Bukan temanmu yang berkurang. Jalur yang membuat pertemanan terbentuklah yang menghilang

Memasuki usia 30-an, banyak orang merasa jumlah teman mereka berkurang dibanding saat sekolah atau kuliah.

Cara memakai fitur membaca

Dengarkan membacakan artikel. Baca cepat menampilkan frasa berurutan dengan kecepatan pilihan Anda. Latihan bahasa membandingkan terjemahan yang tersedia. Simpan menambahkan penanda di browser ini; buka kembali dari daftar tersimpan di pemutar.

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Iklan
Iklan

Mengapa hubungan pertemanan sering menipis setelah usia 30-an: masalahnya bukan semata kepribadian, tetapi titik temu dan jalur untuk terus berhubungan

Memasuki usia 30-an, banyak orang merasa jumlah teman mereka berkurang dibanding saat sekolah atau kuliah.

Namun, mungkin lebih tepat mengatakan bukan “temannya berkurang”, melainkan lingkungan yang secara alami membuat pertemanan tumbuh sudah menghilang.

Saat masih sekolah atau kuliah, ada kelas, klub, organisasi, pekerjaan paruh waktu, laboratorium, dan tempat lain yang membuat kita bertemu orang yang sama berulang kali.

Setelah mulai bekerja, mekanisme seperti itu mendadak jauh lebih sedikit.

Frekuensi bertemu turun. Alasan untuk mengobrol berkurang. Menyamakan jadwal membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga.

Akibatnya, hubungan yang tadinya dekat perlahan menipis.

Ini sering kali lebih merupakan soal rancangan lingkungan daripada soal watak.

Ketika muncul pikiran, “Belakangan ini rasanya teman saya makin sedikit,” jangan langsung memeriksa apakah ada masalah pada kepribadianmu. Pertama-tama lihat apakah kehidupanmu sekarang masih memiliki titik temu: kesempatan alami untuk bertemu, berbicara, dan menjaga kontak yang memungkinkan pertemanan tumbuh.

Jika sebulan sekali pun tidak bertemu, hubungan mudah menipis

Hubungan antarmanusia sangat dipengaruhi oleh berapa banyak waktu yang benar-benar dibagi bersama.

Saat masih sekolah, kita bisa bertemu setiap hari tanpa perlu membuat janji. Setelah dewasa, pertemuan harus direncanakan.

Selesai bertemu, kita mungkin berkata, “Nanti kita ngobrol lagi di LINE.” LINE adalah aplikasi pesan.

Lalu sebulan berlalu tanpa satu pesan pun.

Bukan karena bertengkar. Bukan pula karena ada yang tiba-tiba tidak suka.

Hanya saja tidak ada kesempatan berikutnya yang secara otomatis mempertemukan mereka.

Kalau keadaan ini berlanjut, hubungan yang sebenarnya baik pun bisa menjadi semakin tipis.

Setelah dewasa, titik temu tidak muncul dengan sendirinya

Sekolah memiliki mekanisme yang sangat kuat untuk menciptakan pertemuan berulang: ruang kelas, lorong, klub, laboratorium, kantin, atau pekerjaan paruh waktu.

Kehidupan orang dewasa berbeda.

Rekan kerja belum tentu orang yang cocok dijadikan teman. Hari libur kadang habis untuk tidur dan memulihkan tenaga. Teman lama menikah, pindah kota, mengurus anak, atau sibuk dengan pekerjaan. Hobi bisa dilakukan sendirian. Akhir pekan habis untuk pekerjaan rumah dan urusan pribadi.

Dengan kata lain, kesempatan untuk bertemu tidak lagi disediakan oleh lingkungan secara otomatis.

Jika semuanya dibiarkan pasif, titik temu akan terus berkurang.

Teman yang berkurang bukan berarti “mereka tidak menyukaimu”

Saat hubungan menipis, mudah sekali menyimpulkan bahwa diri kita kurang menarik atau ada orang yang menjauh karena tidak suka.

Namun, sering kali yang menghilang bukan rasa suka, melainkan pemicu untuk bertemu.

Ada teman lama yang hanya bisa ditemui setahun sekali. Begitu bertemu, obrolan tetap mengalir berjam-jam dan semua orang masih tertawa seperti dulu.

Hubungan itu tidak rusak.

Jalur yang membuat mereka bertemu saja yang hilang.

Memisahkan dua hal ini penting. Kalau masalahnya adalah jalur, solusi yang dibutuhkan bukan membedah kepribadian, melainkan membuat kesempatan untuk terhubung kembali.

Pertemanan orang dewasa perlu jalur yang sengaja dipelihara

Membuat jalur bukan berarti memperlakukan persahabatan seperti proyek atau memanipulasi orang lain.

Maksudnya sederhana: jangan mengandalkan kebetulan untuk semua pertemuan.

Misalnya:

  • membuat jadwal makan bersama secara berkala;
  • mengirim artikel, buku, film, atau informasi acara yang mengingatkan kita pada seseorang;
  • mengikuti komunitas hobi;
  • bekerja sesekali dari ruang kerja bersama;
  • ikut kelas olahraga;
  • datang ke kegiatan komunitas setempat yang bisa dikunjungi berulang kali.

Yang penting bukan banyaknya kegiatan, melainkan adanya jalur yang membuat orang yang sama bisa bertemu lagi.

Teman lama dan teman baru perlu dipikirkan dengan cara berbeda

Untuk teman yang sudah ada, sering kali kita hanya perlu menghidupkan kembali jalur yang sempat terputus.

Pesannya tidak perlu panjang.

  • “Baru lihat artikel ini dan langsung kepikiran kamu.”
  • “Mau makan bareng dalam waktu dekat?”
  • “Film ini kayaknya bakal cocok banget buat kamu.”

Sementara itu, untuk membuat teman baru, yang lebih penting adalah menempatkan diri secara berulang di sekitar orang yang sama.

Ruang kerja bersama, kelas, kegiatan sukarela, kelompok belajar, atau klub olahraga lebih cocok untuk itu daripada acara satu kali yang pesertanya selalu berganti.

Pertemanan jarang lahir dari satu percakapan hebat. Ia lebih sering tumbuh dari pertemuan kecil yang berulang.

Kalau sepenuhnya pasif, titik temu bisa makin mendekati nol

Pada masa sekolah, kita bisa pasif dan tetap bertemu banyak orang karena jadwal harian mempertemukan kita.

Setelah dewasa, mekanisme itu tidak lagi otomatis.

Karena itu, kalau kita menunggu semua undangan datang dari orang lain, jumlah kesempatan bertemu bisa terus turun.

Ini bukan berarti semua orang harus menjadi ekstrovert atau memaksa diri bersosialisasi setiap minggu.

Cukup tambahkan satu jalur yang bisa bertahan.

Satu teman yang sesekali kita hubungi. Satu tempat yang bisa kita datangi lagi. Satu kegiatan yang membuat kita bertemu orang yang sama lebih dari sekali.

Pertemanan orang dewasa berubah dari “bertambah secara alami” menjadi “dipelihara dengan sengaja”

Perubahan ini mudah disalahartikan sebagai kegagalan pribadi.

Padahal, sering kali yang berubah adalah lingkungan.

Dulu, sekolah menyediakan jalur. Sekarang, kita perlu menyisakan atau membuat sendiri sebagian jalur itu.

Jadi, ketika merasa teman berkurang, jangan mulai dari pertanyaan, “Apa yang salah dengan saya?”

Mulailah dari pertanyaan, “Dalam hidup saya sekarang, di mana saya bisa bertemu orang yang sama lagi?”

Kalau jawabannya hampir tidak ada, ada dua langkah sederhana: kirim pesan singkat kepada satu teman lama, atau masuk ke satu tempat yang memang bisa didatangi berulang kali.

Pertemanan tidak harus dimulai dari ambisi besar untuk menjadi orang yang sangat supel.

Sering kali, ia mulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: masih adanya jalur untuk bertemu lagi.

Bagikan artikel ini

Iklan

Cari artikel lain

Semua artikel

Mendoi-chan

Ditulis oleh

Mendoi-chan

Mengubah kerepotan di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari menjadi struktur yang jelas dan langkah berikutnya.

Tentang situs
Iklan

Artikel terbaru

  1. 1Saat Zero Mundur, Ksatria Hitam Seharusnya Ikut Mundur|Todo dan Batas Organisasi yang Terlalu Bergantung pada Zero
  2. 2Neraka bagi penonton yang harus menunggu dari Episode 25 musim pertama hingga R2|Dari akhir dengan pistol saling terarah hingga awal dengan ingatan yang diubah
  3. 3Blue Moon bukan Bulan yang berwarna biru
  4. 4Ketika kecantikan tidak lagi mengendalikan keputusan: hilangnya urgensi romantis dan munculnya prioritas pada kecocokan serta desain hidup
  5. 5“Katanya aku nggak pernah balas” padahal selalu membalas — apa yang terjadi ketika mesin percakapan dibebankan ke satu orang

Baca juga

Iklan