Mengapa Ada Orang yang Berteriak di Gym?

Kalau cukup lama berlatih di pusat kebugaran, cepat atau lambat Anda akan mendengarnya.

Pendahuluan: bos-bos mini di ruang latihan beban

Kalau cukup lama berlatih di pusat kebugaran, cepat atau lambat Anda akan mendengarnya.

“Hngh.”
“Duhh.”
“Hup.”
“Doryaa!”

Orang yang mengeluarkan suara itu mungkin sedang sangat serius menjalani set latihannya. Namun dari sudut pandang orang lain, bunyinya bisa seperti ada Ganondorf kecil yang baru muncul di dekat rak squat.

Jadi, suara itu sebenarnya apa? Hanya gaya-gayaan, atau mengeluarkan suara memang bisa membantu menghasilkan tenaga?

Jawaban singkatnya: dalam situasi tertentu, mengeluarkan suara dapat meningkatkan tenaga untuk sesaat. Ini bukan trik universal yang selalu bekerja pada semua latihan. Dan soal apakah seseorang perlu berteriak sampai seluruh ruangan mendengarnya adalah perkara yang berbeda lagi.

Suara tidak serta-merta membuat otot menjadi lebih kuat. Yang lebih mungkin, suara itu bekerja seperti sakelar yang membantu menyelaraskan pernapasan, pengencangan perut untuk menstabilkan tubuh bagian tengah, waktu gerakan, kesiagaan tubuh untuk bereaksi, dan dorongan mental kepada diri sendiri.

Dalam arti itu, “hup”, seruan usaha dalam bahasa Jepang “yoisho”, dan “Doryaa!” masih satu keluarga. Namun jika volumenya dan dramanya terus ditambah, orang biasa di pusat kebugaran mulai tampak berubah menjadi raja iblis.


Mengapa orang berkata “hup” atau “yoisho” saat mengangkat benda berat?

Banyak orang secara spontan mengeluarkan suara saat mengangkat kotak berat, menaiki anak tangga yang tinggi, atau bangkit dari kursi.

Itu tidak selalu sekadar kebiasaan bicara. Suara pendek dapat membantu menyatukan pernapasan, ketegangan tubuh bagian tengah, dan waktu gerakan tepat ketika tenaga harus dikeluarkan.

Saat mengangkat sesuatu yang berat, tubuh biasanya mengencangkan bagian tengah tanpa perlu dipikirkan secara sadar. Perut dikencangkan, lalu napas dapat ditahan sebentar atau dikeluarkan dengan cepat agar tubuh tetap stabil dan tenaga tersalurkan dengan baik.

Di saat itulah suara bisa lolos:

“Hup.”
“Yoisho.”
“Ugh.”
“Doryaa.”

Jadi, suara bisa menjadi akibat dari usaha sekaligus isyarat untuk melakukan usaha. Bunyi-bunyi aneh di tempat latihan pada dasarnya hanyalah versi yang lebih ekstrem dari fenomena sehari-hari yang sama.

Tentu saja, tingkat dramanya berbeda-beda. Ada yang berhenti di “hup”. Ada yang naik menjadi “Doryaa!”. Ada juga yang terdengar seolah-olah segel seekor iblis baru saja dibuka.


Apakah mengerang atau berteriak benar-benar menambah kekuatan?

Penelitian menunjukkan bahwa berteriak atau mengeluarkan suara dapat memengaruhi produksi tenaga dalam situasi tertentu.

Sebagai contoh, beberapa penelitian menemukan bahwa berteriak dapat meningkatkan tenaga terbesar yang bisa dihasilkan seseorang secara sadar, yang dalam istilah ilmiah disebut gaya volunter maksimal, pada tugas menggenggam dengan tangan. Penelitian tahun 2021 juga menunjukkan kemungkinan hubungan dengan seberapa mudah bagian otak yang mengirim perintah gerak dapat diaktifkan, yang disebut eksitabilitas korteks motorik. Penelitian lain pada 2022 juga melaporkan peningkatan tenaga genggam sadar selama usaha maksimal yang dipertahankan ketika peserta berteriak.

Dalam tenis, mengeluarkan suara tepat saat memukul bola — erangan usaha yang biasa terdengar pada pemain — dikaitkan dengan kecepatan dan tenaga yang lebih tinggi pada servis dan pukulan sisi depan, yang biasa disebut forehand. Penelitian lain melaporkan kecepatan bola yang lebih tinggi tanpa peningkatan besar pada jumlah oksigen yang digunakan tubuh, yaitu konsumsi oksigen, maupun pada seberapa berat usaha itu dirasakan pemain.

Jadi, gagasan bahwa suara dapat membantu pada ledakan tenaga singkat bukan sekadar khayalan.

Namun ada batas penting. Mengeluarkan suara bukan sihir dan tidak membuat semua gerakan menjadi lebih kuat. Penelitian yang lebih lama dengan tes tenaga berupa gerakan mengangkat beban dari lantai, mirip deadlift, tidak menemukan peningkatan signifikan pada tenaga maksimal akibat mengerang.

Dalam praktiknya, efek itu dapat berbeda-beda tergantung gerakan, situasi, waktu, kondisi psikologis, dan seberapa terbiasa orang tersebut menggunakan suara saat berusaha.

Ringkasnya:

  • Mengeluarkan suara dapat membantu pada usaha singkat yang sangat berat.
  • Manfaatnya mungkin lebih terasa pada tugas seperti menggenggam, memukul, atau melakukan pukulan tenis.
  • Suara tidak menjamin performa yang lebih baik pada semua latihan kekuatan.
  • Lebih keras tidak otomatis berarti lebih kuat.

Dengan kata lain, “hup” kecil mungkin sudah memuat inti manfaatnya. Begitu bunyinya berubah menjadi “Doryaa!” yang memenuhi seluruh ruangan, tenaga bukan lagi satu-satunya unsur. Semangat, dorongan kepada diri sendiri, aksi teatrikal, dan energi bos mini juga ikut masuk ke dalam set.


Apa yang terjadi di tubuh ketika seseorang mengeluarkan suara?

Suara saat latihan biasanya melibatkan lima unsur.

1. Menstabilkan tubuh bagian tengah

Saat memindahkan beban berat, tubuh bagian tengah yang tidak stabil dapat menghambat penyaluran tenaga. Karena itu, orang mengencangkan perut dan menstabilkan batang tubuh. Tindakan ini meningkatkan tekanan di dalam rongga perut; peningkatan tersebut disebut tekanan intraabdomen.

Sebagian udara dapat tetap ditahan sambil mengeluarkan napas pendek, sehingga “hup” atau “ngh” muncul secara alami.

2. Menandai waktu gerakan

Suara dapat menjadi isyarat waktu pribadi.

Bagian tersulit dari gerakan mendorong beban sambil berbaring (bench press), gerakan jongkok berbeban (squat), atau gerakan mengangkat beban dari lantai (deadlift) biasanya membutuhkan dorongan kuat pada saat yang sangat tepat. Suara pendek dapat menandai saat itu dan membantu menyelaraskan gerakan dengan usaha.

Kata yang diucapkan tidak sepenting waktunya. “Hup”, “yoisho”, dan “Doryaa” dapat menjalankan fungsi yang sama jika bunyi itu menjadi semacam sakelar bagi orang yang mengangkat beban.

3. Mengaktifkan sistem saraf

Usaha maksimal tidak hanya bergantung pada otot. Yang juga penting adalah seberapa kuat otak mengaktifkan otot dan mengirim perintah untuk menghasilkan tenaga; proses ini disebut rekrutmen saraf.

Berteriak juga dapat meningkatkan tingkat aktivasi atau kesiagaan, yaitu seberapa siap pikiran dan tubuh untuk segera bereaksi, sekaligus memperkuat perasaan “sekarang, dorong”. Penelitian menunjukkan bahwa teriakan mungkin berkaitan dengan perubahan pada aktivitas sistem motorik.

Sederhananya, suara dapat berfungsi seperti perintah dari otak kepada tubuh: “Sekarang.”

4. Melewati bagian tersulit

Pada repetisi terakhir dari set yang berat, kadang-kadang pikiran menyerah sebelum otot benar-benar mencapai batasnya.

Ledakan suara dapat sedikit melepaskan rem psikologis itu.

“Terlalu berat” berubah menjadi “Doryaa!”.

Hal itu dapat membantu dalam beberapa kasus. Tetapi jika seseorang membutuhkan teriakan maksimal pada setiap repetisi, pernapasan atau tekniknya bisa mulai berantakan.

5. Aksi dan kehadiran

Ini bagian yang agak canggung, tetapi memang ada.

Ada pula unsur teatrikal: versi diri yang mengangkat beban sangat berat, mencapai batas, lalu menjadi pemeran utama dalam pertarungan terakhirnya sendiri.

Dari sudut pandang orang yang mengangkat, itu adegan heroik. Dari sudut pandang orang lain, istana raja iblis baru saja muncul di sebelah mesin dorong kaki.


Apakah “Doryaa!” bisa menjadi isyarat yang baik saat mengangkat beban?

Sebenarnya, bisa.

“Doryaa!” punya ritme. Ada niat. Ada usaha. Dan bunyinya juga mencurigakan seperti nama jurus pamungkas.

Kira-kira pengelompokannya seperti ini:

Suara Kesan
“Yoisho” Usaha sehari-hari
“Yokkora-se” Seruan Jepang saat bangkit dengan susah payah
“Hup” Usaha normal saat latihan
“Doryaa!” Jurus khusus
“Hngh, duhh” Bos mini mulai bangun
“Nuaaagh!” Mode Ganondorf

“Doryaa” yang pelan bisa sekadar menjadi isyarat pribadi. “Doryaa” yang mengguncang ruangan mengumumkan bahwa pertarungan bos sudah resmi dimulai untuk seluruh ruangan.

Masalahnya bukan terutama jenis bunyinya, melainkan volumenya.


Apakah mengerang termasuk etika buruk di pusat kebugaran?

Sedikit suara itu normal.

Mengangkat beban berat melibatkan pernapasan, stabilisasi tubuh bagian tengah, dan usaha keras. Jadi, mengharapkan keheningan mutlak pada setiap set yang mendekati batas bukan hal yang realistis.

Namun teriakan yang terdengar ke seluruh ruangan adalah persoalan lain. Pusat kebugaran adalah ruang bersama. Konsentrasi Anda penting, tetapi konsentrasi orang lain juga penting.

Suara lebih mungkin menjadi masalah ketika:

  • seseorang berteriak keras pada setiap set;
  • volumenya sangat besar dibandingkan dengan usaha yang dilakukan;
  • orang di sisi lain ruangan sampai menoleh;
  • bunyinya terasa agresif atau mengintimidasi;
  • teriakan disertai alat atau beban yang dibanting.

Pada titik itu, gangguan yang ditanggung seluruh ruangan dapat lebih besar daripada manfaat bagi latihan.

Mekanisme yang mungkin berguna bukanlah volume maksimal. Yang penting adalah koordinasi pernapasan, stabilisasi tubuh bagian tengah, waktu gerakan, dan tingkat kesiagaan. Artinya, bagian yang bermanfaat mungkin bisa dipertahankan tanpa membuat seluruh gedung ikut mendengar.


Jika Anda ingin mengeluarkan suara saat latihan

Anda tidak harus memaksa diri untuk sepenuhnya diam.

Jalan tengah yang praktis antara lain:

  • gunakan suara pendek seperti “hup” atau “fuh”;
  • simpan suara yang lebih kuat untuk repetisi terakhir yang benar-benar berat;
  • jangan terlalu tenggelam dalam adegan pertarungan bos di depan cermin;
  • kurangi volume jika orang di sekitar mulai menoleh;
  • jangan gabungkan teriakan dengan membanting alat atau beban;
  • tetap utamakan pernapasan dan teknik.

Gunakan suara sebagai isyarat. Hanya saja, jangan membangun istana raja iblis di sekitar rak beban.


Jika orang lain terlalu berisik

Jika teriakan orang lain mengganggu konsentrasi, menghadapi orang itu secara langsung biasanya bukan langkah pertama yang paling baik.

Seseorang yang sedang berada di tengah set maksimal mungkin sudah punya musik pertarungan di kepalanya. Perdebatan hanya akan menambahkan fase kedua bos yang sama sekali tidak perlu.

Pilihan yang lebih praktis:

  • gunakan headphone atau earphone;
  • pindah ke area lain;
  • berlatih pada jam yang berbeda;
  • jika suaranya berlebihan, sampaikan dengan tenang kepada petugas.

Kalimat sederhana yang bisa digunakan:

Suara beberapa pengguna cukup keras dan bisa mengganggu konsentrasi saat latihan. Jika memungkinkan, bisakah petugas mengingatkan kembali aturan mengenai kebisingan di tempat ini?

Itu sudah cukup.

Mungkin Anda ingin mengatakan, “Ada Ganondorf di dekat halter,” tetapi petugas resepsionis kemungkinan akan lebih terbantu oleh versi yang sudah diterjemahkan.


Kesimpulan: suara bisa membantu, tetapi mode Ganondorf adalah masalah lain

Mengeluarkan suara saat latihan kekuatan bukan sekadar takhayul.

Berteriak atau mengerang dapat membantu sebagian orang menghasilkan sedikit lebih banyak tenaga untuk sesaat. Pernapasan, stabilisasi tubuh bagian tengah, waktu gerakan, aktivasi sistem saraf, dan dorongan mental kepada diri sendiri dapat bekerja bersama untuk membantu menyelesaikan repetisi yang sulit.

Namun manfaat yang mungkin ada tidak membenarkan teriakan yang memenuhi seluruh pusat kebugaran.

Inti dari mengeluarkan suara bukan kebisingan. Intinya adalah menyelaraskan tubuh dan otak pada saat tenaga dikeluarkan.

Jadi, kesimpulannya:

“Yoisho” adalah kebijaksanaan praktis sehari-hari.
“Doryaa!” adalah jurus khusus.
“Hngh, duhh” adalah mode bos mini.
Suara mungkin membantu, tetapi seluruh pusat kebugaran tidak perlu berubah menjadi istana raja iblis.

Sedikit suara bisa menjadi bumbu. Pada volume penuh, hasilnya menjadi Ganondorf.

Orang yang benar-benar berlatih keras bisa berusaha maksimal tanpa memaksa semua orang di sekitarnya ikut masuk ke pertarungan bos.


Referensi

Mendoi-chan

Ditulis oleh

Mendoi-chan

Mengubah kerepotan di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari menjadi struktur yang jelas dan langkah berikutnya.

Tentang situs