Ketika membayangkan orang yang “jago ngobrol”, kita sering membayangkan seseorang yang punya cerita menarik tanpa habis.
Padahal kemampuan itu bisa dipecah menjadi hal-hal kecil.
Ambil kait dari kalimat terakhir lawan bicara. Tanyakan satu lanjutan. Beri cerita pendek dari pengalaman sendiri. Kalau energinya rendah, pindah topik. Kalau orang itu tiba-tiba antusias, barulah tinggal di sana dan gali lebih dalam.
Dan dalam kelompok, ada satu hal lagi:
duduk bersama orang lain tidak otomatis menjadikan kita pembawa acara.
Kalau lupa, makan santai bisa berubah menjadi proyek: mengatur giliran bicara, menyelamatkan keheningan, membagikan topik, dan memastikan semua orang ikut.
Tidak ada yang memberi proyek itu.
1. Orang yang bisa menjaga percakapan tidak selalu menciptakan topik baru; mereka mengambil kait dari ucapan lawan bicara
Kalau seseorang berkata baru saja bepergian, sudah ada banyak cabang: ke mana, kenapa memilih tempat itu, makan apa, apa yang gagal, apa yang mengejutkan, mau kembali atau tidak.
Kalau seseorang berkata pekerjaan sedang sibuk, ada cabang lain: musim sibuk, tugas sebenarnya, hari libur, hal yang mulai terasa mudah, hal yang masih menyebalkan.
Studi tahun 2017 tentang percakapan langsung dua orang menemukan bahwa orang yang lebih banyak bertanya, terutama pertanyaan lanjutan yang terkait dengan ucapan pasangan, cenderung lebih disukai oleh lawan bicara.[1]
Sering kali bahan untuk kalimat berikutnya sudah ada di kalimat sebelumnya.
2. Tetapi kalau hanya bertanya, kita bisa berubah menjadi pewawancara
Ada jebakannya.
“Pergi ke mana?” “Ngapain?” “Apa yang paling bagus?” “Mau ke sana lagi?”
Kalau terus begitu, percakapan berubah menjadi wawancara murah.
Karena itu cerita pendek dari diri sendiri juga penting.
Misalnya: “Pernah secara tidak sengaja masuk acara tentang pengolahan air, ternyata cukup menarik, lalu beberapa hari kemudian hujan deras membuat semua yang baru dipelajari terasa seperti pelajaran langsung.”
Tanya sedikit. Balas dengan pengalaman sendiri selama dua puluh atau tiga puluh detik. Kembalikan bola.
Dengan begitu peran tidak membeku menjadi “penanya” dan “yang ditanya”.
3. Kebiasaan refleksi berubah menjadi stok cerita
Kita juga tidak perlu sengaja membuat cerita khusus untuk mengobrol.
Kalau terbiasa menceritakan ulang apa yang terjadi, menulisnya, atau merefleksikannya bersama AI, pengalaman biasa mulai tersimpan dalam bentuk yang lebih mudah diambil kembali.
Bukan hanya “aku pergi ke suatu tempat”, tetapi:
apa yang aneh, apa yang lucu, apa yang mengejutkan, apa hubungannya dengan hal lain, di mana letak penutupnya.
Nanti ketika orang lain bicara tentang perjalanan, kerja, makanan, hobi, tempat aneh, atau cuaca, pengalaman terkait lebih mudah muncul.
Ini bukan seperti menghafal bahan obrolan. Lebih mirip mengubah kehidupan sehari-hari menjadi basis data episode yang bisa dicari.
4. Percakapan berdua dan percakapan kelompok bukan kegiatan yang sama dengan jumlah kursi berbeda
Saat berdua, menggali satu topik secara mendalam terasa cukup alami.
Dalam kelompok, pembicara mungkin juga memikirkan siapa yang mendengar, siapa yang bicara setelahnya, siapa yang mungkin mengulang cerita itu, dan bagaimana informasi tersebut terlihat di depan semua orang.
Tinjauan tentang percakapan berdua versus kelompok menyebut adanya “many minds problem”: ketika ukuran kelompok bertambah, waktu bicara, pergantian giliran, dan umpan balik pendengar berubah, dan hal itu berdampak pada apa yang dibuka, seberapa banyak, dan bagaimana perasaan orang setelah membukanya.[2]
Jadi ketika seseorang lebih diam dalam kelompok, terlalu sederhana kalau langsung disimpulkan bahwa ia “tidak pandai ngobrol”.
Orang yang sama bisa banyak bicara saat berdua lalu mengerem ketika audiens membesar.
5. Orang yang suka menggali bisa mengubah obrolan ringan menjadi sesi konsultasi karier tanpa sadar
Karier, nilai hidup, masa depan, keluarga, dan hubungan sangat mudah digali terlalu dalam.
Seseorang hanya menyebut pekerjaan, lalu pertanyaannya berubah menjadi:
“Kenapa memilih karier itu?” “Apa yang paling penting buatmu?” “Mau ke mana setelah ini?” “Di mana posisi itu dalam prioritas hidupmu?”
Selamat. Konsultasi karier gratis resmi dibuka.
Saat berdua dan lawan bicara juga antusias, itu bisa sangat menyenangkan.
Dalam kelompok, pertanyaannya bukan cuma “bisa menjawab atau tidak”, tetapi juga “ingin semua orang di sini mendengar jawabannya atau tidak”.
6. Strategi yang mudah dipakai dalam kelompok: bergerak horizontal, baca energi, lalu turun satu tingkat saja
Mulai dengan hal ringan.
Perjalanan, makanan, tempat yang baru dikunjungi, cerita kerja ringan, hobi, akhir pekan, sesuatu yang baru dilihat.
Kalau jawabannya pendek, pindah.
Kalau jawabannya makin panjang, muncul contoh konkret, lawan bicara bertanya balik, atau ada suasana “nah, ini yang ingin aku ceritakan”, barulah turun satu tingkat lebih dalam.
Tulisan Harvard Business School tahun 2025 membedakan pertanyaan pembuka, cermin, pergantian topik, dan lanjutan. Pertanyaan pergantian topik membawa percakapan ke arah baru; pertanyaan lanjutan menggali saat kedua orang sudah menemukan topik yang layak ditinggali.[3]
Aturannya sederhana:
Dalam kelompok, jelajah secara horizontal. Kalau satu topik menangkap perhatian, gali sedikit.
Saat tinggal berdua, barulah boleh jauh lebih dalam.
7. Sangat antusias saat bicara tidak menjamin orang akan senang dengan semua yang sudah dibuka setelah pulang
Ada masalah lain.
Seseorang bisa benar-benar semangat ketika bercerita lalu di rumah berpikir, “Kenapa aku cerita sejauh itu di depan semua orang?”
Nilai hidup, keluarga, hubungan, dan perasaan nyata tentang pekerjaan mudah terbawa terlalu jauh ketika suasana sedang bagus.
Keputusan akhir tentang apa yang dibagikan tetap milik pembicara.
Pendengar tidak harus menjadi petugas privasi bagi orang dewasa lain.
Tetapi berguna untuk membaca dua sinyal:
seberapa besar energinya? seberapa publik situasinya?
Itu saja sudah mengurangi banyak insiden “menggali kelewat dalam”.
8. Yang paling penting: kita tidak harus menjalankan seluruh ruangan
Dalam kelompok, orang yang bertanggung jawab kadang mulai menjadi moderator gratis.
Ada hening. Harus kasih pertanyaan ke seseorang. Orang itu belum bicara. Butuh topik baru.
Tidak selalu.
Kalau tidak diminta menjadi moderator, kita boleh sekadar ikut.
Makan. Lihat ponsel. Istirahat. Biarkan orang lain melanjutkan topik yang sedang mereka nikmati.
“Kalau aku tidak menjaga ruangan ini tetap hidup, semuanya mati” sering kali hanyalah proyek yang kita berikan sendiri.
9. Diam lama lalu tiba-tiba masuk dengan “eh, itu apa?” juga boleh
Partisipasi tidak harus terus-menerus.
Kita bisa diam sepuluh menit, mendengar satu hal menarik, lalu tiba-tiba masuk:
“Eh, itu apa?” “Bagian itu bikin penasaran.” “Kedengarannya menarik, lanjut.”
Orang lain mungkin kaget sebentar karena orang yang tadi diam tiba-tiba masuk dengan penuh energi.
Tidak masalah.
Percakapan tidak harus paket bulanan. Bayar sesuai pemakaian juga boleh.
Ikut bagian yang menarik. Lewati sisanya. Kalau topiknya habis, kembali ke makanan.
Kesimpulan
Percakapan terasa melelahkan ketika “jago ngobrol” berarti harus terus berbicara.
Model yang lebih praktis jauh lebih sederhana.
Saat berdua, gali vertikal. Jangan biarkan pertanyaan berubah menjadi wawancara; balas juga dengan cerita pendek sendiri. Dalam kelompok, bergerak horizontal di antara topik ringan. Gali lebih dalam hanya saat lawan bicara jelas-jelas tertarik. Semakin luas audiens, semakin jangan menganggap antusiasme sebagai izin tanpa batas untuk terus menggali. Dan jangan menjadi moderator kalau itu bukan peran kita.
Kalau tidak ingin bicara, tidak perlu.
Ketika akhirnya ada hal menarik, cukup angkat kepala dan tanya:
“Eh, itu apa?”
Itu sudah cukup disebut ikut ngobrol.
Dan makanan masih bisa dinikmati.
- Huang, K., Yeomans, M., Brooks, A. W., Minson, J., & Gino, F. (2017). It Doesn’t Hurt to Ask: Question-Asking Increases Liking. Journal of Personality and Social Psychology, 113(3), 430–452 doi.org
- Cooney, G., Mastroianni, A. M., Abi-Esber, N., & Brooks, A. W. (2020). The many minds problem: disclosure in dyadic versus group conversation. Current Opinion in Psychology, 31, 22–27 doi.org
- Brooks, A. W. (2025). The Elements of Meaningful Conversation: Fewer Mirror Questions, More Follow-Ups. Harvard Business School Working Knowledge library.hbs.edu
