Kerja 5 hari 8 jam, kelelahan saraf, sampai lonjakan gula darah setelah makan
Pulang dari kantor. Makan. Rebahan sebentar. Tahu-tahu sudah tidur berjam-jam.
Misalnya, dari jam 7 malam sampai jam 10 malam.
Kalau sudah begini, rasa bersalah biasanya muncul.
"Ketiduran lagi." "Malamku terbuang sia-sia." "Padahal mau lanjut ngerjain aplikasi." "Padahal mau nulis artikel." "Jangan-jangan staminaku memang kurang."
Tapi, itu belum tentu sekadar malas.
Kalau seharian di kantor sarafmu terus tegang, bisa jadi begitu sampai rumah dan merasa aman, tubuh langsung dipaksa masuk mode pemulihan. Ditambah lagi, kalau makan malam atau camilanmu banyak gula dan lemak, naik-turunnya gula darah setelah makan serta rasa kenyang juga bisa bikin ngantuk jadi jauh lebih parah.
Artinya, ketiduran sepulang kerja bisa jadi hasil gabungan dari:
- Capek kerja
- Kelelahan saraf
- Kurang tidur
- Naik-turun gula darah setelah makan
- Beban urusan rumah
- Kurangnya pemulihan dalam hidup secara keseluruhan
Di media sosial, ada satu unggahan yang ramai sekali ditanggapi: orang yang butuh tidur panjang atau staminanya kecil bercerita bahwa pulang kerja langsung tepar seperti orang sakit. Pertanyaannya, bukankah standar "kerja 8 jam sehari, 5 hari seminggu" itu cukup berat untuk sebagian orang?
Perasaan itu aku paham banget.
Apalagi kalau pekerjaanmu bukan cuma "duduk 8 jam", ketiduran setelah pulang itu hampir wajar.
Tugas yang tidak jelas batasnya. Tekanan dari orang-orang di sekitar. Dilempari tanggung jawab. Rapat. Koordinasi dengan divisi lain. Terseret demi menghindari omelan orang lain. Mendampingi karyawan baru. Urusan rumah sepulang kerja. Ditambah lagi aplikasi, artikel, LP (landing page, halaman yang memperkenalkan produk), pengajuan ke toko aplikasi, dan perbaikan.
Kalau semua itu dikerjakan, tidur beberapa jam setelah makan mungkin cuma tubuh yang bereaksi dengan jujur.
Kerja Tidak Selesai dalam 8 Jam
Kalau dengar "5 hari seminggu, 8 jam sehari", kelihatannya sederhana:
Kerja 8 jam sehari Sisa 16 jam bebas
Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu.
Di hari kerja, ada waktu dan tenaga yang terpakai untuk hal-hal seperti ini:
- Bangun tidur
- Bersiap-siap
- Perjalanan ke kantor
- Persiapan sebelum mulai kerja
- Konsentrasi selama bekerja
- Menghadapi orang-orang
- Rapat
- Mengolah amarah dan stres
- Pulang
- Makan
- Mencuci baju
- Mandi
- Bersih-bersih
- Menyiapkan hari esok
- Tidur
- Pemulihan
Jadi, kerja 8 jam bukanlah "kejadian yang cuma menghabiskan 8 jam".
Ia menyeret kehidupan sebelum dan sesudahnya. Menguras saraf. Bahkan membawa pergi waktu pemulihan setelah kamu sampai rumah.
Apalagi kalau tinggal sendiri, tidak ada orang di rumah yang mengurus semuanya untukmu.
Masak. Cuci piring. Cuci baju. Menjaga kamar tetap rapi. Buang sampah. Menjalankan hidup sehari-hari.
Semua biaya hidup itu dibayar dengan waktu dan tenagamu sendiri.
Makanya, sepulang kerja kalau ada yang bilang "ayo belajar", "ayo cari kerja sampingan", "ayo berkembang", hal pertama yang dikatakan tubuh kadang begini:
Nggak, pulihkan dulu aku.
Ketiduran Sepulang Kerja Bisa Jadi Saraf yang Dimatikan Paksa
Makan lalu ketiduran sepulang kerja kadang bukan sekadar ngantuk biasa, tapi lebih mirip saraf yang dimatikan paksa.
Saat bekerja, kamu selalu waspada.
Ada yang memperhatikan. Tidak boleh salah. Ada yang mengajak bicara. Ada rapat. Pekerjaan di luar rencana datang. Menanggung tekanan dari atasan. Harus berkoordinasi dengan divisi lain. Tanggung jawab atas hal yang bukan salahmu pun menimpa begitu saja.
Dalam kondisi ini, tubuh tegang.
Saraf simpatik (bagian yang membuatmu siaga) bekerja keras dan kamu entah bagaimana melewati situasinya.
Lalu kamu pulang. Makan. Masuk kamar. Kembali ke tempat yang aman.
Dan tubuh langsung ambruk.
Sudah aman. Masuk pemulihan. Dimatikan paksa.
Hasilnya, tidur dari jam 7 sampai jam 10.
Ini lebih mirip reaksi untuk mengisi kembali bar energi saraf yang habis dipakai seharian daripada soal kemauan yang lemah.
Terutama di hari ketika kamu kena "trio menyebalkan": tugas tanpa kejelasan, dilempari tanggung jawab, dan dijadikan sasaran. Atau di hari ketika kamu harus menerima tekanan dari orang yang takut dimarahi. MP (bar mana di game, di sini artinya tenaga mental) terkuras jauh melebihi beban kerja biasa.
Yang bikin ngantuk bukan banyaknya pekerjaan, melainkan beban pada saraf.
"Crash" Setelah Makan Banyak Gula Juga Masuk Daftar Tersangka
Meski begitu, menjelaskan semuanya hanya dengan "stres" juga terlalu asal.
Kalau kamu ngantuk berat setelah makan, isi makananmu juga perlu dilihat.
Misalnya, ada hari seperti ini:
- Makan roti manis
- Makan sus krim
- Makan puding
- Menyedot krim kocok langsung dari kemasannya
- Lalu masih ditambah unadon (nasi dengan belut panggang)
Ini jelas gula, lemak, dan total kalorinya tinggi sekali.
Tentu ada hari ketika kamu ingin makan begitu. Di hari ketika saraf terkuras, tubuh kadang memang menginginkan yang manis atau berlemak.
Tapi kalau semua itu dimasukkan sekaligus setelah pulang, itu kandidat yang sangat masuk akal untuk penyebab ngantuk.
Kalau makan karbohidrat, gula darah naik. Biasanya insulin bekerja dan gula darah turun lagi. Namun, kalau jumlah karbohidratnya banyak, makan cepat-cepat, makan sekaligus banyak, lama tidak makan, atau ditambah kurang tidur dan stres, naik-turunnya gula darah setelah makan cenderung lebih besar.
Inilah yang biasa disebut kondisi lonjakan gula darah.
Situs informasi kesehatan e-Health Net milik Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang menjelaskan bahwa setelah makan, gula darah siapa pun naik sementara, tetapi biasanya insulin dikeluarkan dan gula darah kembali normal dalam sekitar 2 jam. Kondisi ketika gula darah masih tinggi setelah lewat 2 jam disebut hiperglikemia pascamakan.
"Buku Awal Makan Sehat" dari Perhimpunan Diabetes Jepang menjelaskan bahwa karbohidrat menaikkan gula darah, sedangkan serat makanan berfungsi menahan kenaikannya. Selain itu, informasi e-Health Net tentang pola makan penderita diabetes juga menganjurkan untuk tidak makan sekaligus banyak dan makan pelan-pelan.
Jadi, alur seperti ini sangat mungkin terjadi:
Saraf terkuras oleh pekerjaan Sepulang kerja makan banyak gula dan lemak Gula darah naik-turun drastis Kenyang dan merasa aman, ketegangan lepas Ngantuk menyerang sekaligus
Ini bukan cerita sederhana tentang "karbohidrat itu jahat".
Karbohidrat dibutuhkan sebagai sumber energi. Yang jadi masalah adalah jumlah, waktu, cara makan, kombinasi, dan kondisi lelahmu hari itu.
Bagi yang gampang ketiduran sepulang kerja, ada baiknya memeriksa hal-hal berikut sekali:
- Apakah makan malammu didominasi nasi putih, mi, roti, dan makanan manis
- Apakah kamu makan sekaligus setelah kelaparan
- Apakah makanmu terlalu cepat
- Apakah sayur, protein, dan sup terlalu sedikit
- Apakah kamu langsung rebahan setelah makan
- Apakah kamu terutama ngantuk di hari ketika kurang tidur atau stres berat
Di sini lebih baik dilihat sebagai reaksi tubuh, bukan soal semangat atau kemauan.
Kelelahan Akibat Stres dan Lonjakan Gula Darah, Kalau Digabung Dampaknya Besar
Penyebab tidur sepulang kerja belum tentu cuma satu.
Justru di kehidupan nyata, biasanya beberapa faktor menumpuk bersamaan.
Misalnya alurnya seperti ini:
- Saraf terkuras oleh pekerjaan
- Sampai rumah, HP (bar nyawa di game) hampir nol
- Perut lapar
- Makan makanan manis dan karbohidrat sekaligus
- Gula darah naik-turun drastis
- Masuk tempat aman, ketegangan lepas
- Tubuh dimatikan paksa
Ini cukup alami.
Jadi, penyebab ketiduran sepulang kerja bisa jadi kerusakan gabungan dari:
kelelahan saraf × kurang tidur × lonjakan gula darah × biaya hidup
Menyelesaikannya dengan kata "malas" itu melihat dengan resolusi yang terlalu rendah.
Masyarakat Dibangun dengan Standar "Orang yang Stamina-nya Kuat"
Reaksi yang banyak muncul di media sosial adalah perasaan seperti ini:
Jangan-jangan kerja 8 jam itu standarnya orang yang staminanya kuat
Ini poin yang cukup penting.
Waktu yang dibutuhkan untuk pulih berbeda pada tiap orang.
Dengan 8 jam kerja yang sama, ada orang yang sepulang kerja masih bisa bergerak. Ada orang yang jadi tidak bisa apa-apa. Ada orang yang setelah makan langsung tertidur. Ada orang yang baru pulih kalau tidur panjang di hari libur.
Stamina, kebutuhan tidur, kepekaan saraf, jarak tempuh ke kantor, lingkungan kerja, beban urusan rumah, stres hubungan antarmanusia. Semua ini sangat berbeda pada tiap orang.
Padahal masyarakat sering bilang begini:
Semua orang kan kerja Belajar dong sepulang kerja Cari kerja sampingan Kembangkan diri Urusan rumah juga diberesin Jaga kesehatan juga Hargai hubungan dengan orang juga
Eh, lihat dong sisa HP-ku.
Orang yang staminanya besar mungkin bisa. Tapi bagi orang yang staminanya kecil, yang butuh tidur panjang, atau yang gampang terkuras sarafnya, sepulang kerja HP-nya sudah hampir nol.
Dalam keadaan begitu masih dibilang "kurang usaha" itu cukup kasar.
Rasa Janggal: Jangan-jangan Kerja 8 Jam Mengandaikan Ada Orang Lain yang Mengurus Rumah
Di antara balasan di media sosial, ada juga yang menunjukkan bahwa kerja 8 jam sepertinya mengandaikan ada orang lain yang mengurus urusan rumah.
Ini cukup tajam.
Cara kerja standar zaman dulu, secara tersirat, bertumpu pada pembagian peran seperti ini:
- Orang yang bekerja di perusahaan
- Orang yang mengurus rumah
- Orang yang bertanggung jawab menjaga kehidupan di dalam rumah
- Orang yang menjalankan urusan makan, cuci baju, dan bersih-bersih
Tentu kenyataannya berbeda-beda tergantung keluarga dan zamannya. Tapi paling tidak, anggapan bahwa orang yang bekerja bisa fokus hanya pada pekerjaan itu cukup kuat.
Sekarang berbeda.
Kalau tinggal sendiri, kerja dan urusan rumah semuanya tanggunganmu. Kalau suami istri sama-sama bekerja, kerja, urusan rumah, dan mengasuh anak dibagi bersama. Ada juga yang merawat orang tua atau mengurus urusan keluarga. Terkadang masih dituntut kerja sampingan, belajar, bahkan persiapan pindah kerja.
Artinya, biaya hidup di luar pekerjaan cukup berat.
Namun, cara kerjanya sendiri tetap mempertahankan "5 hari, 8 jam" sebagai standar.
Di situlah muncul ketidakcocokan.
Orang yang pulang kerja lalu tepar bukan sedang bermalas-malasan. Bisa jadi ia memikul pekerjaan dan kehidupan sekaligus sendirian, sehingga waktu pemulihannya defisit.
Panduan Tidur dari Kementerian Kesehatan Jepang Juga Menekankan Tidur dan Rasa Segar Setelahnya
"Panduan Tidur 2023 untuk Promosi Kesehatan" dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang menyebutkan bahwa untuk orang dewasa, bukan hanya lama tidur yang penting, tapi juga rasa segar setelah tidur (merasa sudah beristirahat dengan cukup).
Selain itu, kurang tidur dan rendahnya rasa segar setelah tidur juga berkaitan dengan kesehatan fisik dan mental serta aktivitas di siang hari.
Jadi, bukan hanya "berapa jam tidur", tapi juga perlu dilihat:
Apakah terasa pulih setelah tidur Apakah bisa beraktivitas di siang hari Apakah masih ada sisa lelah Apakah mengganggu kehidupan sehari-hari
Tidur beberapa jam sepulang kerja itu sendiri belum tentu buruk. Bisa jadi itu pemulihan yang memang dibutuhkan tubuh.
Namun, kalau ngantuk berat terus hampir setiap hari, tidur pun tidak pulih, mengganggu aktivitas siang hari, mendengkur atau sesak napas, suasana hati sangat murung, atau terus-menerus sulit bangun pagi, bisa jadi ada gangguan tidur, masalah kesehatan mental, atau penyakit fisik yang tersembunyi.
Dalam kasus itu, jangan coba mengatasinya dengan memaksakan diri. Sebaiknya punya juga pilihan untuk bergantung pada fasilitas kesehatan atau layanan konsultasi.
Yang ingin kukatakan di sini bukan:
Orang yang ketiduran itu malas
melainkan:
Orang yang ketiduran mungkin kekurangan waktu pemulihan sampai ketiduran
Anehnya, Mei yang Sibuk Itu Aku Masih Memperbaiki Aplikasi
Sekarang kita pikirkan contoh dari diriku sendiri.
Bulan Mei, pekerjaan sangat sibuk. Di sisi kantor, ada tugas tanpa kejelasan, urusan dengan atasan, rapat, dilempari tanggung jawab, mendampingi anak baru, dan pekerjaan rutin harian.
Meski begitu, di saat yang sama aku juga menjalankan sisi aplikasi.
- Perbaikan aplikasi
- Menangani peninjauan toko aplikasi
- Menyesuaikan teks di toko aplikasi
- Memperbaiki LP
- Artikel SEO (artikel yang ditulis supaya mudah ditemukan mesin pencari)
- ASO (mengoptimalkan tampilan aplikasi di toko aplikasi)
- Urusan seputar AdSense (program iklan Google)
- Menyerahkan tugas ke Codex (alat pemrograman berbasis AI)
- Memperbaiki bug
- Memproduksi file artikel Markdown dalam jumlah besar
- Persiapan rilis aplikasi
Kalau dipikir normal, itu banyak sekali.
Kalau hanya melihat "pulang lalu ketiduran", mungkin terlihat seperti bermalas-malasan.
Tapi kalau dilihat sebulan penuh, ceritanya lain.
Sambil menambal lubang-lubang di kantor, aku juga menyiram kebun aplikasiku sendiri.
Itu beban yang cukup tinggi.
Jadi, meski sepulang kerja aku makan lalu tidur berjam-jam, itu bukan sekadar membolos.
Mungkin tubuhku hanya sedang bilang:
Hei, kamu kan lari terus sepanjang Mei. Aku rem dulu ya.
"Cari Kerja Sampingan Sepulang Kerja" Tidak Memperhitungkan Waktu Pemulihan
Orang sering bilang: belajarlah sepulang kerja, cari kerja sampingan, investasikan diri.
Itu sendiri tidak salah.
Membangun aset di luar pekerjaan itu penting. Kerja sampingan, aplikasi, artikel, menguji strategi investasi, dan persiapan pindah kerja bisa mengarah ke kebebasan di masa depan.
Tapi ada syaratnya:
Masih tersisa ruang yang cukup untuk pulih
Tanpa itu, kerja sampingan sepulang kerja itu berat.
Kalau sampai rumah HP-nya sudah 0, jangankan kerja sampingan. Makan lalu tidur, selesai. Bisa mandi saja sudah hebat. Kalau sempat gosok gigi lalu tidur, itu sudah menang.
Mengatakan kepada orang dalam kondisi begitu:
Jangan manja Semua orang juga melakukannya Waktu itu diciptakan Kerjakan satu jam sebelum tidur
itu cukup kasar.
Bisa jadi bukan kemauannya yang lemah, melainkan kerja seharian dan biaya hidup sudah membuat waktu pemulihannya defisit.
Menghadapi Ketiduran: Pikirkan dengan Rancangan, Bukan dengan Menahan Diri
Tidak perlu menyalahkan diri karena tertidur sepulang kerja.
Namun, kalau setiap kali ketiduran, pola hidup perlu diubah sedikit.
Yang penting bukan:
Menahan diri mati-matian supaya tidak ketiduran
Melainkan:
Dengan anggapan kamu akan ketiduran, rancang pemulihan minimum dan pembentukan aset minimum
1. Jangan taruh pekerjaan berat tepat setelah sampai rumah
Begitu sampai rumah, utamakan pemulihan.
Minum air. Makan. Mandi. Redupkan kamar. Rebahan sebentar.
2. Atur makan malam supaya tidak terlalu bikin ngantuk
Tidak perlu menghilangkan karbohidrat sepenuhnya.
Tapi di hari ketika kamu gampang ketiduran, ada baiknya mencoba hal seperti ini:
- Jangan makan makanan manis banyak sekaligus
- Mulai dari sup atau protein
- Tambahkan sayur atau serat
- Jangan menumpuk roti manis, puding, dan sus krim di atas makanan yang sudah banyak nasi seperti unadon
- Sebelum rebahan langsung setelah makan, sisipkan sedikit beres-beres atau jalan ringan
- Makan sedikit lebih pelan, jangan terburu-buru
Ini bukan pembatasan makan yang ketat, melainkan penyesuaian untuk menjaga MP malam harimu.
3. Siapkan dulu "aset tiga ketukan" saja
Kalau kerja berat tidak mungkin, tinggalkan satu kalimat lewat input suara.
Hal yang terasa janggal hari ini Judul artikel Hal yang ingin diperbaiki di aplikasi Yang akan dikerjakan besok
Dengan itu saja, besok sudah bisa dijadikan aset.
4. Selesaikan tugas terkecil sebelum ngantuk datang
Misalnya:
- Menaruh catatan di GitHub
- Menyerahkan satu tugas ke Codex
- Memperbaiki satu baris teks toko aplikasi
- Cukup memeriksa tangkapan layar
- Cukup membuat judul artikel
Segitu saja sudah cukup.
5. Kalau ketiduran, anggap itu pemulihan
Jangan jadikan ketiduran sebagai kegagalan.
Tubuhku pulih Aku mendapatkan kembali MP yang terkuras oleh sidang monyet (rapat saling menyalahkan yang tak masuk akal) Aku membuat diriku bisa bergerak lagi besok
Anggap seperti itu.
6. Pakai hari istirahat untuk sisi aset
Kalau saraf benar-benar terkuras, mengambil cuti sehari untuk menjauh juga boleh.
Di hari itu, bukan menambal lubang kantor, tapi menyiram aplikasi, artikel, dan LP milikmu sendiri.
Ini bukan kabur, melainkan memulihkan MP lalu menginvestasikannya kembali.
"Tepar Sepulang Kerja" Juga Masalah Kualitas Air dalam Rancangan Masyarakat
Kalau banyak orang tepar sepulang kerja, hanya menyalahkan individu itu keliru.
Tentu menjaga kondisi tubuh sendiri juga penting. Kebiasaan tidur, makan, olahraga, berendam, waktu bermain ponsel, dan cara menghadapi stres juga berpengaruh.
Tapi tidak hanya itu.
Kualitas air di sisi masyarakat juga perlu dilihat.
- "5 hari, 8 jam" sudah jadi standar
- Ada waktu perjalanan ke kantor
- Ada beban urusan rumah
- Kalau tinggal sendiri, menjaga kehidupan sehari-hari juga ditanggung sendiri
- Sepulang kerja pun dituntut mengembangkan diri
- Stres hubungan antarmanusia di tempat kerja berat
- Istirahat membuat merasa bersalah
- Perbedaan stamina antarindividu diremehkan
Mengabaikan semua itu lalu bilang:
Pulang lalu tidur itu jorok
berarti tidak melihat kualitas air.
Kalau ikan mati dalam jumlah besar, yang dilihat bukan hanya ikannya, tapi juga kualitas airnya. Kalau banyak orang tepar sepulang kerja, yang perlu dilihat bukan hanya orangnya, tapi juga kualitas air dari cara kerja kita.
Kesimpulan: Ketiduran Bukan Malas, Mungkin Itu Catatan dari Tubuh
Pulang dari kantor. Makan. Tidur berjam-jam.
Ini belum tentu sekadar malas.
Saraf yang terpakai seharian. Stres di tempat kerja. Biaya hidup. Urusan rumah. Perjalanan ke kantor. Tinggal sendiri. Kerja sampingan dan pengembangan aplikasi sepulang kerja. Makan malam yang tinggi gula dan lemak. Setelah menanggung semuanya, mungkin tubuh sedang menuntut pemulihan.
Kerja 5 hari 8 jam terlalu meremehkan biaya hidup di luar pekerjaan.
Kalau ada orang yang tepar sepulang kerja, menutup soalnya dengan
Dia memang tidak punya stamina Dia manja Dia jorok
itu asal-asalan.
Lihat perbedaan stamina antarindividu. Lihat beban hidup sehari-hari. Lihat stres. Lihat tidur dan rasa segar setelahnya. Lihat naik-turunnya gula darah setelah makan. Lihat kualitas air dari cara kerja kita.
Setelah itu, di sisi diri sendiri pun lakukan yang bisa dilakukan.
Jangan terlalu banyak menaruh pekerjaan berat sepulang kerja. Jangan menumpuk gula sekaligus. Siapkan saja aset tiga ketukan. Kalau ketiduran, anggap itu pemulihan. Di hari ketika benar-benar terkuras, istirahatlah. Kembalikan MP ke aplikasi, artikel, dan LP milikmu sendiri.
Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu yang ketiduran.
Tubuh dengan jelas memberi tahu batasnya.
Dan kalau setelah tidur dan pulih kamu masih bisa menyiram sisi asetmu sedikit saja, itu sudah kemenangan.
