Bertemu teman bikin lelah? Sebelum mengurangi jumlah teman, coba ubah cara berteman

Cara memakai fitur membaca

Dengarkan membacakan artikel. Baca cepat menampilkan frasa berurutan dengan kecepatan pilihan Anda. Latihan bahasa membandingkan terjemahan yang tersedia. Simpan menambahkan penanda di browser ini; buka kembali dari daftar tersimpan di pemutar. Game pecah bata mengubah kata-kata artikel menjadi bata yang bisa Anda hancurkan.

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Iklan
Iklan

Sepulang makan bersama teman, kamu merasa terkuras, padahal tadi rasanya menyenangkan. Di kereta, kamu mengulang percakapan dalam kepala: “Tadi aku salah ngomong, ya?” Sesampainya di rumah pun, kamu sudah memikirkan jawaban untuk ajakan berikutnya. Kalau ini terus terjadi, wajar jika muncul pertanyaan, “Apa lebih bahagia kalau punya sedikit teman?”

Namun, apa yang sebenarnya ingin kamu kurangi: jumlah teman, atau waktu yang kamu habiskan dengan terus menjaga sikap? Membedakan keduanya bisa membuka pilihan selain memutus semua hubungan. Kamu bisa memperpendek waktu bertemu, menjelaskan bahwa kamu tidak selalu bisa cepat membalas pesan, atau memilih kepada siapa kamu ingin bercerita lebih dalam. Hal pertama yang bisa diubah adalah cara menjalani pertemanan.

Lelah karena bersenang-senang, atau lelah menjaga perasaan sampai di rumah?

Seharian pergi bersama orang yang kamu sukai tentu bisa membuat tubuh lelah. Kalau percakapan dalam kelompok besar terasa berat, kamu mungkin ingin waktu tenang meskipun acaranya menyenangkan. Satu kali merasa lelah tidak harus menjadi dasar untuk menilai seluruh hubungan.

Yang perlu diperhatikan adalah untuk apa energimu terkuras.

  • Apakah kamu terus mengobrol karena begitu menikmati percakapan, atau karena takut suasana hening?
  • Apakah kamu sedang menunjukkan perhatian, atau menyembunyikan pendapat agar temanmu tidak tersinggung?
  • Apakah kali ini memang giliranmu mendengarkan ceritanya, atau kamu selalu menjadi pendengar?
  • Setelah kamu menolak ajakan, apakah cukup dengan “lain kali saja”, atau kamu dituntut memberikan penjelasan panjang?

“Beban dalam hubungan” di sini bukan berarti memberi label harga pada nilai seseorang. Istilah ini membantu mengenali hal-hal yang kamu tanggung, seperti mengatur jadwal, merasa terdesak untuk membalas pesan, atau memaksakan diri agar terlihat ceria.

Saat seorang teman sedang melalui masa sulit, mungkin untuk sementara kamu lebih banyak mendukungnya. Tidak setiap pemberian harus dibalas dengan porsi yang sama saat itu juga. Meski begitu, tetap perlu ada ruang untuk menyampaikan kebutuhan dan batas kemampuanmu sendiri.

Sebelum menjauh, coba ringankan satu rencana

Misalnya, kalau acara makan berjam-jam setiap minggu terasa membebani, coba usulkan, “Bulan ini aku lagi tidak punya banyak waktu. Bulan depan kita ketemu sebentar sambil minum teh, ya.” Kalau teman terus bercerita sampai larut malam, kamu boleh membatasi waktunya: “Hari ini aku istirahat dulu, ya. Besok aku bisa dengar ceritamu sebentar.”

Daripada menilai orangnya dengan mengatakan, “Aku capek setiap ketemu kamu,” biasanya lebih mudah berdiskusi jika kamu menjelaskan kondisi yang sanggup kamu jalani: “Aku mau pulang setelah sekitar dua jam,” atau “Kadang aku baru bisa balas pesan akhir pekan.”

Temanmu mungkin menerimanya dengan begitu biasa sampai kamu sendiri terkejut. Melepaskan peran sebagai “teman yang selalu cepat membalas” atau “teman yang tidak pernah menolak ajakan”, yang selama ini mungkin kamu bebankan pada diri sendiri, bisa membuat pertemuan terasa menyenangkan lagi.

Sebaliknya, jika setiap kali menyampaikan batas kamu justru disalahkan, rahasiamu dipakai untuk memaksamu menurut, atau penolakanmu terus diabaikan, pertimbangkan kembali jarak dalam hubungan itu, termasuk seberapa sering kalian berkomunikasi dan di mana kalian bertemu. Terus-menerus mengupayakan pembicaraan bukan satu-satunya cara menghargai sebuah hubungan.

Ukur persahabatan dari mudahnya kembali dekat, bukan seringnya berkabar

Ada orang yang, meski baru bertemu lagi setelah enam bulan, tetap bisa diajak bercerita tentang kabar terbaru dengan santai. Sebaliknya, ada juga orang yang kamu hubungi setiap hari, tetapi membuatmu tegang ketika balasanmu sedikit terlambat.

Tidak perlu menetapkan satu definisi sahabat untuk semua orang. Di sini, bayangkan seorang teman yang membuatmu bisa menunjukkan sisi rapuh, yang ceritanya juga ingin kamu dengarkan, yang tetap berteman denganmu meski berbeda pendapat, dan yang mudah kamu temui kembali setelah masa sibuk berlalu.

Jika “selalu bisa diandalkan tanpa batas” dijadikan syarat kedekatan, kedua pihak bisa terbebani. Kamu boleh mengatakan, “Hari ini aku belum bisa,” lalu membantu pada hari lain. Hubungan lebih mungkin bertahan ketika kalian sama-sama bisa meminta bantuan dan menolak.

Tidak setiap pertemuan harus diisi dengan pembicaraan tentang persoalan hidup. Ada kalanya kalian pulang setelah hanya mengobrol tentang makanan yang baru disantap bersama. Kepercayaan tidak lantas berkurang karenanya.

Tidak perlu ikut mengurangi kenalan biasa

Memiliki beberapa teman dekat memang berharga, tetapi sayang jika itu membuatmu menyingkirkan kenalan yang hanya sesekali saling menyapa. Ada rekan kerja yang mengobrol tentang cuaca, orang yang kamu angguki saat berjalan-jalan, atau kenalan yang sesekali mengobrol di kegiatan hobi. Kalian tidak harus mengetahui cerita pribadi masing-masing untuk merasa senang saat berjumpa.

Dalam penelitian Sandstrom dan Dunn pada 2014, mahasiswa melaporkan perasaan lebih bahagia dan lebih merasa menjadi bagian dari lingkungan mereka pada hari-hari ketika mereka berinteraksi dengan lebih banyak teman sekelas daripada biasanya. Temuan ini memberi alasan untuk memperhatikan interaksi singkat dengan kenalan. Namun, hasilnya tidak berarti setiap orang perlu menambah interaksi, dan tidak menentukan jumlah teman yang ideal. Abstrak penelitian

Salah satu hal menyenangkan dari hubungan yang ringan adalah tidak harus selalu membahas hal mendalam. Cukup berkomentar tentang pertandingan kemarin atau toko yang baru buka. Hubungan yang boleh berhenti pada percakapan singkat seperti itu tidak perlu dipaksakan menjadi persahabatan dekat.

Dalam pertemanan di tempat kerja, jaga kedekatan sekaligus keadilan

Ketika ada orang yang bisa kamu tanyai dengan santai, “Untuk tugas ini, aku harus lihat informasinya di mana?”, kamu tidak selalu harus mencari jalan sendiri. Bisa berbicara singkat dengan seseorang yang sudah memahami konteks pekerjaan merupakan bentuk dukungan yang khas di tempat kerja.

Gallup melaporkan bahwa karyawan yang memiliki sahabat di tempat kerja sekitar tujuh kali lebih mungkin memiliki tingkat keterlibatan kerja atau engagement yang tinggi. Hubungan antara kedua hal ini tidak membuktikan bahwa mendapatkan satu teman akan membuat semangat kerja seseorang meningkat tujuh kali lipat. Penjelasan Gallup

Jika kamu dekat dengan seorang rekan kerja, pastikan keputusan kerja dan informasi yang diperlukan tetap dibagikan melalui tempat atau saluran yang dapat diakses pihak lain yang berkepentingan. Jangan jadikan informasi rahasia tentang kepegawaian atau pelanggan sebagai bahan obrolan. Dalam hubungan atasan dan bawahan, jangan biarkan kedekatan pribadi menentukan penilaian kinerja atau pembagian tugas. Batas-batas ini menjaga persahabatan sekaligus kepercayaan orang-orang di sekitar kalian.

Kedekatan juga tidak perlu langsung dianggap sebagai hubungan romantis. Apa pun gendernya, kamu boleh menghargai seseorang yang membuatmu merasa aman dan nyaman bekerja. Jika percakapan mulai hanya berisi keluhan, kamu bisa mengubah caranya: kembali membicarakan makan siang, membatasi waktu mengobrol, atau membawa masalah tersebut kepada pihak yang tepat untuk dimintai bantuan.

Saat merasa “tidak punya teman”, cari tahu apa yang sebenarnya kurang

Tidak memiliki teman untuk bertemu pada hari libur berbeda dengan tidak memiliki siapa pun untuk dihubungi saat kesulitan. Ada orang yang tidak punya seseorang yang mereka sebut “sahabat”, tetapi merasa cukup dengan interaksi bersama keluarga, rekan kerja, dan kenalan dari kegiatan hobi.

Sebelum menghitung jumlah teman, coba tanyakan hal-hal berikut kepada diri sendiri.

  • Adakah seseorang yang bisa kamu hubungi saat ingin bercerita sedikit tentang kabar terbaru?
  • Saat ada masalah, apakah kamu tahu siapa yang bisa dimintai saran atau layanan bantuan mana yang bisa dihubungi?
  • Apakah kamu menikmati waktu sendiri, atau sebenarnya ingin berbicara dengan seseorang tetapi sudah menyerah?

Jika yang kurang adalah teman mengobrol santai, kamu tidak harus langsung mencari sahabat. Mulailah dengan satu kesempatan untuk bertemu orang, lalu menyapa atau berbicara sebentar. Jika seluruh dukunganmu bertumpu pada satu orang, mengenali kenalan lain atau layanan bantuan juga bisa membuat orang itu tidak harus menanggung semuanya.

Kamu juga bisa menuliskan pikiran kepada AI untuk memperjelas apa yang ingin dibicarakan. Namun, jangan memasukkan rahasia orang lain atau informasi rahasia tempat kerja, dan jangan memakai jawabannya untuk menilai isi hati seseorang. Meminta bantuan langsung kepada orang lain dan menghabiskan waktu bersama mereka tidak harus dialihkan ke satu alat yang sama.

Ubah satu hal saja pada ajakan berikutnya

Jika ingin meninjau kembali hubunganmu, coba sesuaikan satu rencana pertemuan sebelum mengurangi daftar teman. “Kali ini satu jam saja, ya.” “Minggu ini aku mau istirahat. Aku ingin ketemu bulan depan.” Jika kalian masih bisa menikmati pertemuan dengan batas itu, mungkin orangnya memang ingin kamu pertahankan, sedangkan yang ingin kamu kurangi adalah tekanan untuk memaksakan diri.

Teman untuk berbicara dari hati ke hati, teman untuk menikmati makanan, dan kenalan yang kamu sapa saat berjumpa masing-masing punya nilai tersendiri. Tidak semua hubungan harus sama eratnya. Sisakan ruang untuk menikmati kebersamaan sekaligus beristirahat.

Bagikan artikel ini

Jika artikel ini bermanfaat, Anda bisa mendukung situs ini. Dukung

Iklan
Iklan
Iklan

Satu lagi? Ada yang seru?

Mumpung sudah selesai membaca: beberapa cerita yang mirip dan beberapa yang beda sama sekali tapi seru.

  1. Topik serupaKenapa Klinik Kesehatan Mental Wajibkan Masker, dan Boleh Nggak Pasien Ditolak Kalau Nggak Beli?
  2. Orang Tua Menyita HP Anak DewasaBentuk Perhatian atau Kontrol?
  3. Beda sama sekali, tapi seruSeptember di pedalaman Jepang belum benar-benar musim gugurperjalanan satu malam dari Matsumoto dan Suwa ke Tajimi dan Mizunami, dengan museum ber-AC dan makanan porsi “rusak skala”
  4. Demon Slayer di JoyfullKenapa Jurus Air Giyu Malah Jadi Daging?
  5. Kenapa Chiikawa selalu makan?Makanan, rumput liar, monster, kerja, dan rating 10+
  6. Mengapa Hutan Akita Tak Tampak Seperti Jepang?Hutan Cedar Pascaperang

Baca ini hari ini

Masing-masing menjawab pertanyaan yang biasanya muncul setelah membaca artikel ini.

Lihat semua artikelLebih banyak tentang Teman dan pergaulan

Cari artikel lain

Semua artikel

Mendoi-chan

Pengelola situs

Mendoi-chan

Mengubah kerepotan di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari menjadi struktur yang jelas dan langkah berikutnya.