Judul SEO
Sebenarnya Apa yang Diukur Peringkat Kebahagiaan Dunia? Cara Membaca Israel di Posisi 8 dan Jepang di Posisi 61
Isi Artikel
1. Yang Diukur Adalah "Nilai yang Kamu Berikan untuk Hidupmu Secara Keseluruhan"
Ukuran utama dalam Laporan Kebahagiaan Dunia (World Happiness Report) disebut Cantril Ladder (Tangga Cantril), yaitu penilaian orang terhadap hidupnya sendiri.
Responden diminta membayangkan tangga dengan anak tangga dari 0 sampai 10.
- 0: hidup terburuk yang bisa kamu bayangkan
- 10: hidup terbaik yang bisa kamu bayangkan
Setelah itu mereka menjawab, "Menurutmu, sekarang kamu berdiri di anak tangga ke berapa?"
Jadi, yang ditanyakan langsung bukanlah
seberapa sering kamu tertawa kemarin seberapa cemas kamu hari ini seberapa kecil risiko perang atau kejahatan di tempatmu
Yang ditanyakan adalah ini:
Dibandingkan dengan hidup ideal yang kamu bayangkan, berapa nilai hidupmu secara keseluruhan?
Peringkat edisi 2026 pada dasarnya adalah rata-rata jawaban selama tiga tahun, dari 2023 sampai 2025. [1]
Karena itu, ini juga bukan peringkat penderitaan real-time yang hanya mencerminkan situasi perang terbaru atau guncangan sesaat.
2. Penilaian Hidup dan Perasaan Tidak Selalu Sejalan
Pada edisi 2026, Israel berada di posisi 8 untuk penilaian hidup.
Tetapi untuk emosi positif (kemarin tertawa, menikmati sesuatu, atau melakukan hal yang menyenangkan), Israel ada di posisi 120. Untuk emosi negatif (cemas, sedih, dan marah), Israel ada di posisi 39, artinya laporan tentang rasa tertekan cukup banyak. [1]
Jepang berada di posisi 61 untuk penilaian hidup, tetapi posisi 81 untuk emosi positif dan posisi 140 untuk emosi negatif. [1]
Untuk emosi negatif, makin tinggi peringkatnya, makin kuat rasa cemas, sedih, dan marahnya. Jadi orang Jepang lebih jarang melaporkan emosi negatif yang kuat dalam keseharian dibandingkan orang Israel, tetapi nilai yang mereka berikan untuk hidup secara keseluruhan jauh lebih rendah.
| Rata-rata 2023–2025 | Israel | Jepang |
|---|---|---|
| Penilaian hidup | posisi 8 · 7.187 | posisi 61 · 6.130 |
| Dukungan sosial | posisi 9 · 0.938 | posisi 53 · 0.870 |
| Emosi positif | posisi 120 · 0.562 | posisi 81 · 0.665 |
| Emosi negatif | posisi 39 · 0.342 | posisi 140 · 0.168 |
| Harapan hidup sehat | sekitar posisi 10 | sekitar posisi 2 |
Dari sini terlihat bahwa Israel bukanlah negara yang penduduknya selalu ceria setiap hari.
Justru pola yang muncul cukup unik:
Rasa cemas dan marahnya kuat. Meski begitu, mereka tetap memberi nilai tinggi untuk hidup secara keseluruhan.
3. Kata "Kebahagiaan" Terlalu Luas
Mendengar kata "kebahagiaan", kita gampang membayangkan satu ukuran serba bisa yang mencakup kesenangan, rasa aman, kesehatan, perdamaian, hubungan dengan orang lain, penghasilan, makna, dan alasan untuk hidup.
Padahal, lebih tepatnya, peringkat dalam Laporan Kebahagiaan Dunia adalah peringkat dari ini:
Berapa nilai yang diberikan warga negara untuk hidupnya sendiri secara keseluruhan
Penilaian hidup tidak hanya mencakup rasa aman dan penghasilan, tetapi juga hal-hal seperti berikut:
- Ada orang yang ingin kulindungi
- Ada orang yang mau menolong kalau aku kesulitan
- Aku tahu siapa diriku
- Hidupku punya makna
- Aku dibutuhkan
- Aku ingin terus hidup seperti ini ke depannya
- Hidupku punya alur yang masuk akal
Sebaliknya, meskipun aman dan sehat, kalau
- kamu tidak bisa menentukan sendiri harimu
- tidak ada yang bisa kamu andalkan
- hidupmu terasa hambar
- nilai dirimu hanya ditentukan oleh penilaian perusahaan
- kamu merasa masa depan tidak akan membaik
- kamu tidak tahu untuk apa hidup
maka nilai untuk hidup secara keseluruhan akan sulit naik.
4. Jangan Memandang Peringkat Sampai ke Selisih Satu Posisi sebagai Sesuatu yang Mutlak
Perbandingan antarnegara juga dipengaruhi perbedaan budaya.
Apa yang dianggap "hidup terbaik"? Apakah nilai 7 sudah cukup tinggi? Apakah orang gampang memberi nilai 10? Apakah orang berani mengungkapkan ketidakpuasan? Apakah mengatakan hidup sendiri baik terasa tidak tahu malu?
Kecenderungan menjawab seperti ini berbeda dari satu budaya ke budaya lain.
Selain itu, karena angkanya rata-rata tiga tahun, ini juga tidak menunjukkan keadaan saat ini apa adanya.
Jadi, hasilnya sebaiknya tidak dibaca secara mekanis sebagai
orang Israel secara objektif lebih bahagia daripada orang Jepang Jepang hanyalah negara paling bahagia ke-61 di dunia
Meski begitu, satu hal tetap berlaku: perdamaian, kesehatan, umur panjang, dan kemudahan hidup saja tidak cukup untuk menjelaskan bagaimana orang menilai hidupnya.
