Kenapa Kesal Kalau Disuruh Nanggung Kesalahan Orang Lain, dan Cara Menolaknya

Kadang ada yang bilang, "Maaf ya, tolong bawain ini dong?", dan permintaannya sendiri kelihatan sepele.

Cara memakai fitur membaca

Dengarkan membacakan artikel. Baca cepat menampilkan frasa berurutan dengan kecepatan pilihan Anda. Latihan bahasa membandingkan terjemahan yang tersedia. Simpan menambahkan penanda di browser ini; buka kembali dari daftar tersimpan di pemutar.

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Iklan
Iklan

Pendahuluan

Kadang ada yang bilang, "Maaf ya, tolong bawain ini dong?", dan permintaannya sendiri kelihatan sepele. Misalnya mengantarkan barang yang ketinggalan, membawa pulang botol minum orang lain, menitipkan sesuatu ke orang lain karena kamu kebetulan lewat, atau "kan searah, tolong urusin ya".

Tapi anehnya, kamu bisa jadi kesal banget.

Bukan sekadar karena kamu malas bawa botol minum. Rasa tidak enaknya jauh lebih dalam dari itu.

Yaitu kesalahan orang lain, kurangnya persiapan, lupa mengecek, dan repotnya bolak-balik entah kenapa menyelinap jadi tanggung jawabmu.

Di artikel ini, pola seperti itu saya sebut "pencucian botol minum".

Pencucian botol minum adalah cara berkomunikasi ketika seseorang menyuruh orang lain membawakan barangnya yang ketinggalan atau urusannya yang belum beres, dibungkus kata-kata lembut seperti "minta tolong ya", "sekalian aja", atau "maaf ya, tapi...".


1. Kamu Kesal Bukan Karena Dimintai Tolong

Dalam banyak kasus, alasan kamu kesal bukan permintaan itu sendiri.

Masalahnya ada di struktur seperti ini:

  • Yang lupa adalah orangnya sendiri
  • Yang memutuskan juga dia
  • Yang tidak menyiapkan sebelumnya juga dia
  • Tapi yang harus pergi adalah kamu
  • Yang menghabiskan waktu juga kamu
  • Yang bawaannya bertambah juga kamu
  • Kalau menolak, malah kamu yang kelihatan dingin

Inilah yang sebenarnya bikin kesal.

Jadi, masalahnya bukan "permintaan kecil". Masalahnya, hitungan tanggung jawab dan biayanya tidak seimbang.

Dari sudut pandang si peminta, mungkin yang terpikir "ah, cuma botol minum, bawain aja kenapa sih". Tapi dari sisi orang yang dimintai, yang terlihat begini:

Lho, kenapa kesalahanmu harus ditutup pakai waktu dan tenagaku buat bolak-balik?

Di sinilah kemarahan itu muncul.


2. Kelihatannya Permintaan Tolong, Padahal Pengalihan Tanggung Jawab

Yang menyebalkan, permintaan seperti ini sekilas terdengar sopan.

"Maaf ya, tapi..." "Sekalian aja..." "Kalau bisa aja sih..." "Sebelum pulang, tolong ya..." "Sebentar aja kok"

Kalau dengar begitu, di permukaan memang kelihatan seperti permintaan biasa. Tapi kalau dilihat isinya, tanggung jawab orang itu sebenarnya sedang dipindahkan ke kamu.

Misalnya, kalau orangnya masih ada di tempat, ya seharusnya dia sendiri yang mengambil. Kalau dia sudah pulang, ya dia yang harus memikirkan cara mengambilnya. Kalau ada pihak ketiga seperti guru atau atasan di tengah-tengah, tinggal bilang langsung ke orangnya.

Tapi entah kenapa urusan itu selalu mengalir ke orang yang tampak paling sanggup, paling tidak bakal menolak, atau yang kebetulan masih ada di situ.

Ini bukan minta tolong, ini "pencucian tanggung jawab".

Dan yang lebih menyebalkan, ini menumbuhkan rasa bersalah di pihak yang menolak.


3. "Kamu Kan Masih di Situ, Jadi Tolong Ya" Itu Logika yang Berbahaya

Ada satu logika yang sering dipakai dalam pengalihan seperti ini.

"Kalau kamu masih di situ, sekalian aja tolong ya." "Kan kamu pulang juga, bawa aja." "Kalau kamu masih di situ, pasti bisa urus dong?"

Ini cukup berbahaya.

Karena "berada di situ" diubah jadi "wajib mengurusnya".

Alasan seseorang masih berada di suatu tempat itu urusan dia sendiri. Mau lagi belajar, kerja, riset saham, atau cuma bengong, itu semua waktunya sendiri.

Tapi orang yang suka mencuci tanggung jawab menganggap siapa pun yang ada di dekatnya sebagai sumber daya yang praktis.

"Kalau ada, bisa dipakai." "Kalau masih di sini, bisa dimintai tolong." "Kalau dekat, pasti mau."

Ini komunikasi dengan batasan yang longgar.

Waktumu, perjalananmu, jumlah barang bawaanmu, dan jadwalmu dihitung ulang seenaknya demi kenyamanan orang lain. Wajar kalau kesal.


4. Hal yang Perlu Dicek Saat Kamu Kesal

Saat kesal, sebelum meluapkan emosi begitu saja, cek empat hal ini dulu.

1. Kesalahan siapa

Siapa yang lupa? Siapa yang tidak mengecek? Siapa yang tidak menyiapkan?

Kalau bagian ini dibiarkan kabur, tanggung jawab entah kenapa mengalir ke orang yang bisa mengurusnya.

2. Siapa yang diuntungkan

Kalau kamu yang mengurus, siapa yang jadi lebih enak? Siapa yang terbantu? Apakah memang harus kamu yang mengerjakannya?

3. Biaya apa yang kamu tanggung

Waktu, perjalanan, bawaan, beban pikiran, perubahan jadwal, pulang jadi lebih telat. Biarpun kelihatan kecil, biayanya tetap ada.

4. Kalau menolak, apa benar jadi masalah

Dalam banyak kasus, urusannya selesai kalau orangnya datang mengambil sendiri. Atau selesai kalau diambil besok. Artinya, dunia tidak kiamat walau kamu tidak mengurusnya.

Kalau sudah melihat sampai sini, yang tadinya "aku harus melakukannya" mulai terlihat sebagai "jangan-jangan dia cuma mau memanfaatkanku supaya dirinya enak".


5. Dasar-dasar Menolak dengan Baik

Yang penting saat menolak bukan melampiaskan semua amarah. Yang penting, tunjukkan batasanmu dengan singkat tanpa memberi celah untuk berdebat.

Ada tiga poin:

  1. Jangan menjelaskan alasan terlalu panjang
  2. Kalau menawarkan alternatif, pilih yang tidak menambah bebanmu
  3. Daripada bilang "aku nggak bisa", bilang "sampai sini aku bisa"

6. Contoh Kalimat untuk Menolak

Pola 1: Orangnya masih ada di dekat situ

Kalau orangnya masih ada, suruh dia ambil sendiri ya.

Ini yang paling kuat. Tanggung jawabnya dikembalikan ke orangnya.

Kalau mau dilembutkan:

Kalau orangnya masih ada, kayaknya paling cepat dia ambil sendiri.

Segitu sudah cukup.


Pola 2: Kamu mau mereka membawanya sampai ke tempatmu

Barang itu ketinggalan karena orang lain, jadi aneh kalau kamu yang harus bergerak. Dalam kasus itu, kamu bisa bilang begini:

Kalau cuma bawa pulang sih bisa, tapi aku nggak bisa pergi mengambilnya, jadi bisa tolong bawa ke tempatku sekarang?

Ini sangat praktis.

Bukan penolakan total, tapi persetujuan bersyarat. Artinya, kamu membuat garis batas: "membawa boleh, tapi biaya buat mengambilnya nggak aku tanggung".


Pola 3: Kamu sudah mau pulang atau ada acara

Aku udah mau jalan, jadi nggak bisa. Minta tolong ke orangnya langsung ya.

Singkat saja sudah bagus. Kalau ditanya "kenapa?", tidak perlu menambah penjelasan.

Aku ada acara, jadi susah. Suruh dia ambil sendiri ya.

Segitu sudah cukup.


Pola 4: Mereka bilang "sekalian aja, kan nggak repot"

Ini bukan sekalian, jadi kali ini nggak bisa.

Ini sangat berguna.

Saat biaya diremehkan dengan kata "sekalian", kamu mengembalikan hitungannya ke tempat yang benar.

Kalau mau agak lembut:

Aku juga lagi bawa barang dan ada jadwal, jadi nggak bisa kalau cuma sekalian.

Begitu saja sudah cukup.


Pola 5: Diminta guru, atasan, atau pihak ketiga

Kalau yang meminta pihak ketiga memang lebih sulit menolak, tapi dasarnya begini:

Ini barang dia sendiri, bisa tolong konfirmasi ke orangnya langsung?

Atau:

Kalau aku yang ambil, bebanku bertambah, jadi aku minta orangnya ambil sendiri ya.

Intinya, jangan bilang "ini salahmu", tapi "kembalikan urusannya ke orangnya".


Pola 6: Kamu benar-benar nggak mau suasana jadi canggung

Hari ini nggak bisa. Lain kali tolong dibawa pulang sendiri ya.

Ini cara yang sulit merusak hubungan. Kamu menolak untuk kali ini sambil sekaligus membuat aturan untuk berikutnya.


7. Cara Menolak yang Sebaiknya Dihindari

Sebaliknya, cara menolak seperti ini gampang bikin capek.

1. Menjelaskan panjang lebar dengan logika

Awalnya kan yang lupa dia sendiri, aku sekarang bawaannya juga banyak, dan kalau dia sudah pulang aku harus balik lagi...

Itu benar, tapi tergantung orangnya, ujung-ujungnya jadi debat.

Saat menunjukkan batasan, kalimat pendek lebih kuat daripada gempuran logika.


2. Marah sambil menyerang pribadi

Itu salahmu, urus sendiri sana

Perasaannya aku paham banget. Tapi kalau benar-benar diucapkan, masalahnya bergeser dari "botol minum" ke "cara bicaramu".

Di dalam hati silakan saja. Ke luar, balas singkat seperti mengurus administrasi, itulah yang menang.


3. Terlalu banyak alasan

Semakin banyak alasan, semakin orang itu berusaha mematahkannya.

"Bawaanku banyak." "Aku nggak ada waktu." "Aku capek."

Walaupun semuanya benar, tergantung orangnya, dia bisa membalas "sebentar aja kok".

Jadi, saat menolak, pegang aturan, bukan alasan.

Ini barang dia sendiri, jadi dia yang urus ya.

Ini yang kuat.


8. Cara Memandang Batasan: Pisahkan "yang Bisa Dilakukan" dari "yang Tidak Mau Ditanggung"

Yang penting bukan menolak semuanya.

Menolong orang yang benar-benar kesulitan bukan hal buruk. Kalau keluarga atau teman, kadang kita memang ingin membantu.

Tapi dua hal berikut harus dipisahkan:

  • Membantu karena kamu sendiri rela
  • Dipaksa menanggung kesalahan orang lain seolah itu wajar

Dua hal ini sangat berbeda.

Yang pertama adalah kebaikan. Yang kedua adalah dijadikan tukang suruh.

Kebaikan hanya berlaku kalau kamu bisa memilihnya sendiri. Kebaikan yang tidak bisa menolak hanya jadi wadah penampung pengalihan tanggung jawab.


9. Satu Kalimat untuk Mencegah "Pencucian Botol Minum"

Kalimat paling ampuh untuk mencegah pencucian botol minum adalah ini:

Minta tolong ke orangnya langsung ya.

Itu saja.

Memang sangat pendek, tapi secara struktur kuat. Karena tanggung jawab dikembalikan ke tempat asalnya.

Kalau mau sedikit lebih sopan:

Ini barang dia sendiri, jadi tolong dia ambil sendiri ya.

Segitu sudah cukup.

Di kantor, di sekolah, di keluarga, dasarnya sama:

"Minta tolong ke orangnya langsung." "Minta tolong ke penanggung jawabnya." "Tanyakan ke yang memutuskan." "Sampai sini aku bisa, tapi selebihnya nggak bisa."

Kalau keempatnya bisa dipakai, banyak pencucian tanggung jawab bisa dihentikan.


10. Penutup

Kesal karena dipaksa menanggung kesalahan orang lain bukan berarti kamu sempit hati.

Masalahnya, barang yang ketinggalan, persiapan yang kurang, dan tanggung jawab orang lain hampir diubah jadi waktumu, perjalananmu, bawaanmu, dan beban mentalmu.

Kelihatannya permintaan kecil, tapi sebenarnya hitungan tanggung jawab dan biayanya tidak pas.

Karena itu, yang kamu butuhkan bukan membentak, tapi mengembalikan tanggung jawab ke tempat asalnya.

Terakhir, ini kalimat-kalimat yang bisa dipakai, dikumpulkan jadi satu:

Minta tolong ke orangnya langsung ya. Suruh dia ambil sendiri ya. Aku nggak bisa pergi mengambilnya, tapi kalau dibawa ke sini, aku bisa urus. Ini bukan sekalian, jadi kali ini nggak bisa. Hari ini nggak bisa. Lain kali dia urus sendiri ya.

Botol minum itu, biar pemiliknya yang bawa pulang. Kamu tidak perlu menjadikan botol minum orang lain sebagai beban hidupmu.

Bagikan artikel ini

Iklan

Satu lagi? Ada yang seru?

Mumpung sudah selesai membaca: beberapa cerita yang mirip dan beberapa yang beda sama sekali tapi seru.

  1. Topik serupaHisoka memang mesum, tapi kok jadi senior yang baik?Sosok pelatih di arc Greed Island
  2. Jika Sulit Memercayai Orang BaruKepercayaan Tidak Harus Diberikan Sekaligus, Bisa Dibuka Bertahap
  3. Beda sama sekali, tapi seruJam 5 pagibadan bilang “tidur”, otak bilang “kami masih buka”
  4. AURA Dulunya Berarti “Angin Sepoi-sepoi”dari Aura si Guillotine di *Frieren* sampai love hotel dengan “kehidupan sehari-hari sudah tidak ada, kan?”
  5. Untuk yang Sulit Melakukan Sesuatu SendirianBongkar “Kalau Tak Ada Teman, Aku Tak Jalan” dan Bangun “OS Aksi Solo”
  6. Deck Aggro Nightmare Set 9rencana tiga gigi sampai Storm

Baca ini hari ini

Masing-masing menjawab pertanyaan yang biasanya muncul setelah membaca artikel ini.

Lihat semua artikelLebih banyak tentang Hubungan

Cari artikel lain

Semua artikel

Mendoi-chan

Pengelola situs

Mendoi-chan

Mengubah kerepotan di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari menjadi struktur yang jelas dan langkah berikutnya.