Kata kunci pencarian
- tidak mau tukar LINE dengan rekan kerja
- LINE pribadi dengan rekan kerja melelahkan
- ingin berhenti urusan kerja lewat LINE
- batasan kerja dan LINE
- cara menolak LINE pribadi rekan kerja
- rekan kerja chat saat hari libur mengganggu
- risiko tukar LINE dengan orang kantor
- pembatalan sehari sebelumnya harus bagaimana
- berhenti urusan kerja lewat LINE pribadi
- urusan kerja menyusup ke LINE pribadi
Pembuka: cuma tukar LINE, kenapa bisa selelah ini?
Bertukar LINE pribadi (LINE adalah aplikasi chat paling populer di Jepang) dengan orang kantor itu hal yang biasa saja.
Kabar singkat. Konfirmasi acara. Tanya hal yang mendesak. Soalnya LINE lebih cepat daripada chat internal kantor.
Awalnya kamu mengira cuma sebatas itu, tapi tahu-tahu bisa jadi sangat melelahkan.
Misalnya kasus seperti ini.
Aku punya urusan sehingga tidak bisa ikut sebuah acara. Ada orang yang mau menggantikan. Aku tahu orang itu punya shift malam sehari sebelumnya. Meski begitu dia bilang akan ikut. Biaya pendaftaran sudah kubayar. Prosedur perubahan sudah kuurus. Batas waktu perubahan juga sudah lewat.
Lalu pada malam sehari sebelum acara, masuk LINE seperti ini:
Kalau begitu, aku juga boleh tidak datang, kan??
Ini benar-benar bikin repot.
Aku paham dia capek. Kalau memang ada shift malam sehari sebelumnya, ya kasihan juga. Aku juga paham kalau ikut maraton, dia jadi tidak punya waktu istirahat.
Tapi itu hal yang harus dipertimbangkan "sebelum menyanggupi".
Masalahnya bukan soal dia kasihan atau tidak.
Kesepakatan yang sudah diputuskan runtuh di malam sebelum hari H, lewat LINE pribadi.
Di situlah beratnya bertukar LINE pribadi dengan rekan kerja.
Kesimpulan: LINE kerja melelahkan karena urusan kerja yang berantakan mengalir ke jalur pribadimu
Alasan LINE pribadi dengan rekan kerja terasa berat bukan sekadar "karena ada pesan masuk".
Intinya begini:
Pekerjaan, tanggung jawab, jadwal, perasaan, dan kehidupan pribadi, batasnya bercampur dalam satu LINE pribadi.
Kalau lewat jalur komunikasi kantor, kamu masih bisa memperlakukannya sebagai "urusan kerja". Chat internal, email kantor, atau pengumuman departemen masih berada di dalam kandang perusahaan.
Tapi kalau masuk ke LINE pribadi, lain ceritanya.
Hari liburmu. Malammu. Ponselmu. Ruang hidupmu.
Tanggung jawab dan perasaan dari tempat kerja langsung masuk ke sana.
Singkatnya, masalah kantor menyusup ke "jalur kamarmu sendiri".
Itulah yang bikin berat.
Kasusnya: orang yang bilang mau menggantikan malah tanya sehari sebelumnya, "Boleh tidak datang?"
Supaya struktur masalahnya jelas, lebih mudah kalau disusun berdasarkan urutan waktu, bukan perasaan.
- Aku tidak bisa ikut acara karena ada urusan
- Orang itu setuju menggantikanku
- Dia juga sudah bilang punya shift malam sehari sebelumnya
- Meski begitu, katanya tidak masalah
- Atas dasar itu, aku membayar biaya pendaftaran
- Prosedur perubahan kuselesaikan di bulan Mei
- Batas waktu perubahan adalah 30 Mei
- Sehari sebelumnya, 6 Juni, dan sudah malam pula, dia bertanya, "Boleh tidak datang?"
Yang penting di sini, shift malam itu bukan informasi baru.
Aku paham dia lelah karena shift malam. Tapi itu syarat yang sudah diketahui sejak awal.
Kalau dia menyanggupi dengan tahu hal itu, lalu belakangan bilang
Besok setelah shift malam aku harus masuk kantor jam 11:00, kalau ikut maraton bukannya aku nggak punya waktu istirahat?
aku jadi bingung harus bagaimana.
Karena biaya pendaftaran, prosedur, dan batas waktunya semua sudah berjalan.
Dalam keadaan begini, ditanya sehari sebelumnya "kayaknya aku nggak usah datang deh?" bukan sekadar konsultasi, tapi pada dasarnya mengembalikan semuanya ke titik awal.
"Kasihan" dan "boleh membatalkan sekarang" itu dua hal berbeda
Yang rumit, kadang orang itu memang betul-betul kasihan.
Ada shift malam. Besoknya maraton. Tidak ada waktu istirahat. Fisiknya berat.
Ini memang melelahkan.
Aku sendiri sampai berpikir,
mungkin untung aku membatalkan
jadi aku paham kalau dia jadi negatif.
Tapi di sini kita perlu memisahkan dua hal.
Dia kasihan itu satu hal; boleh atau tidak membatalkan kesepakatan di malam sebelum hari H itu hal lain.
Capeknya dia itu nyata. Repotnya aku juga nyata.
Kalau keduanya dicampur, makin baik hati seseorang, makin banyak yang dia tanggung.
Biaya pendaftaran kubayar sendiri. Prosedur kuurus sendiri. Risiko setelah batas waktu kutanggung sendiri. Masalah tidurnya pun kupikirkan sendiri. Tidak adanya pengganti di malam sebelumnya juga kuurus sendiri.
Ini sama saja dengan dilimpahi tanggung jawab.
Kalau ditelan dengan alasan "kasihan, ya sudahlah", kondisi dia langsung jadi bebanmu.
Karena itu, yang perlu dikatakan bisa sesederhana ini:
Aku paham kamu capek. Tapi dari sekarang, sehari sebelumnya, aku sudah tidak bisa menanganinya.
Perasaan dan prosedur dipisahkan.
Ini kuncinya.
Masalahnya juga ada pada isi pesan LINE yang terlalu tipis
Dalam kasus seperti ini, pesan LINE lawan bicara yang terlalu kabur juga jadi masalah.
Misalnya,
Besok gimana?
kalimat itu saja cakupannya terlalu luas.
Apakah dia bertanya aku bisa datang atau tidak? Apakah dia mengonfirmasi soal menggantikanku? Apakah dia mengira kami datang berdua? Apakah dia sedang menjajaki aku boleh tidak datang?
Tidak ada yang tahu.
Lalu kalau dia berkata,
Kamu juga datang, kan? Kalau kamu tidak datang, aku jadi repot
di kepalanya premisnya seolah berubah pelan-pelan dari "aku menggantikanmu" menjadi "kamu juga datang, kan?" lalu "kalau kamu tidak datang, aku repot".
Padahal pemahamanku berbeda.
Aku tidak bisa datang karena ada urusan. Makanya aku minta orang lain menggantikan. Atas dasar itu, biaya dan prosedurnya sudah kuurus.
Kesalahpahaman seperti ini kalau diselesaikan lewat LINE di malam sebelum hari H, hasilnya meledak.
LINE memang praktis, tapi lemah untuk memastikan kesepakatan. Terutama untuk hal yang menyangkut siapa pelakunya, tenggat, tanggung jawab, biaya, dan bisa tidaknya diubah, itu cukup berbahaya.
Kenapa LINE pribadi dengan rekan kerja berbahaya
Alasan utamanya ada lima.
1. Jaraknya jadi tanggung: bukan urusan kerja, bukan teman juga
Rekan kerja bukan teman. Tapi juga tidak bisa dibilang hubungan kantor semata.
Acara, makan-makan, kegiatan kantor, permintaan kecil. Begitu semua itu mengalir lewat LINE, hubungannya jadi kabur.
Kalau teman, gampang bilang "nggak bisa". Kalau urusan kerja, gampang pakai alasan "aturan kantor".
Tapi LINE dengan rekan kerja ada di tengah-tengahnya.
Makanya susah menolak. Batas tanggung jawab jadi kabur. Jadi sungkan. Perasaan ikut campur.
Hasilnya, capek.
2. Ada jejaknya, tapi bukan jalur resmi
LINE menyimpan riwayat chat. Dalam arti itu, bisa jadi bukti.
Tapi belum tentu itu jalur komunikasi resmi kantor.
Kalau lewat chat internal atau email, gampang dirapikan: "Hal ini diputuskan begini." "Tenggatnya sampai di sini." "Penanggung jawabnya si anu."
Sebaliknya, di LINE pribadi, janji penting bisa terjadi di tengah obrolan yang samar.
Akibatnya, belakangan gampang muncul kalimat seperti
"Bukan itu maksudku." "Aku cuma memastikan." "Ternyata berat juga."
Ringannya LINE dibebani beratnya perubahan jadwal dan pembagian biaya. Itu yang berbahaya.
3. Perasaan orang lain masuk langsung ke kehidupan pribadimu
Kalau lewat jalur kantor, kamu masih bisa menerimanya dengan mode kerja.
Tapi kalau masuk ke LINE pribadi, kecemasan, kelelahan, keluhan, dan keraguan mereka masuk langsung.
Capek habis shift malam. Tidak ada waktu istirahat. Boleh tidak datang? Aku repot. Harus bagaimana?
Perasaan seperti ini masuk ke ponselmu di malam hari.
Cuma itu saja sudah menguras pikiran.
"Monyet kantor" ingin kutaruh di kandang perusahaan. Aku tidak mau membawanya sampai ke dalam selimutku.
Perasaan ini sangat wajar.
4. Waktu libur dan malammu tergerus
Pesan masuk jam 19:00 sehari sebelum hari H.
Sejak saat itu saja sudah berat.
Ini bukan jam kerjamu. Mungkin kamu sedang istirahat. Mungkin sedang makan. Mungkin sedang menyiapkan keperluan besok. Mungkin sedang ingin rebahan tanpa memikirkan apa-apa.
Lalu penyesuaian urusan kantor menyela.
Apalagi batas waktu perubahan sudah lewat. Biaya sudah dibayar. Sekarang pengganti pun tak bisa dicari.
Kalau pesan masuk dalam keadaan begini, malam pribadimu langsung berubah jadi suasana kantor.
Ini bukan sekadar pesan. Ini penyusupan ke kehidupan pribadi.
5. Makin baik hati seseorang, makin gampang menanggung tanggung jawab
Kamu merasa dia kasihan. Kamu merasa dia pasti sedang susah. Kamu merasa untung sudah membatalkan sendiri. Kamu tidak sampai hati menyalahkannya.
Orang seperti ini paling mudah rugi di LINE kerja.
Sebab kamu jadi berusaha mengurus perasaan dan keadaan orang lain juga.
Padahal seharusnya begini:
Kondisi tubuh dia adalah tanggung jawab dia. Menilai mau menyanggupi atau tidak juga tanggung jawab dia. Kalau jadi tidak sanggup, dia bertanggung jawab untuk bilang sejak awal. Kalau mau membatalkan sehari sebelumnya, dia bertanggung jawab membicarakan biaya pendaftaran dan solusi penggantinya.
Kamu tidak perlu menanggung semuanya.
Kebaikan hati dan lingkup tanggung jawab itu hal yang berbeda.
Jadi, ini kasus yang butuh batasan yang tegas
Yang dibutuhkan di saat seperti ini bukan menolak orang itu mentah-mentah.
Kamu mengakui dia sedang susah. Kamu memahami keadaannya. Kamu tahu shift malam itu berat.
Tapi kamu tidak membiarkan dia masuk seenaknya ke hidupmu, waktumu, dompetmu, urusan administrasimu, dan jadwalmu.
Itulah batasan.
Bukan tembok yang menutup semuanya, melainkan
terlihat, tapi tidak boleh masuk seenaknya.
Rasa seperti inilah yang penting.
LINE pribadi dengan rekan kerja melemahkan batasan ini.
Jadi ke depannya, cukup katakan,
Untuk urusan kerja, tolong lewat jalur komunikasi kantor ya.
Boleh dengan ramah. Tidak perlu dingin. Tapi jangan jadikan jalur pribadimu loket koordinasi urusan kantor.
Itulah garis yang harus dijaga.
Langkah ke depan: pada dasarnya jangan tukar LINE dengan rekan kerja
Setelah mengalami kejadian seperti ini, kesimpulannya cukup sederhana.
Pada dasarnya, jangan tukar LINE pribadi dengan rekan kerja.
Kalau sudah terlanjur bertukar, kembalikan urusan kerja ke jalur kantor sedikit demi sedikit.
Misalnya, bisa bilang begini:
Maaf, untuk urusan kerja tolong lewat chat kantor atau email ya.
Kalau mau lebih halus:
Di LINE aku gampang kelewatan, jadi akan sangat membantu kalau urusan kerja lewat jalur komunikasi kantor.
Kalau ada acara atau rencana pribadi yang terlibat:
Untuk hal yang menyangkut perubahan atau biaya, aku ingin bisa mengeceknya lagi nanti, jadi tolong lewat chat kantor atau email.
Itu sudah cukup.
Intinya bukan menyalahkan lawan bicara.
Intinya mengembalikan jalur komunikasi ke sisi kantor.
Hanya itu.
Contoh balasan: saat ada yang bilang mau membatalkan sehari sebelumnya
Kalau, seperti kasus ini, kesepakatan hampir dibatalkan sehari sebelumnya, membalas dengan urutan waktu, bukan perasaan, akan efektif.
Versi lembut
Aku paham kamu capek, tapi aku sudah membayar biaya pendaftaran dan mengurus perubahan dengan anggapan kamu yang menggantikanku. Batas waktu perubahan juga sudah lewat, dan sekarang, sehari sebelumnya, aku sudah tidak bisa menangani apa pun, jadi kali ini aku minta tetap sesuai rencana.
Agak tegas
Jujur, kalau baru bilang sekarang, di jam segini sehari sebelumnya, aku tidak bisa menanganinya. Soal shift malam sudah kudengar dan kita sepakat tidak masalah, jadi atas dasar itu aku bayar biaya pendaftaran dan mengurus perubahannya. Kalau sekarang dikembalikan ke aku, aku jadi kesulitan.
Kalau sampai membahas pembagian biaya
Kalau memang benar-benar tidak bisa datang, aku ingin kamu juga memikirkan soal biaya pendaftaran dan mencarikan penggantinya. Aku sudah membayar biaya pendaftaran dan menyelesaikan prosedur dalam batas waktu perubahan, jadi sekarang, sehari sebelumnya, menangani semuanya sendirian itu sulit.
Daftar periksa: tanda bahaya di LINE kerja
Kalau ada tanda-tanda seperti ini, sebaiknya jangan diselesaikan lewat LINE pribadi.
- Ada biaya yang terlibat
- Ada batas waktu perubahan
- Perlu mencari orang pengganti
- Menyangkut siapa yang libur, hadir, atau absen
- Menyangkut kondisi kesehatan atau jadwal kerja lawan bicara
- Pesannya datang sehari sebelumnya atau pada hari H
- Kalimatnya kabur, seperti "Gimana?"
- Ada perasaan seperti "repot" atau "capek" yang ikut terbawa
- Kemungkinan nanti jadi debat "kamu bilang / aku nggak bilang"
- Ada firasat kamu akan menanggung semuanya
Kalau salah satunya cocok, lebih aman mengalihkannya ke chat kantor, email, atau jalur komunikasi bersama, bukan LINE pribadi.
Penutup: monyet kantor jangan dimasukkan ke ponsel kehidupan pribadi
LINE pribadi dengan rekan kerja itu praktis. Tapi justru karena terlalu praktis, jadi berbahaya.
Kabar kerja. Koordinasi acara. Perasaan orang lain. Pembagian biaya. Pembatalan sehari sebelumnya. Tanggung jawab yang dilempar balik.
Semua ini mengalir masuk ke satu LINE pribadi.
Akibatnya, malammu, hari liburmu, dan ponselmu berubah jadi loket koordinasi urusan kantor.
Dalam kasus seperti ini, memang benar orang itu kasihan. Tapi karena kasihan, bukan berarti boleh membatalkan kesepakatan di malam sebelum hari H.
Yang penting adalah menarik garis ini:
Aku paham perasaanmu. Tapi dari sekarang, aku tidak bisa menanganinya.
Dan ke depannya, jangan biarkan urusan kerja masuk ke LINE pribadi.
Taruh monyet kantor di dalam kandang perusahaan. Jangan biarkan masuk ke selimutmu, malammu, atau kehidupan pribadimu.
Inilah dasar supaya stres kerja tidak terbawa ke kehidupan pribadi.
