Memberi Itu Tidak Salah, tapi Memberi ke Semua Orang Bikin Kamu Kehabisan Tenaga

Cara memakai fitur membaca

Dengarkan membacakan artikel. Baca cepat menampilkan frasa berurutan dengan kecepatan pilihan Anda. Latihan bahasa membandingkan terjemahan yang tersedia. Simpan menambahkan penanda di browser ini; buka kembali dari daftar tersimpan di pemutar.

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Iklan
Iklan

Di tempat kerja mana pun, pasti ada orang yang peka terhadap sekitarnya.

Kalau ada yang kesulitan, dia membantu.

Kesalahan orang lain, dia tutupi.

Kalau dimintai tolong, dia tidak pernah menolak.

Dia mengambil pekerjaan karena "lebih cepat kalau aku yang kerjakan".

Dia selalu bilang, "Nggak apa-apa kok."

Chat langsung dibalas, bahkan tengah malam.

Orang seperti ini bertanggung jawab, cakap, dan tulus.

Tapi di saat yang sama, mereka juga yang paling gampang burnout.

Sebabnya, mereka tidak memilih kepada siapa dan untuk apa mereka memberi.

Memberi itu tidak salah.

Masalahnya, waktu, pikiran, dan tenaga diserahkan ke siapa saja dan untuk apa saja.

Inilah yang kita sebut "pemberi tanpa pilih-pilih".


Pemberi tanpa pilih-pilih berubah jadi infrastruktur gratis

Awalnya, pemberi tanpa pilih-pilih memang dapat ucapan terima kasih.

Tapi kalau terus begitu, cara orang memperlakukannya berubah.

"Dia pasti mau bantu" "Lempar saja ke dia" "Dia nggak pernah nolak" "Sama dia mah boleh agak seenaknya" "Kalau kita kerepotan, dia yang nambal"

Kalau sudah begini, pemberianmu tidak lagi dihargai sebagai sesuatu yang bernilai, tapi jadi dianggap sudah seharusnya.

Kamu berubah jadi infrastruktur gratis.

Kamu melakukannya dengan niat baik, tapi orang-orang di sekitarmu memperlakukanmu seperti benda yang "memang sudah ada di situ".

Kalau keadaan ini berlanjut, terima kasih makin sedikit sementara beban makin berat.

Lalu suatu hari, kamu burnout.


Apa itu kerja yang merugi?

Kerja yang merugi adalah kerja yang makin kamu lakukan, makin menggerus waktu, pikiran, tenaga, dan masa depanmu.

Contohnya:

  • Kerja tambahan yang tidak dihargai
  • Menjaga suasana hati atasan
  • Mengurus emosi orang lain yang belum selesai
  • Pekerjaan yang tanggung jawabnya ada, tapi wewenangnya tidak
  • Terus-terusan membereskan kesalahan orang lain
  • Memikirkan pekerjaan berulang-ulang di kepala sampai hari libur
  • Membalas chat seketika tengah malam
  • Pekerjaan serabutan yang merusak hidupmu sendiri
  • Menanggung semuanya sampai orang lain tidak pernah berkembang

Dalam jangka pendek, mungkin kamu dianggap "orang baik" atau "penyelamat".

Tapi dalam jangka panjang, itu merugikan.

Sama saja dengan menghabiskan anggaran hidupmu di tempat yang tidak akan pernah mengembalikannya.


Jadilah pemberi yang selektif

Solusinya bukan berhenti memberi.

Tapi menjadi pemberi yang selektif.

Pemberi yang selektif adalah orang yang memilih

kepada siapa, untuk tujuan apa, sampai batas mana, seberapa banyak, dan bagian dirinya yang mana yang akan diberikan.

Bukan orang yang tidak memberi apa-apa.

Justru, di tempat yang memang layak, dia memberi dengan sungguh-sungguh.

Hanya saja, dia memilih kepada siapa dan untuk apa.


Pertama, tentukan apa yang ingin kamu jaga

Untuk menjadi pemberi yang selektif, kamu perlu lebih dulu menentukan apa yang paling ingin kamu jaga.

Misalnya:

  • Kesehatanmu
  • Waktu luangmu
  • Keluarga atau pasangan
  • Teman yang bisa dipercaya
  • Hobi
  • Kerja sampingan
  • Investasi
  • Keahlianmu
  • Usahamu sendiri
  • Karya kreatif
  • Karier jangka panjang
  • Atasan atau rekan yang benar-benar ingin kamu jaga

Kalau bagian ini kabur, permintaan orang lain akan masuk semuanya.

Orang yang suaranya paling keras.

Orang yang kelihatan sibuk.

Orang yang sedang kesulitan.

Atasan.

Pelanggan.

Rekan kerja.

Waktumu pun terisi oleh permintaan mereka.

Karena itu, tentukan dulu apa yang ingin kamu jaga.

Lalu berikan di sana.


Hal yang boleh kamu beri

Pemberi yang selektif bukan orang yang tidak memberi.

Justru untuk hal-hal seperti ini, kamu boleh memberi:

  • Hal yang membuatmu berkembang
  • Hal yang jangka panjang jadi aset
  • Hubungan dengan orang yang bisa dipercaya
  • Hubungan yang saling menghormati
  • Sistem yang membuat hasil kerja seluruh tim bisa diulang
  • Pekerjaan yang sesuai nilai-nilaimu
  • Keahlian yang akan tetap ada di masa depanmu
  • Dukungan untuk orang yang ingin kamu jaga
  • Usaha, karya, dan tulisan atau konten milikmu sendiri
  • Bantuan untuk atasan yang benar-benar kamu hormati

Memberi untuk hal-hal ini bisa menjadi investasi, bukan kerugian.


Hal yang perlu diwaspadai agar tidak memberi berlebihan

Sebaliknya, hal-hal berikut perlu diwaspadai:

  • Pelimpahan tanggung jawab
  • Dijadikan tukang serabutan
  • Emosi orang lain yang belum selesai
  • Menjaga suasana hati atasan
  • Kerja tambahan yang tidak dihargai
  • Menanggung semuanya sampai orang lain tidak berkembang
  • Selalu membereskan kesalahan orang yang sama
  • Pekerjaan yang dilimpahkan dengan alasan "kamu pasti bisa"
  • Beban pikiran soal kantor yang menyerbu hari libur dan malam hari
  • Pekerjaan yang tanggung jawabnya ada, tapi wewenangnya tidak

Kalau kamu memberi tanpa batas untuk hal-hal ini, kamu akan burnout.


Berusaha keras demi atasan itu sendiri tidak salah

Bagian ini perlu dilihat secara adil.

Berusaha keras demi atasan itu sendiri tidak salah.

Kamu memang menghormati atasan itu.

Kamu ingin membantunya.

Kamu ingin membangun hubungan yang saling percaya.

Dalam jangka panjang, itu akan terbayar.

Dan sejalan dengan nilai-nilaimu.

Kalau kamu merasa begitu, silakan memberi.

Masalahnya adalah kondisi seperti ini:

Sebenarnya bukan hal yang ingin kujaga tapi aku nggak bisa menolak nggak mau dimarahi nggak mau dibenci takut dinilai jelek suasana memaksaku mengerjakannya tahu-tahu sudah jadi tukang serabutan

Ini bukan memberi, tapi kerja yang merugi.


"Aku saja yang kerjakan, lebih cepat" adalah kalimat yang berbahaya

Makin cakap seseorang, makin mudah berpikir begini:

Aku saja yang kerjakan, lebih cepat

Memang, dalam jangka pendek itu lebih cepat.

Tapi kalau kamu lakukan setiap kali, yang terjadi adalah:

  • Orang lain tidak berkembang
  • Pekerjaanmu bertambah
  • Orang di sekitarmu jadi bergantung
  • Pekerjaan itu hanya bisa dikerjakan olehmu
  • Kamu jadi tukang serabutan
  • Waktumu habis

"Aku saja yang kerjakan, lebih cepat" mungkin efisien dalam jangka pendek, tapi bisa merugi dalam jangka panjang.

Yang benar-benar penting adalah memilih di antara ini:

Aku kerjakan sendiri kali ini saja? Membuat orang itu paham cara mengerjakannya? Menjadikannya sistem? Menolak?


Burnout adalah yang paling menakutkan

Yang paling menakutkan bukan menolak dalam jangka pendek.

Tapi burnout.

Kalau terus jadi pemberi tanpa pilih-pilih:

  • Saraf terkikis
  • Jam tidur berkurang
  • Hobi hilang
  • Hari libur pun memikirkan pekerjaan
  • Jadi tidak suka pada orang lain
  • Amarah makin banyak
  • Waktu yang bisa jadi aset untuk dirimu sendiri lenyap
  • Akhirnya sampai pada "aku sudah nggak sanggup apa-apa lagi"

Kalau sudah sampai sini, pemulihannya butuh waktu lama.

Kebaikan dan rasa tanggung jawab bukan sumber daya yang tak terbatas.

Karena itu, sebelum burnout, kamu perlu menyesuaikan seberapa banyak yang kamu beri dan ke mana arahnya.


Pertanyaan yang perlu diajukan sebelum memberi

Sebelum menerima sesuatu, coba tanyakan ini pada dirimu:

  • Apakah ini terhubung dengan hal yang ingin kujaga?
  • Apakah ini akan jadi aset jangka panjang?
  • Apakah ini hubungan yang membuat orang itu juga menghormatiku?
  • Apakah ini benar-benar hal yang harus kukerjakan?
  • Apakah aku merampas kesempatan orang lain untuk berkembang?
  • Apakah ini hanya sekali, atau akan terus berlanjut?
  • Apakah ini akan kembali padaku sebagai penghargaan, imbalan, atau kepercayaan?
  • Apakah ini tidak merusak kesehatan atau waktu luangku?
  • Apakah ini sebenarnya boleh kutolak?
  • Apakah ini kerja yang merugi?

Tidak harus YA untuk semuanya.

Tapi kalau TIDAK terus bermunculan, sebaiknya berhenti sejenak.


Kalimat yang bisa dipakai

Saat menolak atau membatasi cakupan, singkat saja sudah cukup.

1. Cek dulu, baru jawab

Saya cek dulu, nanti saya kabari lagi.

2. Batasi cakupan

Sampai di sini bisa saya tangani. Selebihnya perlu diatur terpisah.

3. Jangan langsung menerima

Saya cek dulu prioritasnya dengan pekerjaan yang sedang berjalan, baru saya putuskan.

4. Kembalikan ke orangnya

Saya bagikan langkah-langkahnya supaya ke depannya bisa ditangani sendiri. Untuk berikutnya, tolong coba kerjakan sendiri dulu.

5. Tolak singkat yang memang tidak mungkin

Maaf, hari ini saya belum bisa menanganinya.

6. Kembalikan ke pengambil keputusan

Kalau saya kerjakan, pekerjaan lain akan terpengaruh, jadi mohon bantu tentukan prioritasnya.


Pilih ke mana pemberianmu diinvestasikan

Kemampuan memberi adalah kekuatan.

Kamu bisa membantu orang.

Kamu bisa melihat strukturnya.

Kamu bisa menambal celah.

Kamu bisa memperbaiki.

Kamu bisa menopang.

Itu kekuatan yang besar.

Tapi kekuatan, kalau salah diarahkan, akan dieksploitasi.

Kalau kamu menuang air tanpa batas ke kebun binatang yang penuh lubang, yang kosong justru botol minummu sendiri.

Karena itu, pemberian harus dipilih tujuan investasinya.

Alirkan ke hal yang ingin kamu jaga.

Alirkan ke hal yang akan tertinggal di masa depanmu.

Alirkan ke orang yang bisa dipercaya.

Alirkan ke sistem yang menjadi aset.

Dengan begitu, memberi tidak lagi merugi.


Ringkasan

Memberi itu tidak salah.

Justru, bisa memberi adalah kekuatan.

Tapi pemberi tanpa pilih-pilih, yang memberi ke siapa saja dan untuk apa saja, akan burnout.

Yang penting adalah:

  • Berhenti jadi pemberi tanpa pilih-pilih
  • Menjadi pemberi yang selektif
  • Menentukan apa yang ingin kamu jaga
  • Memberi kepada orang, masa depan, dan aset yang ingin kamu jaga
  • Tidak memberi berlebihan pada pelimpahan tanggung jawab, peran tukang serabutan, dan kerja yang merugi
  • Menarik batas sebelum burnout

Kamu tidak perlu berhenti jadi orang baik.

Tapi kamu juga tidak perlu jadi infrastruktur gratis.

Kebaikan, rasa tanggung jawab, dan kecakapanmu bukan untuk dibagikan tanpa batas kepada siapa saja.

Cukup berikan dengan memilih, kepada hal yang ingin kamu jaga.


Baca ini hari ini

Masing-masing menjawab pertanyaan yang biasanya muncul setelah membaca artikel ini.

Lihat semua artikelLebih banyak tentang Pekerjaan

Bagikan artikel ini

Iklan

Cari artikel lain

Semua artikel

Mendoi-chan

Pengelola situs

Mendoi-chan

Mengubah kerepotan di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari menjadi struktur yang jelas dan langkah berikutnya.