang terlalu kaku gampang dapat penilaian rendah Jadi lebih baik ngobrolnya sedikit lebih jarang dari rata-rata

Sebagai pengalaman pribadi, saya paham.

Kantor adalah tempat berkumpulnya manusia, jadi kalau ada obrolan ringan dan sapaan, kita lebih mudah minta tolong, dan kalau berbuat salah pun tidak gampang dianggap sengaja.

Tapi, pandangan seperti ini sering melompati satu mata rantai sebab-akibat di tengahnya.

Yang sebenarnya perlu dilihat bukan

seberapa banyak ngobrol

melainkan

apakah komunikasi yang dibutuhkan untuk pekerjaan sudah berjalan

Kalau keduanya dicampur, penilaian dan introspeksi kita jadi cukup melenceng.


Kantor tempat si pusat obrolan berbuat salah malah jadi bahan tertawaan

Orang yang jadi pusat obrolan berbuat salah, lalu semua tertawa dan selesai.

Menurut saya, ini memang ada di dunia nyata.

Kalau hubungan dengan sekitar sudah baik, kesalahan tidak gampang terlihat sebagai niat buruk.

Gampang saja orang berpikir, "Ya sudahlah, dia memang begitu."

Dia juga mudah dimintai tolong.

Orang di sekitarnya pun lebih mudah membantu.

Ini efek hubungan antarmanusia yang memang nyata.

Namun kalau kebablasan, jadi berbahaya.

Kesalahan harus dilihat sebagai kesalahan.

Kalau berdampak pada hasil, kualitas, atau tenggat, itu harus dinilai terpisah dari banyaknya ngobrol.

Kalau keadaannya seperti ini:

kesalahan si tukang ngobrol dianggap lucu kesalahan si pendiam dinilai buruk yang pandai bicara dimaafkan karena menggemaskan yang diam dianggap tidak kooperatif

berarti itu bug pada budaya kerja dan sistem penilaiannya.

Inilah yang saya sebut "bug penilaian kemampuan ngobrol".


Buat yang bekerja serius, wajar kalau kesal

Bagi orang yang bekerja serius, melihat kesalahan si tukang ngobrol jadi bahan tertawaan memang bikin kesal.

Salah ya salah Kok dimaafkan cuma gara-gara sering ngobrol? Yang dinilai pesona, bukan hasil dan kualitas? Kalau sempat ngobrol, kerja dong Cepat pulang sana

Merasa begitu itu wajar.

Tentu saja di tempat kerja juga perlu pelumas hubungan antarmanusia.

Tapi kalau pelumasnya malah jadi tolok ukur penilaian, itu aneh.

Penilaian kerja seharusnya melihat

  • hasil
  • kualitas
  • tenggat
  • lapor, kabari, dan konsultasi (di Jepang disebut "ho-ren-sō": rutin memberi tahu atasan perkembangan kerja dan berdiskusi sebelum terlambat)
  • sikap kerja sama
  • tindakan perbaikan
  • kontribusi sesuai perannya
  • dampak terhadap pekerjaan orang di sekitar

Kalau banyaknya ngobrol dijadikan tolok ukur, penilaian tidak lagi mengukur "pekerjaan", melainkan "seberapa menyatu dengan lingkaran pertemanan kantor".


"Terlalu sedikit bicara = nilai rendah" juga terlalu asal

Pendapat bahwa "yang terlalu sedikit bicara dinilai rendah" juga cukup asal.

Masalah sebenarnya bukan pada tidak bicara itu sendiri.

Masalah muncul dalam kasus seperti berikut:

  • Tidak memastikan hal yang perlu dipastikan
  • Tidak menggali apa yang sebenarnya dibutuhkan pekerjaan
  • Tidak membagikan perkembangan
  • Sedang kesulitan tapi diam saja
  • Perlu mengambil keputusan tapi tidak bertanya
  • Tidak menyamakan pemahaman dengan orang lain
  • Tidak membagikan informasi yang diperlukan kepada departemen lain atau atasan
  • Tidak ikut terlibat saat dibutuhkan kerja sama

Ini bukan soal "tidak ngobrol", tetapi soal

komunikasi yang dibutuhkan untuk pekerjaan kurang

Sebaliknya, walaupun jarang ngobrol, kalau orang itu

  • menyapa
  • melapor seperlunya
  • memastikan
  • berkonsultasi
  • menyamakan pemahaman
  • menggali kebutuhan pekerjaan
  • membagikan tenggat, kualitas, dan cakupan dampak
  • bekerja sama saat memang perlu

maka dari sisi pekerjaan tidak ada masalah.


Arti sebenarnya dari "terlalu kaku bisa gagal"

Kalimat "terlalu kaku bisa gagal" juga sebaiknya dirumuskan ulang dengan lebih tepat.

Yang benar bukan

terlalu kaku bisa gagal

melainkan

memangkas sampai ke kontak, konfirmasi, dan penggalian kebutuhan yang diperlukan pekerjaan itulah yang bikin gagal

Jarang ngobrol bukan masalah.

Masalahnya adalah tidak mau mengambil informasi yang dibutuhkan pekerjaan.

Makanya solusinya pun lebih tepat kalau bukan

ayo perbanyak ngobrol

melainkan

jangan sampai melewatkan komunikasi kerja yang diperlukan


Pisahkan komunikasi kerja dan obrolan ringan

Yang penting di sini adalah memisahkan komunikasi kerja dan obrolan ringan.

Komunikasi kerja

  • Lapor
  • Kabari
  • Konsultasi
  • Konfirmasi
  • Menyamakan pemahaman
  • Menggali kebutuhan
  • Memastikan tenggat
  • Membagikan cakupan dampak
  • Memastikan prioritas
  • Membagikan perubahan
  • Membagikan risiko
  • Meminta keputusan

Obrolan ringan

  • Cuaca
  • Hobi
  • Makan siang
  • Cerita akhir pekan
  • Tontonan terbaru
  • Kabar santai
  • Obrolan untuk mencairkan suasana

Keduanya sama-sama bernilai.

Tapi peran keduanya berbeda.

Komunikasi kerja diperlukan agar pekerjaan berjalan.

Obrolan ringan adalah pelumas yang melembutkan hubungan.

Obrolan ringan kadang berguna, tapi tidak bisa menggantikan komunikasi kerja.

Sebaliknya, menilai rendah orang yang komunikasi kerjanya baik hanya karena ia jarang ngobrol juga berbahaya.


Hal yang sebaiknya dilakukan sendiri

Kamu tidak perlu jadi jagoan ngobrol.

Tapi sebaiknya jangan sampai melewatkan komunikasi kerja.

Minimal, kalau kamu ingat hal-hal berikut, kamu akan aman:

  • Menyapa
  • Mengucapkan terima kasih
  • Melapor seperlunya
  • Membagikan perkembangan
  • Memastikan kalau perlu keputusan
  • Segera berkonsultasi kalau kesulitan
  • Menyamakan pemahaman
  • Menggali kebutuhan pekerjaan
  • Memastikan tenggat dan cakupan dampak
  • Menunjukkan dengan ringan bahwa kamu tidak punya niat bermusuhan

Dengan ini saja, walaupun jarang ngobrol, hambatan dalam pekerjaan akan berkurang banyak.

Yang perlu dikejar bukan menjadi "pusat obrolan".

Yang perlu dikejar adalah

menjadi orang pendiam yang tetap bisa berkomunikasi sesuai kebutuhan


Yang perlu diperhatikan pihak manajemen

Pihak manajemen sebaiknya tidak menilai hanya dari banyaknya ngobrol.

Yang perlu dilihat adalah

  • apakah hasilnya keluar
  • apakah kualitasnya stabil
  • apakah tenggat ditepati
  • apakah melapor, mengabari, dan berkonsultasi seperlunya
  • apakah bisa bekerja sama dengan orang sekitar
  • apakah memastikan hal yang perlu dipastikan
  • apakah bisa memperbaiki diri saat berbuat salah
  • apakah tidak merugikan departemen lain atau pelanggan

Orang pendiam pun layak dihargai kalau ini semua terpenuhi.

Sebaliknya, walaupun banyak ngobrol, kalau

  • hasilnya tidak ada
  • sering salah
  • tidak menepati tenggat
  • tidak memastikan hal yang perlu
  • mengganggu pekerjaan
  • merebut konsentrasi orang di sekitar

penilaiannya harus hati-hati.

Banyak ngobrol bukan berarti jago kerja.


"Orang yang pandai bicara untung" memang nyata, tapi berbahaya sebagai sistem penilaian

Orang yang pandai bicara memang diuntungkan.

  • Kesannya baik
  • Gampang diajak bicara
  • Kesalahannya tidak terlihat seperti niat buruk
  • Informasi mengalir kepadanya
  • Mudah dimintai tolong
  • Orang sekitar lebih mudah membantu

Semua itu memang ada.

Tapi kalau langsung dijadikan sistem penilaian, itu berbahaya.

Keramahan di atas hasil.

Suasana di atas prestasi.

Kegemasan di atas kualitas.

Kecocokan dengan lingkaran pergaulan di atas dampak terhadap pekerjaan.

Kalau begini, kantor bukan lagi "tempat bekerja", melainkan "kampung tempat orang yang pandai membaur yang diuntungkan".

Sebagai sistem penilaian, ini sangat berbahaya.


Tips kerja di media sosial kadang terlalu menyalahkan diri sendiri

Pembahasan soal kerja di X dan media sosial lain memang mudah dipahami, tapi kadang terlalu condong ke menyalahkan diri sendiri.

Misalnya, mudah sekali mengarah ke sini:

Salahku karena tidak bicara Salahku karena terlalu kaku Aku dinilai rendah karena tidak bisa ngobrol Harusnya aku lebih membaur

Tentu ada hal yang bisa kita perbaiki sendiri.

Tapi kalau berhenti di situ saja, berbahaya.

Sebenarnya, bisa jadi ada masalah di sisi rancangan juga:

  • Suka-tidak suka si penilai terlalu kuat
  • Sistem penilaiannya kabur
  • Banyaknya ngobrol dan kemampuan bekerja sama tercampur aduk
  • Yang dilihat adalah kegemasan, bukan hasil kerja
  • Tidak ada mekanisme yang membuat hasil orang pendiam terlihat
  • Komunikasi kerja dan obrolan ringan tercampur

Karena itu, saat membaca pembahasan kerja di media sosial, sebaiknya dipisahkan dulu:

apakah ini masalah pribadi orangnya masalah komunikasi kerja masalah sistem penilaian atau masalah budaya kerja


Kesimpulan yang netral

Obrolan ringan adalah pelumas.

Kalau ada, memang berguna.

Ia melembutkan hubungan, memudahkan konsultasi, dan bisa meredakan cara orang menerima kesalahan.

Tapi obrolan ringan bukanlah tolok ukur penilaian itu sendiri.

Yang benar-benar penting adalah

apakah komunikasi yang dibutuhkan pekerjaan sudah berjalan apakah kebutuhan pekerjaan sudah digali apakah konfirmasi, konsultasi, dan berbagi informasi yang perlu sudah dilakukan apakah berkontribusi pada hasil, kualitas, dan tenggat bagaimana dampaknya terhadap pekerjaan orang sekitar

Mengurangi obrolan ringan tidak apa-apa.

Tapi kalau komunikasi kerja ikut dipangkas, kamu akan gagal.

Banyak ngobrol juga tidak apa-apa.

Tapi kalau hasil dan kualitasnya buruk, tidak seharusnya dinilai tinggi.

Kedua hal ini harus dipisahkan, karena 2 hal itu memang berbeda.


Ringkasan

Pembahasan "terlalu banyak bicara" atau "terlalu sedikit bicara" itu agak asal.

Yang seharusnya dilihat bukan banyaknya ngobrol.

Yang dilihat adalah komunikasi kerja, penggalian kebutuhan, hasil, kualitas, tenggat, dan sikap kerja sama.

Kalau kesalahan si tukang ngobrol jadi bahan tertawaan sementara si pendiam dinilai rendah, mungkin rancangan sistem penilaian dan budaya kerjanya yang kurang matang.

Pendiam pun tidak masalah, asalkan komunikasi yang diperlukan berjalan.

Orang yang pandai bicara pun, kalau hasil dan kualitasnya buruk, penilaiannya harus hati-hati.

Yang dibutuhkan di tempat kerja bukanlah menjadi jagoan ngobrol.

Yang dibutuhkan adalah

menyampaikan hal yang perlu, kepada orang yang perlu, pada waktu yang tepat

Kalau itu sudah kamu lakukan, tidak perlu terlalu menyalahkan diri hanya karena jarang ngobrol.


Baca ini hari ini

Masing-masing menjawab pertanyaan yang biasanya muncul setelah membaca artikel ini.

Lihat semua artikelLebih banyak tentang Pekerjaan

Bagikan artikel ini

Iklan

Satu lagi? Ada yang seru?

Mumpung sudah selesai membaca: beberapa cerita yang mirip dan beberapa yang beda sama sekali tapi seru.

  1. Topik serupaApakah Tekanan Darah Turun Hanya Karena Obat?Membaca Paket “Obat + Tidur + Stres” dengan EMA5
  2. Menang board tapi tetap kalah?Panduan Shadowverse: Worlds Beyond
  3. Beda sama sekali, tapi seruAC Sudah 21°C tetapi Tetap Terasa PanasMenunggu 40 Menit untuk Tofu Dengaku di Kikuso, Restoran Toyohashi Berusia Sekitar 200 Tahun Tempat Edo, Showa, dan Reiwa Bertemu
  4. Jam 5 pagibadan bilang “tidur”, otak bilang “kami masih buka”
  5. AURA Dulunya Berarti “Angin Sepoi-sepoi”dari Aura si Guillotine di *Frieren* sampai love hotel dengan “kehidupan sehari-hari sudah tidak ada, kan?”
  6. Untuk yang Sulit Melakukan Sesuatu SendirianBongkar “Kalau Tak Ada Teman, Aku Tak Jalan” dan Bangun “OS Aksi Solo”

Cari artikel lain

Semua artikel

Mendoi-chan

Pengelola situs

Mendoi-chan

Mengubah kerepotan di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari menjadi struktur yang jelas dan langkah berikutnya.