Mudik ke keluarga pasangan bisa berarti tiket mahal, waktu libur, dan tekanan dari kerabat. Apa yang sebaiknya dibicarakan sebelum menjadikannya kewajiban rutin?
Tidak wajib mudik bersama setiap tahun. Pasangan bisa menentukan frekuensi kunjungan, siapa yang berangkat, dan siapa yang membayar. Seseorang boleh ingin bertemu orang tuanya sendiri. Menggunakan uang bersama dan seluruh liburan berdua perlu kesepakatan.
Kolom komentar berubah menjadi ruang sidang
Bayangkan video anjing naik di bak terbuka mobil pikap kecil. Ada yang mengatakan anjingnya tampak senang. Ada juga yang mengingatkan risiko jatuh. Keduanya bisa benar.
Tetapi sebagian komentar langsung menghakimi pemiliknya sebagai orang buruk. Peringatan keselamatan berubah menjadi vonis terhadap seluruh pribadi. Dari jauh, drama daring itu bisa terasa lucu. Kalau kebiasaan menghakimi tersebut hadir dalam acara makan keluarga, tawa mendadak hilang.
Setelah menikah, jaringan keluarga ikut meluas
Saat tinggal sendiri kita bisa mengurangi pertemuan dengan orang yang melelahkan. Setelah menikah, mertua, ipar, kerabat jauh, dan kebiasaan berkumpul saat Lebaran atau hari besar lain ikut hadir.
Banyak kerabat hangat dan suka membantu. Ada juga yang selalu mengomentari pekerjaan, rumah dan pengeluaran. Persoalannya bukan jumlah kerabat, melainkan siapa berhak menentukan peran mereka dalam rumah tangga.
Berapa biaya dua kali mudik setiap tahun?
Contoh rekaan dari Jepang: transportasi dan penginapan untuk dua orang menghabiskan 100.000 yen sekali kunjungan. Dua kali setahun berarti 200.000 yen; sepuluh tahun menjadi dua juta yen. Ini ilustrasi hitungan, bukan rata-rata biaya mudik. Oleh-oleh, cuti dan kenaikan tarif belum masuk.
Jika kunjungan menyenangkan, pengeluaran itu bisa sepadan. Kalau setiap tahun membayar tiket untuk mendengarkan penilaian atas pernikahan, paket langganan keluarganya terasa mahal sekali.
Survei di Jepang tahun 2026 kepada 1.055 orang tua dengan anak usia 0–12 tahun mencatat 543 menyebut kelelahan emosional dan 236 menyebut biaya sebagai beban berkunjung ke keluarga pasangan. Itu hanya hasil kelompok responden tersebut.[1]
Nasihat berbeda dari merendahkan
Risiko keselamatan memang patut dibicarakan. Begitu juga penggunaan tabungan bersama. Namun, «perbuatan ini berbahaya» berbeda dari «kamu manusia gagal».
Sampaikan batas kecil seperti «Saya kurang nyaman dengan cara bicara itu». Lihat apakah orang tersebut berubah. Jika terus mengulanginya, kurangi durasi pertemuan. Kita tidak wajib memperbaiki semua sifat kerabat. Nilai perilakunya, bukan usia atau jenis kelaminnya.
Orang tua sendiri, keputusan rumah tangga berdua
Pasangan boleh mengunjungi orang tuanya sendiri. Akan tetapi, menggunakan rekening bersama, mengajak pasangan ikut atau menerima tamu menginap di rumah perlu persetujuan. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa batasan sehat berarti menyatakan kebutuhan pribadi dengan jelas, bukan mengendalikan orang lain.[2]
Sebelum menikah, bicarakan empat hal: seberapa sering berkunjung? Bolehkah pergi sendiri? Dana siapa yang dipakai? Siapa memutuskan jika orang tua tidak setuju dengan kesepakatan suami istri?
Kesimpulan: keluarga bukan kartu akses tanpa batas
Mertua yang baik bisa membuat perjalanan jauh terasa menyenangkan. Hubungan yang rumit mungkin lebih cocok dengan kunjungan singkat atau menginap di hotel. Tidak perlu melarang pasangan bertemu orang tuanya. Cukup sepakati batas rumah, waktu dan uang berdua.
Pengadilan di kolom komentar bisa ditutup dalam satu sentuhan. Kalau setiap tahun perlu 200.000 yen untuk datang ke «pengadilan keluarga», sebaiknya bahas biayanya sebelum membeli tiket.
- [1] Shogakukan, survei HugKum terhadap 1.055 orang tua di Jepang, 12 Agustus 2026. https://hugkum.sho.jp/803483
- [2] Cleveland Clinic, “How To Set Healthy Boundaries”, 13 Februari 2026. https://health.clevelandclinic.org/how-to-set-boundaries
