Mengapa “memperlakukan teman difabel secara biasa” justru bisa menjadi lebih sulit — saat peran penolong dan aturan “jangan tertawa” merusak hubungan yang alami

Di SMP, lingkaran pergaulan cukup luas. Tidak ada batas tegas antara “teman dekat” dan “yang lain”.

Iklan
Iklan

Bahasa Indonesia (id)

Mengapa “memperlakukan teman difabel secara biasa” justru bisa menjadi lebih sulit — saat peran penolong dan aturan “jangan tertawa” merusak hubungan yang alami

Kesimpulan 5 detik: Menyatukan siswa difabel dan nondifabel bukan masalahnya. Pendidikan inklusif yang melibatkan teman sebaya memang dapat membantu. Masalah muncul ketika siswa yang awalnya sudah bergaul secara alami diberi peran moral tetap: “Kamu pandai berinteraksi dengan mereka, jadi kamu yang membantu,” atau bahkan diberi aturan tentang perasaannya: “Terhadap orang ini, kamu tidak boleh bereaksi seperti itu.” Hubungan setara dapat berubah menjadi “penolong/yang ditolong” dan akhirnya terasa dibuat-buat.

Ringkasan 30 detik: Saat SMP, seorang siswa mudah berbicara dengan hampir semua orang, termasuk teman-teman yang menerima dukungan khusus. Seorang dewasa memujinya karena dapat berinteraksi dengan mereka secara alami, lalu ia bersama beberapa siswa lain dikirim ke kegiatan pertukaran. Sejak saat itu muncul pikiran baru: “Jadi selama ini aku bukan sekadar ngobrol? Mereka melihatku sebagai orang yang pandai membantu?” Dalam festival sekolah, pola serupa terjadi. Seorang siswa melakukan gerakan tak terduga saat menabuh drum dan itu benar-benar lucu. Beberapa teman tertawa keras. Seorang guru bereaksi seolah fakta bahwa mereka tertawa sudah membuktikan kekejaman. Pertanyaan si remaja justru kebalikannya: jika perilaku yang sama tiba-tiba tidak boleh dianggap lucu hanya karena orang itu difabel, bukankah itu juga perlakuan berbeda berdasarkan label? Bertahun-tahun kemudian, setelah usianya melewati usia guru muda itu dan setelah membaca penelitian, rasa ganjil tersebut ternyata masih cukup masuk akal.

1. Pada awalnya tidak ada teori — hanya orang berbicara dengan orang

Di SMP, lingkaran pergaulan cukup luas. Tidak ada batas tegas antara “teman dekat” dan “yang lain”.

Ada juga siswa yang menerima dukungan khusus. Tidak ada strategi istimewa untuk berbicara dengan mereka.

Kalau ada bahan obrolan, ya ngobrol. Kalau lucu, ya tertawa. Kalau ditanya, ya menjawab.

Tidak ada buku petunjuk di kepala berjudul “Cara Berinteraksi yang Benar dengan Orang Difabel”.

Ada orang di depan kita, jadi ia diperlakukan sebagai orang.

Mungkin justru itu keadaan yang paling alami.

2. Begitu orang dewasa berkata “kamu hebat”, tiba-tiba muncul jabatan

Lalu datang pujian kurang lebih seperti ini:

“Kamu hebat karena bisa berinteraksi dengan mereka secara alami.”

Kemudian siswa itu bersama beberapa teman diminta mengikuti kegiatan pertukaran.

Di sinilah muncul pembagian yang sebelumnya tidak ada.

Teman biasa → ngobrol biasa.

Teman yang menerima dukungan khusus → aku adalah orang yang seharusnya pandai memperlakukannya dengan benar.

Tidak ada surat pengangkatan, tetapi jabatan itu sudah terpasang di kepala.

“Apakah aku masih boleh sekadar ngobrol?”

“Apakah ada sesuatu yang harus kuwaspadai?”

“Apakah aku harus lebih baik dari biasanya?”

Muncul proses pemeriksaan internal sebelum percakapan.

Hal yang tadinya alami menjadi lebih sulit justru karena orang dewasa menyebutnya sebagai kemampuan khusus.

3. Penelitian menemukan jebakan yang sama: menjadi penolong, bukan teman

Sebuah penelitian terbaru bertanya kepada siswa nondifabel tentang persahabatan dengan teman yang memiliki disabilitas intelektual dan perkembangan. Para siswa sendiri menyebut satu hambatan: sebagian teman masuk ke peran penolong alih-alih membangun hubungan timbal balik sebagai teman.[2]

Peran penolong mudah dipahami. Membantu, mengarahkan, bersikap baik. Ada naskah yang jelas.

Persahabatan lebih berantakan.

Teman membantu dan dibantu. Mereka bercanda. Kadang kesal. Kadang saling menggoda. Kadang bertengkar lalu baikan.

Penelitian yang sama menekankan bahwa persahabatan yang autentik lebih mungkin tumbuh ketika dua orang dapat berinteraksi sebagai teman sebaya yang setara, bukan ketika satu orang terus menjadi “teman baik yang membantu”.[2]

Sekolah ingin menciptakan persahabatan, menunjuk seorang penolong agar persahabatan terjadi, lalu tanpa sengaja membuat hubungan itu semakin tidak mirip persahabatan.

Niat baik, mesin mundur.

4. Ini bukan berarti sekolah harus berhenti membuat kesempatan untuk berinteraksi

Memberi kesempatan kepada siswa difabel dan nondifabel untuk belajar dan beraktivitas bersama bisa sangat bermanfaat.

Kementerian Pendidikan Jepang juga mendorong model sekolah yang memperluas keadaan di mana siswa difabel dan nondifabel belajar bersama.[1]

Sebuah ulasan besar mengenai intervensi yang melibatkan teman sebaya merangkum 43 ulasan yang mencakup 357 penelitian unik. Hasil positif paling sering terlihat pada keterlibatan dengan teman sebaya dan memulai interaksi sosial.[3]

Ulasan sistematis dan analisis gabungan lain yang khusus mengukur hasil persahabatan juga menemukan efek keseluruhan kecil hingga sedang.[4]

Kesimpulannya bukan hentikan kegiatan pertukaran, melainkan menciptakan kesempatan tidak sama dengan mengangkat seorang anak menjadi pengasuh tetap anak lain.

Guru bisa membangun panggung tanpa menuliskan setiap dialog dalam hubungan mereka.

5. Lalu datang festival sekolah: “Aku tidak percaya kamu menganggap itu lucu”

Dalam festival sekolah, seorang siswa yang menerima dukungan khusus sedang menabuh drum. Sesekali ia membuat gerakan tak terduga dan suara keras.

Itu memang lucu.

Beberapa teman tertawa keras.

Guru merespons dengan kalimat sejenis:

“Aku tidak percaya kamu bisa tertawa melihat hal seperti itu.”

Namun tawa itu bukan berarti “orang difabel lebih rendah”.

Sesuatu yang tidak terduga terjadi di depan mata dan terlihat lucu.

Kalau siswa lain melakukan hal yang sama, kemungkinan besar tetap akan lucu.

Maka keberatan si remaja sederhana:

“Kalau perilaku yang sama tidak boleh lagi dianggap lucu hanya karena sekarang aku tahu orang itu difabel, bukankah aku justru mengubah aturan karena labelnya?”

6. Tertawa bukan satu jenis perilaku — mengejek dan tertawa biasa berbeda

Ini tentu tidak berarti semua tawa aman.

Menunjuk seseorang. Meniru terus ketika ia tidak suka. Menjadikan sesuatu yang tidak dapat ia kendalikan sebagai tontonan. Menggunakan kekuatan kelompok untuk merendahkan satu orang.

Itu dapat menjadi ejekan atau perundungan.

Namun sebuah ulasan sistematis tentang humor dalam kehidupan orang dengan disabilitas intelektual menemukan dua sisi sekaligus: humor dapat menimbulkan stigma dan luka, tetapi juga dapat memperkuat hubungan, menciptakan kesenangan bersama, dan mengurangi jarak kekuasaan dalam interaksi.[5]

Sebuah penelitian 2024 membahas garis antara tertawa bersama orang difabel dan menjadikan orang difabel sebagai bahan tertawaan. Garis itu tidak bisa ditentukan hanya dari status disabilitas; konteks, struktur interaksi, dan relasi kuasa juga penting.[6]

Sekolah tidak cukup hanya bertanya “apakah ada yang tertawa sambil melihat siswa difabel?”. Sekolah juga perlu melihat apa yang dianggap lucu, apakah seseorang direndahkan, apakah ia merasa tidak nyaman, apakah kelompok menggunakan tawa sebagai senjata, dan apakah perilaku yang sama juga akan dianggap lucu jika dilakukan orang lain.

7. “Jangan pernah tertawa” dan “selalu harus baik” juga dapat menjadi perlakuan khusus

Saat mencoba mencegah diskriminasi, orang dapat kebablasan.

“Jangan pernah tertawa di depan orang ini.”

“Harus selalu jauh lebih baik.”

“Jangan pernah marah kepadanya.”

Pada titik itu, orang difabel justru dikeluarkan dari rentang emosi lengkap yang ada dalam hubungan biasa.

Dengan teman, kita tertawa kalau lucu, berkata “itu menggangguku” kalau memang mengganggu, membantu bila perlu, dan di hari lain menerima bantuan.

Jika informasi tentang disabilitas mengubah aturan menjadi dilarang tertawa, dilarang kesal, kebaikan maksimum sepanjang waktu, itu belum tentu kesetaraan. Bisa jadi hanya kategori perlakuan baru.

Kebaikan penting. Tetapi ketika kebaikan menjadi peran tetap, hierarki dapat terbentuk.

8. Semakin dewasa, semakin sering muncul “Lucu juga. (wajah datar)”

Saat kecil, urutannya bisa sederhana: lihat → lucu → tertawa.

Saat dewasa: lihat → lucu → boleh tertawa tidak? → ada yang terluka? → orang lain akan melihatnya bagaimana? → lucu juga. (wajah datar)

Seiring bertambah usia, manusia belajar aturan sosial tentang kapan perasaan boleh ditunjukkan atau disembunyikan.

Sebuah penelitian yang membandingkan anak sekolah dasar, remaja, dan orang dewasa di Jepang dan Amerika Serikat menemukan bahwa dalam situasi ketika kejujuran dapat menyakiti orang lain, persetujuan untuk menyembunyikan perasaan sebenarnya meningkat seiring usia di kedua negara.[7]

Eksperimen tahun 2025 juga menunjukkan bahwa menekan ekspresi wajah yang berkaitan dengan tawa dapat sangat mengurangi reaksi yang terlihat tanpa selalu mengurangi penilaian “seberapa lucu” pada tingkat yang sama.[8]

Tidak tertawa tidak otomatis berarti tidak merasa lucu.

Mungkin otak orang dewasa hanya merekrut bagian Humas, Hukum, SDM, dan Kepatuhan.

Dalam penelusuran ini tidak ditemukan eksperimen yang secara langsung membuktikan kalimat spesifik “anak-anak tertawa ketika melihat anak difabel, sementara orang dewasa tidak”. Klaim persis itu tidak boleh diperlakukan sebagai fakta mapan. Yang didukung adalah hal yang lebih luas: pengaturan sosial terhadap ekspresi emosi meningkat seiring usia.[7]

9. Gurunya masih muda. Memahami itu bukan berarti ia boleh menentukan perasaan

Bertahun-tahun kemudian, mantan siswanya sudah lebih tua daripada usia guru muda tersebut saat kejadian.

Itu membuat sudut pandang guru lebih mudah dipahami.

Seorang guru melihat beberapa siswa tertawa keras sambil memperhatikan siswa yang menerima dukungan khusus. Bisa saja itu perundungan. Bisa saja ada orang yang terluka. Guru mungkin hanya punya beberapa detik untuk memutuskan apakah harus turun tangan.

Aturan sederhana —“jangan tertawakan siswa difabel”— memang menggoda.

Itu bisa dimengerti.

Namun “jangan mempermalukan orang lain dengan tawa” adalah aturan perilaku.

“Aku tidak percaya kamu bisa menganggap itu lucu” adalah penilaian moral atas reaksi batin siswa.

Keduanya berbeda.

10. Rasa ganjil di SMP ternyata tidak terlalu meleset

Saat itu belum ada kosakata tentang pendidikan inklusif, persahabatan timbal balik, atau aturan ekspresi emosi.

Hanya ada dua kejadian yang terasa janggal.

Bergaul biasa → diberi peran “siswa baik yang pandai membantu teman difabel”.

Tertawa karena memang lucu → diberi peran “orang kejam yang menertawakan disabilitas”.

Dalam kedua kasus, makna yang ditempelkan orang dewasa dari luar menjadi lebih besar daripada makna yang sebenarnya dialami orang di dalam situasi itu.

Bertahun-tahun kemudian, penelitian memberi bahasa untuk rasa ganjil tersebut:

  • Peran penolong yang tetap dapat mengganggu hubungan timbal balik antar teman sebaya.[2]
  • Dukungan inklusif yang melibatkan teman sebaya memang dapat memperbaiki interaksi sosial.[3][4]
  • Humor dapat menjadi ejekan atau pengalaman bersama yang menyetarakan, tergantung konteks.[5][6]
  • Semakin dewasa, semakin banyak pengaturan sosial terhadap ekspresi emosi.[7][8]

Aku saat SMP: Bukankah itu malah agak diskriminatif?

Aku sekarang: Sebaiknya cek penelitian dulu.

Penelitian: Ya, masalah itu memang dibahas serius.

Pemeriksaan jawaban yang sangat lambat.

11. Jika sekolah ingin mengajarkan sesuatu, mungkin tiga aturan ini cukup

1. Lihat orangnya sebelum kategorinya

Jangan otomatis mengubah disabilitas menjadi “kasihan”, “orang yang harus dibantu”, atau “orang yang tidak boleh ditertawakan di dekatnya”.

2. Bantu saat perlu, tetapi jangan mengangkat anak menjadi pengasuh permanen

Menciptakan kesempatan dan menetapkan peran adalah dua hal berbeda. Guru, teman, dan sistem dapat berbagi dukungan. Persahabatan jangan dijadikan tugas sekolah.

3. Nilai perilaku yang menyakiti, bukan melarang perasaan

Jangan berhenti pada “ada yang tertawa”. Tanyakan apakah itu ejekan, humor bersama, peniruan yang tidak diinginkan, penghinaan, atau perundungan kelompok.

Kesimpulan — “perlakukan secara normal” justru paling sulit ketika normalitas dijadikan pertunjukan

Sekolah inklusif bukan sekolah yang memasangkan satu anak “baik” sebagai pembantu tetap untuk setiap siswa difabel.

Tujuannya adalah agar siswa difabel dan nondifabel menjadi anggota komunitas sekolah yang sama, belajar bersama jika memungkinkan, dan menerima dukungan bila diperlukan.[1]

Karena itu “kamu pandai sekali berinteraksi dengan mereka. Kamu saja yang jadi penanggung jawab kegiatan pertukaran” lebih berbahaya daripada kelihatannya. Kalimat itu menambahkan identitas pelayanan pada hubungan yang mungkin sudah berjalan baik.

Dan “aku tidak percaya kamu bisa menganggap itu lucu” berbahaya dengan cara lain. Menghentikan ejekan tidak sama dengan menentukan emosi.

Awalnya hanya orang berinteraksi dengan orang.

Lalu orang dewasa menambahkan label: penolong, yang ditolong, orang baik, orang rentan, orang yang tidak boleh ditertawakan di dekatnya.

Tiba-tiba percakapan yang dulu terjadi otomatis harus melewati rapat internal.

Jika tujuannya inklusi yang alami, kadang kita perlu lebih sedikit mengajarkan “cara berinteraksi yang benar” dan lebih banyak menciptakan kondisi agar hubungan biasa benar-benar bisa tumbuh.

Dan sekarang, ketika melihat lelucon fisik berulang yang dulu mungkin membuat tertawa terbahak-bahak, reaksinya sering begini:

Lucu juga. (wajah datar.)

Bukan transformasi moral besar.

Mungkin cuma bosan.

Referensi

[1] Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang. Proyek Model Pengelolaan Sekolah Inklusif. https://www.mext.go.jp/a_menu/shotou/tokubetu/mext_03177.html

[2] Rossetti, Z. “Not Sure How to Approach Them the Right Way”: Nondisabled Students’ Perspectives on Friendship With Peers With I/DD. Remedial and Special Education. https://doi.org/10.1177/07419325231221215

[3] Bowman-Perrott, L. et al. Peer-Mediated Interventions for Students with Intellectual and Developmental Disabilities: A Systematic Review of Reviews of Social and Behavioral Outcomes. Developmental Neurorehabilitation 26(2), 134-154 (2023). https://doi.org/10.1080/17518423.2023.2169878

[4] Friendship interventions for children with neurodevelopmental needs: A systematic review and meta-analysis. PLOS ONE (2023). https://doi.org/10.1371/journal.pone.0295917

[5] Chadwick, D. D., & Platt, T. Investigating Humor in Social Interaction in People With Intellectual Disabilities: A Systematic Review of the Literature. Frontiers in Psychology 9, 1745 (2018). https://doi.org/10.3389/fpsyg.2018.01745

[6] Kulick, D. “Laughing with” or “laughing at” people with disabilities? Love on the Spectrum and Derek. HUMOR 37(3), 307-328 (2024). https://doi.org/10.1515/humor-2023-0162

[7] Wice, M., Matsui, T., Tsudaka, G., Karasawa, M., & Miller, J. G. Verbal display rule knowledge: A cultural and developmental perspective. Cognitive Development 52, 100801 (2019). https://doi.org/10.1016/j.cogdev.2019.100801

[8] Mitschke, V., Ziereis, A. C., Manivasagam, S., & Schacht, A. Laughter regulation in solitary and social contexts varies across emotion regulation strategies. (2025). https://doi.org/10.1038/s44271-025-00368-6


Iklan
Mendoi-chan

Ditulis oleh

Mendoi-chan

Mengubah kerepotan di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari menjadi struktur yang jelas dan langkah berikutnya.

Tentang situs
Iklan

Artikel terbaru

  1. 1Satu “nggak tahu” cukup untuk membatalkan rencana membiarkan orang asing masuk rumah — Divisi manajemen risiko di dalam orang yang ramah
  2. 2Sudah dikonfirmasi sebelumnya, tetapi pada hari pemeriksaan semuanya seperti di-reset — pagi ketika peserta pemeriksaan menjadi “server cadangan berjalan”
  3. 3Terlalu Banyak Menulis Blog Sampai Jiwa Tersebar di GitHub — Bisakah 1.000+ Artikel Menjadi Memori Eksternal dan Bahan untuk “AI Pribadi”?
  4. 4Bisakah “Ame ni mo Makezu” ditamatkan dengan perlengkapan? RTA fisik pakai payung lipat UV untuk panas dan hujan
  5. 5Bahasa Indonesia (id)

Baca juga

Iklan