0. Kesimpulan 5 detik: “gemas” cenderung positif, tetapi bukan alat pendeteksi cinta
Di media sosial ada klaim bahwa ketika perempuan menyebut laki-laki yang ia sukai “kawaii/cute”, artinya sebenarnya “aku suka kamu, cinta kamu, kamu keren”. Mas kalimat itu sudah memasukkan premis “laki-laki yang ia sukai”.
Pertanyaan nyata justru kebalikannya: kalau dia menyebut seorang laki-laki cute, bolehkah kita menyimpulkan bahwa ia tertarik secara romantis?
Penelitian hanya mendukung kesimpulan yang lebih sempit. Kawaii/cuteness berkaitan dengan penilaian positif, approachability, motivasi mendekat, dan keterlibatan sosial. Satu kata tidak membuktikan ketertarikan romantis, cinta mendalam, atau bahwa “cute” berarti “ganteng/keren”. [1][2][3]
1. Apakah “cute” sendiri positif?
Model dua lapis Nittono menjelaskan kawaii sebagai emosi positif yang terkait dengan motivasi sosial untuk memperhatikan dan berada dekat orang atau benda yang disukai. [1]
Survei lintas budaya 2021 terhadap 2.155 orang di Jepang, Amerika Serikat, dan Israel menemukan bahwa cute/kawaii/hamud umumnya dianggap good dan likable, terutama approachable, emotional, dan childish. [2]
Jadi dalam konteks ramah, kata itu biasanya positif. Tetapi “positif” tidak sama dengan “aku ingin pacaran denganmu”.
2. “Suka” perlu dibagi minimal tiga tingkat
- Penilaian positif sesaat — “reaksimu tadi gemas”.
- Rasa suka afiliatif — “aku suka orang ini; menyenangkan”.
- Ketertarikan romantis — “aku ingin berkencan dan memajukan hubungan”.
Riset kawaii mendukung tingkat pertama dan sebagian tingkat kedua, tetapi tidak memberi izin untuk langsung lompat ke tingkat ketiga. [1][2][3]
Dalam literatur yang diperiksa untuk artikel ini, kami tidak menemukan studi yang menggunakan ucapan nyata “kawaii” dari perempuan Jepang kepada laki-laki dewasa sebagai prediktor langsung minat romantis.
3. Apakah perempuan menganggap laki-laki dewasa kawaii?
Ya.
Dalam studi 2021, 500 perempuan Jepang memberi nilai pada skala enam poin. Rata-rata untuk laki-laki dewasa adalah 2,84, sedangkan perempuan dewasa 3,53. [2]
Jadi klaim “kalau disebut cute berarti tidak dianggap sebagai laki-laki” juga terlalu mutlak. Studi itu tidak mengukur keinginan untuk berpacaran.
4. Apakah “cute” sebenarnya kode untuk “keren/ganteng”?
Data semantik mengatakan keduanya berbeda.
Cute dan cool (kakkoii dalam survei Jepang) punya profil berbeda. Cute lebih approachable, emotional, dan childish; cool lebih masculine dan kurang approachable. Keduanya bisa good/likable, tetapi bukan sinonim. [2]
Orang yang sama bisa keren satu menit dan menggemaskan menit berikutnya. Mata uang berbeda, kursnya tidak tetap.
5. Jebakan probabilitas
Walaupun benar “perempuan sering menyebut laki-laki yang disukainya cute”, itu berarti:
P(mengatakan cute | suka dia).
Yang ingin diketahui adalah:
P(suka dia | mengatakan cute).
Keduanya berbeda. Jika kata cute juga dipakai untuk teman, rekan kerja, selebritas, atau reaksi lucu, probabilitas kedua menurun.
Saat hujan banyak payung. Melihat payung tidak membuktikan hujan; bisa saja payung matahari.
6. Jadi katanya tidak berguna?
Bukan. Itu petunjuk positif dengan spesifisitas rendah.
Lebih penting melihat apa yang disebut cute, apakah berulang, apakah ia berkata begitu kepada semua orang, apakah ia memulai kontak, ingin bertemu berdua, dan melakukan tindakan yang benar-benar memajukan hubungan.
Riset speed dating terbaru juga menunjukkan bahwa informasi tentang ketertarikan tersebar pada dinamika percakapan secara keseluruhan. Preprint 2024 menganalisis 964 speed date dan preprint Jepang 2026 menunjukkan sinyal suara kadang menambah informasi di luar transkrip. [4][5]
7. Panduan praktis
- “Bajumu cute” → terutama tentang bajunya.
- “Reaksimu saat malu cute” → positif, tetapi bukti romantis tunggalnya lemah.
- “Kamu memang cute; aku suka sisi itu” → lebih mengarah pada sifat orangnya.
- “Cute seperti adik laki-laki” → kehangatan afiliatif mungkin ada, tetapi pembatas itu bisa menjauh dari romantis.
- “Cute” + ajakan berdua berulang + kontak pribadi + tindakan memajukan hubungan → bukti utama sekarang adalah paket perilaku.
8. Putusan
“Cute” biasanya bukan cap penolakan. Bisa menjadi sinyal hangat dan positif. Tetapi membalik kartunya tetap tidak menampilkan tulisan “hubungan disetujui”.
- Nittono, H. (2016). The two-layer model of ‘kawaii’: A behavioural science framework for understanding kawaii and cuteness. East Asian Journal of Popular Culture, 2(1), 79–95 doi.org
- Nittono, H., Lieber-Milo, S., & Dale, J. P. (2021). Cross-Cultural Comparisons of the Cute and Related Concepts in Japan, the United States, and Israel. SAGE Open, 11(1) doi.org
- Nittono, H., Fukushima, M., Yano, A., & Moriya, H. (2012). The Power of Kawaii: Viewing Cute Images Promotes a Careful Behavior and Narrows Attentional Focus. PLOS ONE, 7(9), e46362 doi.org
- Matz, S. C., Peters, H., Eastwick, P. W., Cerf, M., & Finkel, E. J. (2024). Do Large Language Models Understand Verbal Indicators of Romantic Attraction? Preprint arxiv.org
- Kikuchi, Y., Hayashi, T., Kimura, R., Inoue, N., Ishii, R., & Okada, S. (2026). Speech Signals Complement LLMs for Predicting Interpersonal Attraction in Speed Dating. Preprint arxiv.org
