Kenapa Mengkritik Struktur Itu Beda dengan Menjelek-jelekkan Orang

Dalam keseharian, ada banyak momen yang bikin kita mikir, "Apa-apaan ini?"

Cara memakai fitur membaca

Dengarkan membacakan artikel. Baca cepat menampilkan frasa berurutan dengan kecepatan pilihan Anda. Latihan bahasa membandingkan terjemahan yang tersedia. Simpan menambahkan penanda di browser ini; buka kembali dari daftar tersimpan di pemutar.

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Iklan
Iklan

Rangsangan yang masuk ke wilayahmu boleh dianalisis. Mengarang isi hati, tubuh, atau persetujuan orang lain sudah termasuk pelanggaran

Dalam keseharian, ada banyak momen yang bikin kita mikir, "Apa-apaan ini?"

Orang yang berteriak keras di gym. Anak kecil yang volumenya kelewat besar di tempat umum. Pakaian yang kelihatannya salah ukuran. Gaya berpakaian yang gampang menarik mata.

Kalau melihat hal-hal seperti ini, kita gampang tergoda untuk menempelkan label.

"Ganondorf-nya gym" (tokoh penjahat bertubuh besar di gim video) "Anak SD yang jadi konser berjalan" "Rute rawa lampu merah" "Kebun binatang bolong-bolong"

Label seperti ini, kalau dipakai dengan pas, memang seru. Tapi tidak semuanya bisa dijadikan artikel.

Ada yang jadi kritik terhadap struktur. Ada yang cuma jadi ejekan. Ada pula yang sudah mendekati pelanggaran terhadap orang lain.

Apa bedanya?

Kesimpulannya dulu: garis pembatasnya cukup sederhana.

Rangsangan atau gangguan yang masuk ke wilayahmu sendiri boleh dianalisis. Tapi mengarang isi hati, tubuh, atau persetujuan orang lain itu berbahaya.


Kenapa "Ganondorf-nya gym" bisa jadi artikel

Di gym, orang yang mengangkat beban berat mengeluarkan teriakan keras.

"Nnngh!" "Dwaah!" "Raaah!"

Mungkin dia memang sedang berlatih sungguh-sungguh. Mungkin dia sedang menahan tekanan perut. Mungkin dia cuma menyemangati diri.

Tapi bagi orang di sekitarnya, kalau suaranya terlalu keras, konsentrasi jadi buyar.

Yang kita bahas di sini bukan tubuh orang itu sendiri. Bukan juga kepribadiannya. Dan bukan pula menebak-nebak isi kepalanya secara sepihak.

Yang dibahas terutama ini:

  • Gym sebagai ruang publik
  • Teriakan keras sebagai rangsangan
  • Pengaruhnya pada konsentrasi orang di sekitar
  • Apakah berteriak benar-benar menambah kekuatan otot
  • Dari mana mulai dianggap tidak sopan

Jadi, "Ganondorf-nya gym" lebih tepat disebut analisis tentang bug volume di ruang publik ketimbang serangan pribadi.

Suaranya masuk ke telingaku. Konsentrasiku buyar. Karena itu, fenomenanya kuanalisis.

Yang seperti ini mudah dijadikan artikel.


"Anak SD yang jadi konser berjalan" juga bisa dibahas sebagai struktur

Di tempat umum, ada anak yang ribut dengan volume luar biasa.

Anak itu diberi label "anak SD yang jadi konser berjalan".

Sekilas kedengarannya keras. Tapi kalau inti artikelnya bukan serangan terhadap si anak, melainkan hal-hal seperti berikut, itu bisa dibahas sebagai struktur:

  • Masalah kebisingan di ruang publik
  • Perasaan bahwa orang tuanya sudah tidak bisa mengendalikan
  • Rasa saraf kita terkikis sedikit demi sedikit
  • Kenapa suara anak kecil terasa begitu menusuk
  • Bagaimana menjaga jarak
  • Bagaimana memulihkan diri

Artinya, meski sasarannya anak kecil, pusat tulisannya adalah suara, rangsangan, ruang publik, dan reaksi saraf kita sendiri.

Ini analisis terhadap rangsangan yang masuk ke wilayah sendiri.


Lalu kenapa "baju bekas orang gendut" berbahaya?

Sebaliknya, memakai label

"baju bekas orang gendut"

untuk orang yang mengenakan pakaian oversize itu sangat berisiko.

Kenapa?

Secara struktur, maksud yang ingin disampaikan memang bisa dimengerti.

Pakaian oversize kalau dipakai dengan pas kelihatan modis. Tapi kalau salah ukuran, jadinya seperti baju pinjaman. Yang muncul bukan kesan santai yang keren, tapi kesan salah beli ukuran.

Sampai sini, ini masih bisa dianggap kritik struktural soal fesyen.

Tapi begitu bilang "baju bekas orang gendut", ceritanya berubah.

Ungkapan itu bukan cuma bicara soal ukuran, tapi sekaligus merendahkan:

  • Orang yang bertubuh gemuk
  • Bentuk tubuh
  • Baju bekas
  • Kesan tidak cocok
  • Penampilan orang yang memakainya

Jadi, mata pisaunya tidak lagi mengarah ke "struktur", melainkan ke ciri fisik.

Di konteks publik, ini berbahaya.

Kalau isi yang sama diubah jadi struktur, jadinya begini:

Oversize kelihatan modis kalau ada gaya di baliknya. Tapi kalau salah ukuran, kelihatannya cuma seperti baju pinjaman.

Atau:

Beda antara oversize dan salah ukuran itu tipis sekali.

Dengan begitu, yang dibahas hanya tampilan pakaiannya. Sedangkan "baju bekas orang gendut" menyeret ejekan soal bentuk tubuh.

Memang tajam. Tapi korban sampingannya terlalu banyak.


"Pakaian bisa mengarahkan pandangan" tidak sama dengan "kamu pasti mau dilihat"

Pakaian punya kekuatan untuk mengarahkan pandangan.

Misalnya, ada kaus super besar dipadu bawahan pendek, sehingga bagian bawahnya hampir tak terlihat.

Otak si pengamat sesaat berpikir:

"Bawahnya mana?" "Rok?" "Celana pendek?" "Terusan?" "Cuma kaus?"

Informasinya kurang, jadi otak berusaha memastikan. Dalam arti tertentu, itu pengarahan pandangan.

Lalu kalau kebetulan sesuai selera, mata pun tertuju ke sana. Itu reaksi yang wajar.

Tapi mulai dari sini bahayanya muncul.

Pakaian yang menarik mata → "Kamu pasti mau dilihat, kan?" → "Kamu pasti mau jadi pusat perhatian, kan?" → "Jadi boleh dilihat" → "Jadi boleh dikomentari" → "Jadi boleh didekati dan diganggu"

Perubahan logika ini berbahaya.

Sebab, pakaian yang bisa mengarahkan pandangan dan orangnya setuju ditatap, dinilai, dikomentari, atau didekati oleh orang tak dikenal adalah dua hal yang sama sekali berbeda.

Singkatnya:

Mengarahkan pandangan bukan berarti mengarahkan persetujuan.

Ingin terlihat imut tidak sama dengan ingin dilihat semua orang. Ingin terlihat bagus bentuk tubuhnya tidak sama dengan ingin dinilai orang yang lewat. Memakai baju yang sedang tren tidak sama dengan bersedia menerima tatapan dan omongan orang asing.

Kalau ini dicampur, kita langsung terjun ke rute monyet, yaitu bertindak seperti makhluk yang cuma menuruti dorongan.


Yang berbahaya bukan "rasa suka"

Yang penting, perasaan suka itu sendiri tidak buruk.

Merasa itu imut. Merasa itu sesuai selera. Mata tertuju ke sana. Suka dengan siluetnya.

Sampai di sini semuanya wajar.

Yang berbahaya adalah menjadikan reaksi itu dasar untuk mengarang maksud atau persetujuan orang lain.

Aku suka → pasti dia memang mau memperlihatkannya → jadi aku boleh melihat → jadi aku boleh berkomentar

Perubahan logika inilah yang berbahaya.

Cara merapikannya dengan aman kira-kira begini:

Aku merasa suka. Makanya mataku sempat tertuju ke sana. Tapi aku tidak tahu maksud orang itu. Jadi aku tidak menatap lama-lama. Tidak berkomentar. Tidak mendekat. Cukup bilang dalam hati "siluetnya bagus", lalu lewat begitu saja.

Itu sudah cukup.

Selera itu bebas. Tapi jangan menjadikan selera sebagai hak.



Jangan menempelkan label pada hal yang bukan gangguan bagimu

Ada satu garis pembatas penting lagi.

Yaitu: jangan dengan sengaja menempelkan label untuk menyakiti orang pada hal yang bahkan bukan gangguan bagimu sendiri.

Misalnya, ada orang berteriak di gym dan konsentrasimu buyar. Ada suara keras di tempat umum dan sarafmu terkikis. Itu rangsangan yang masuk ke wilayahmu sendiri.

Makanya bisa dianalisis.

Tapi melihat pakaian atau tubuh orang yang sekadar lewat di jalan, padahal kamu tidak terganggu sama sekali, lalu menempelkan label yang kasar itu lain soal.

Di situ, penilaian, konsumsi, dan gosip jelek lebih gampang bercampur ketimbang kerugian atau gangguan yang betul-betul kamu alami.

Tentu saja orang bisa berpikir macam-macam dalam hati. "Aneh juga ya." "Aku suka." "Agak menarik perhatian." "Ini bukan seleraku."

Perasaan seperti itu memang tidak bisa dicegah.

Tapi tidak perlu dikatakan ke orangnya. Tidak perlu dijadikan artikel dan dipublikasikan. Tidak perlu menjadikan ciri atau penampilan orang sebagai label lalu dibagikan ke orang lain.

Kalau cukup diselesaikan dalam hati, biarkan saja lewat.

Ini juga sangat penting.

Merasa terganggu bukan berarti semuanya boleh diucapkan. Merasa terganggu bukan berarti semuanya boleh disampaikan ke orangnya. Apalagi menempelkan label pada hal yang bahkan bukan gangguan bagimu, hanya untuk menyakiti orang.

Menyusun struktur adalah alat untuk memahami dunia. Bukan alat untuk menusuk orang sembarangan.

Pisahkan "wilayahku" dan "wilayah orang lain"

Garis pembatas kali ini cukup rapi kalau diringkas dengan kalimat ini.

Rangsangan yang masuk ke wilayahmu boleh dianalisis. Tapi masuk seenaknya ke wilayah orang lain adalah pelanggaran.

Apa yang termasuk wilayahmu?

  • Suara yang masuk ke telingamu
  • Rangsangan yang menggerus konsentrasimu
  • Situasi yang membuatmu kesulitan
  • Kejadian yang memengaruhi indikator sarafmu
  • Masalah etika yang terjadi di ruang publik
  • Rasa tidak nyaman yang kamu rasakan sendiri

Semua ini boleh dianalisis.

Lalu apa yang termasuk wilayah orang lain?

  • Isi hatinya
  • Niat seksualnya
  • Apakah dia mau dilihat atau tidak
  • Persetujuannya
  • Tubuhnya
  • Bentuk tubuhnya
  • Kepribadiannya
  • Harga dirinya

Masuk seenaknya ke sini berbahaya.


Beda kritik struktur dan ejekan

Kritik struktur membahas fenomena.

Contohnya:

Kalau ada orang berteriak di gym, konsentrasi orang di sekitarnya terganggu. Tapi berteriak juga punya efek menahan tekanan perut dan menyemangati diri. Lalu, dari mana mulai dianggap tidak sopan?

Ini struktur.

Sementara ejekan menusuk ciri pribadi.

Orang itu aneh. Bentuk tubuh seperti itu ya begitu. Baju seperti itu pasti mau dilihat, kan? Dia itu tipe cewek yang begitu, kan?

Ini mengonsumsi orang lain secara sepihak.

Kritik struktur membongkar fenomena. Ejekan mengecilkan orang secara sembarangan.

Bedanya besar.


Yang bisa dijadikan artikel dan yang sebaiknya tidak

Yang mudah dijadikan artikel adalah hal yang bisa diubah menjadi fenomena atau struktur.

  • Teriakan keras di gym
  • Masalah volume di ruang publik
  • Pengaturan lampu lalu lintas yang selalu membuat kita kena lampu merah
  • Pencucian tanggung jawab di tempat kerja (saling lempar tanggung jawab sampai tak ada yang bertanggung jawab)
  • Neraka rapat yang tidak ada satu pun hal yang didefinisikan
  • Kebun binatang bolong-bolong
  • Rapat monyet
  • Proses menjadi Ganondorf

Semua ini bisa dianalisis sebagai struktur dari rangsangan atau gangguan yang kamu terima.

Sebaliknya, yang sebaiknya tidak dijadikan artikel adalah hal yang mudah bergeser menjadi tebakan soal tubuh, pakaian, niat seksual, atau isi hati orang lain.

  • Apakah baju itu dipakai supaya dilihat?
  • Apa maksudnya memamerkan tubuh seperti itu?
  • Bagaimana dengan bentuk tubuh seperti itu?
  • Apa yang diincar perempuan itu?

Ini berbahaya.

Kalau mau dijadikan tema, harus dibahas sebagai "bug kognitif pada pihak yang melihat", bukan "niat orang yang dilihat".


Tiga kalimat pengaman

Terakhir, garis pembatas ini kuringkas jadi tiga kalimat yang gampang dipakai.

1. Jangan menjadikan efek sebagai niat

Pakaian punya efek mengarahkan pandangan. Tapi itu bukan bukti bahwa orangnya ingin dilihat.

2. Jangan menjadikan niat sebagai persetujuan

Sekalipun orangnya ingin terlihat imut, itu bukan persetujuan untuk ditatap, dinilai, atau dikomentari oleh siapa pun.

3. Jangan menjadikan selera sebagai hak

Kamu bebas menyukai apa saja. Tapi itu tidak memberimu hak untuk masuk ke wilayah orang lain.

Tiga hal ini saja sudah sangat membantu mencegah kita berubah jadi monyet.


Penutup

Perbedaan kritik struktur dan ejekan bukan sekadar soal kata-katanya keras atau lembut.

Yang penting adalah ke mana mata pisaunya diarahkan.

Kalau kamu menganalisis rangsangan yang masuk ke wilayahmu, itu struktur. Kalau kamu mengarang isi hati, tubuh, atau persetujuan orang lain, itu pelanggaran.

"Ganondorf-nya gym" bisa jadi artikel sebagai bug volume di ruang publik. "Anak SD yang jadi konser berjalan" bisa dibahas sebagai soal rangsangan dan indikator saraf. Tapi "baju bekas orang gendut" mudah berubah jadi ejekan terhadap ciri tubuh. Pakaian yang mengarahkan pandangan memang ada, tapi langsung menyimpulkan "kamu pasti mau dilihat" adalah lompatan logika.

Singkatnya:

Menganalisis kerugian dan gangguan yang kamu alami itu boleh. Mengarang maksud orang lain itu berbahaya.

Lebih singkat lagi:

Wilayahmu boleh dianalisis. Wilayah orang lain jangan dikarang-karang.

Dengan garis ini, kata-kata tetap tajam tanpa jatuh menjadi sekadar ejekan atau pelanggaran.

Label yang tajam bisa jadi senjata. Tapi nilai sebuah senjata tergantung ke mana ia diarahkan.

Arahkan ke struktur, jadilah artikel. Arahkan ke tubuh atau persetujuan orang, jadilah pisau yang berbahaya.

Karena itu, sebelum menulis, cek sekali saja.

Apakah aku sedang menusuk struktur? Atau hanya menusuk orang secara sembarangan? Apakah ini gangguan yang masuk ke wilayahku sendiri? Atau aku hanya menempelkan label di wilayah orang lain?

Cukup dengan bisa melakukan pengecekan ini, tulisanmu akan jauh lebih kuat.


Bagikan artikel ini

Iklan

Satu lagi? Ada yang seru?

Mumpung sudah selesai membaca: beberapa cerita yang mirip dan beberapa yang beda sama sekali tapi seru.

  1. Topik serupaJika Sulit Memercayai Orang BaruKepercayaan Tidak Harus Diberikan Sekaligus, Bisa Dibuka Bertahap
  2. Hisoka memang mesum, tapi kok jadi senior yang baik?Sosok pelatih di arc Greed Island
  3. Beda sama sekali, tapi seruApa Itu “Takeshimansion” di Akuarium Takeshima?Nama yang Membuat Tangki Lebih Seru
  4. Kenapa Lantai Toilet Pria Selalu Basah?
  5. Kenapa kekuatan yang terlalu kuat merusak ceritadari penyembuhan terjadwal sampai sekarat otomatis
  6. Jangan Suruh Aku Ngurus Stok Sebelum MainAggro Nightmare Set 9 dan "Pabrik Deck Miskin" karena Kurang Red Ether

Baca ini hari ini

Masing-masing menjawab pertanyaan yang biasanya muncul setelah membaca artikel ini.

Lihat semua artikelLebih banyak tentang Hubungan

Cari artikel lain

Semua artikel

Mendoi-chan

Pengelola situs

Mendoi-chan

Mengubah kerepotan di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari menjadi struktur yang jelas dan langkah berikutnya.