Pacar Baru Membalas Saat Hari Ketemu: Sibuk, atau Menghindari Obrolan?

Cara memakai fitur membaca

Dengarkan membacakan artikel. Baca cepat menampilkan frasa berurutan dengan kecepatan pilihan Anda. Latihan bahasa membandingkan terjemahan yang tersedia. Simpan menambahkan penanda di browser ini; buka kembali dari daftar tersimpan di pemutar.

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Iklan
Iklan

Balasan yang lambat belum tentu berarti pasangan sedang menghindari masalah. Lebih berguna melihat apa yang terjadi setelahnya. Apakah ia kembali membahas hal yang belum selesai, atau selalu menunggu sampai waktunya lewat? Soal siapa yang merencanakan kencan juga perlu dipisahkan dari cara menghadapi percakapan sulit.

1. Seolah-olah kalender punya tombol balas chat

Bayangkan jadwal kencan akhir pekan sudah disepakati. Seseorang mengirim “Aku kangen.” Itu ungkapan sayang, bukan permintaan untuk mengubah jadwal.

Pasangannya mungkin bingung mau menjawab apa. Ia berpikir, “Nanti saja.” Besoknya masih belum dibalas. Lalu tibalah hari bertemu. Mereka bersenang-senang, dan pesan tadi terasa tidak perlu dijawab lagi.

Alur pikiran yang mungkin terjadi: “Harus balas” → “Nanti” → “Sudah ketemu, berarti beres!”

Wah, kalender naik jabatan jadi admin chat. Sayangnya, tidak ada satu huruf pun yang terkirim.

Ini hanya contoh kemungkinan, bukan tuduhan tentang isi pikiran seseorang. Pekerjaan, kelelahan, notifikasi terlewat, atau kebiasaan memakai ponsel dapat menimbulkan jeda yang sama.

2. Jika satu orang suka menyusun rencana, biarkan saja

Ada orang yang senang mencari tempat makan, membandingkan rute, lalu memesan meja. Pasangannya menyampaikan tempat yang disukai, waktu luang, dan menikmati kencan bersama. Jika keduanya nyaman, pembagian itu masuk akal.

Adil tidak harus berarti masing-masing membuka mesin pencari selama 30 menit. Memaksa orang yang menikmati riset untuk berhenti di tengah jalan demi angka 50:50 terdengar seperti hukuman.

Namun urusan rumah tangga juga mencakup menyadari kebutuhan, mencari pilihan, membuat keputusan, dan memeriksa hasil. Penelitian tentang pekerjaan rumah tangga menunjukkan bahwa kegiatan berpikir dan mengatur ini termasuk beban kerja yang sering tidak terlihat.[1]

Pertanyaannya: apakah pembagian peran disepakati dengan nyaman, dan apakah pasangan tetap mau ikut mengambil keputusan bersama?

3. Bedakan tiga jenis respons

Pertama, ia terlambat membalas tetapi kemudian melanjutkan obrolan dengan hangat. Kedua, ia meminta waktu sampai besok dan benar-benar kembali. Ketiga, setiap keputusan yang terasa canggung dibiarkan menggantung sampai dianggap kedaluwarsa.

Pola ketiga patut dibicarakan bila sering terjadi dan berpengaruh pada kepercayaan, uang, atau rencana bersama. Kajian penelitian menemukan hubungan antara pola satu pihak mendesak pembicaraan dan pihak lain menarik diri, dengan kesulitan dalam hubungan.[2] Itu tidak cukup untuk menilai seseorang hanya dari satu chat.

Beristirahat sejenak boleh saja, selama ada jalan kembali ke percakapan. Perbedaan pendapat yang berulang lebih baik dibicarakan daripada dibiarkan macet.[3]

4. Coba kesepakatan kecil, bukan ujian diam-diam

Chat sayang tanpa hal mendesak bisa ditunggu. Ketika keputusan bersama diperlukan, tanyakan: “Kalau belum bisa memutuskan sekarang, kapan kita lanjut ngobrol?” Dengarkan juga cara berkomunikasi yang nyaman bagi pasangan.

Pilihan pribadi boleh diputuskan sendiri. Jadwal berdua perlu dibagikan. Rumah, keuangan bersama, dan janji besar memerlukan persetujuan.

Tidak ada pasangan yang selalu unggul dalam segala hal. Ada yang ahli membuat rencana tetapi lambat membalas; ada yang tidak suka mencari tempat, namun bisa membahas masalah secara terbuka.

5. Kesimpulan: jadwal selesai, percakapan belum tentu

Satu orang membuat semua rencana kencan bukan masalah jika itu pilihan bersama. Yang lebih penting adalah kemampuan kembali membahas hal yang sulit setelah jeda.

Kalender bisa memberi tahu kapan waktunya bertemu. Ia tidak bisa menggantikan dua orang yang perlu bicara.

[1] Daminger, A. (2019). The Cognitive Dimension of Household Labor. American Sociological Review. https://doi.org/10.1177/0003122419859007 [2] Schrodt, P., Witt, P. L., & Shimkowski, J. R. (2014). A Meta-Analytical Review of the Demand/Withdraw Pattern of Interaction and its Associations with Individual, Relational, and Communicative Outcomes. Communication Monographs. https://doi.org/10.1080/03637751.2013.813632 [3] The Gottman Institute. Managing Conflict: Solvable vs. Perpetual Problems. https://www.gottman.com/blog/managing-conflict-solvable-vs-perpetual-problems/

Baca ini hari ini

Masing-masing menjawab pertanyaan yang biasanya muncul setelah membaca artikel ini.

Lihat semua artikelLebih banyak tentang Cara menyampaikan

Bagikan artikel ini

Jika artikel ini bermanfaat, Anda bisa mendukung situs ini. Dukung

Iklan

Satu lagi? Ada yang seru?

Mumpung sudah selesai membaca: beberapa cerita yang mirip dan beberapa yang beda sama sekali tapi seru.

  1. Topik serupaKenapa "Suami Harusnya", "Pacar Harusnya", dan "Namanya Keluarga" Sering Jadi Sumber Ribut
  2. Kenapa Klinik Kesehatan Mental Wajibkan Masker, dan Boleh Nggak Pasien Ditolak Kalau Nggak Beli?
  3. Beda sama sekali, tapi seruKenapa Makhluk Laut Dalam Begitu Memikat?
  4. Jangan Suruh Aku Ngurus Stok Sebelum MainAggro Nightmare Set 9 dan "Pabrik Deck Miskin" karena Kurang Red Ether
  5. Anjing Laut dan Singa LautApa Bedanya?
  6. Bawa boneka tupai terbang usai makan di hotel klasikkita semua menulis "buku karakter" orang lain seenaknya

Cari artikel lain

Semua artikel

Mendoi-chan

Pengelola situs

Mendoi-chan

Mengubah kerepotan di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari menjadi struktur yang jelas dan langkah berikutnya.