Locale: id
Description: Teman mendadak pendiam, pulang tanpa pamit, lalu keluar dari grup. Bedakan tindakan yang terlihat dari dugaan tentang perasaannya.
Seorang teman terlihat lebih pendiam dari biasanya. Dalam sekitar lima detik, seseorang langsung bertanya, “Kamu baik-baik saja?” Tidak perlu mengumpulkan keberanian. Pertanyaannya keluar begitu saja.
Temannya bercerita tentang kejadian terkait pekerjaan yang sempat membuat panik, tetapi ternyata bukan kesalahannya. Cerita selesai, suasana tetap sunyi. Tak lama kemudian, teman itu sudah pulang tanpa pamitan yang jelas.
Daripada terus menebak, orang yang bertanya memilih menunggu balasan pesan.
Lalu muncul kabar baru: teman tersebut juga keluar dari grup chat.
Tadinya cuma percakapan santai. Sekarang rasanya seperti serial misteri yang episode terakhirnya belum diunggah.
Mana fakta, mana tafsiran?
Yang diketahui: teman terlihat diam, menanggapi pertanyaan, pergi tanpa perpisahan yang terdengar, lalu keluar dari grup. Tindakan terakhir adalah perubahan nyata dalam keikutsertaannya di grup.
Namun kita belum tahu sasarannya, alasannya, atau apakah tindakan itu ditujukan kepada orang tertentu. Keluar dari grup tidak otomatis berarti membenci seseorang.
Apakah menanyakan kabar itu keliru?
Penelitian Liu dan rekan, dipublikasikan secara daring pada 2022 dan dalam jurnal pada 2023, menemukan bahwa orang sering meremehkan betapa senangnya penerima ketika dihubungi. Perhatian kecil bisa berarti banyak.
Tetapi penelitian itu tidak membuktikan bahwa menanyai perasaan seseorang di depan teman-temannya selalu tepat. Bertanya dengan ringan memberi pilihan; mendesak jawaban justru menghilangkan pilihan itu.
Diam bukan alat penerjemah emosi
Tinjauan ilmiah Barrett dan rekan pada 2019 menjelaskan keterbatasan menyimpulkan emosi tertentu hanya dari ekspresi wajah. Orang yang diam bisa lelah, memikirkan sesuatu, atau tidak nyaman.
Studi Mastroianni dan rekan pada 2021 meneliti 932 percakapan dan menemukan bahwa waktu percakapan berakhir sering berbeda dari waktu yang sebenarnya diinginkan peserta. Itu menunjukkan adanya salah baca dalam interaksi sosial, bukan penjelasan untuk keluar dari grup.
Apa yang berubah setelah teman keluar dari grup?
Dugaan “mungkin cuma capek” perlu ditinjau ulang karena ada perilaku tambahan. Keinginan menjaga jarak, keputusan tentang grup, atau urusan lain tetap merupakan kemungkinan, bukan putusan akhir. Tidak ada dasar untuk memberi persentase pasti pada masing-masing.
Kalau sudah mengirim pesan, berikan waktu. Bila perlu menghubungi lagi, cukup sampaikan bahwa kamu bersedia mendengar jika dia ingin bercerita.
Butuh lima detik untuk bertanya; jawaban tentang isi hati orang lain tidak punya penghitung waktu.
Sayangnya, grup chat tidak menyediakan menu “lihat alasan sebenarnya”.
Referensi (3)
- Liu PJ, Rim S, Min L, Min KE. The surprise of reaching out: Appreciated more than we think. Journal of Personality and Social Psychology. Published online 2022; print 2023. https://doi.org/10.1037/pspi0000402
- Mastroianni AM, Gilbert DT, Cooney G, Wilson TD. Do conversations end when people want them to? PNAS. 2021. https://doi.org/10.1073/pnas.2011809118
- Barrett LF, Adolphs R, Marsella S, Martinez AM, Pollak SD. Emotional Expressions Reconsidered: Challenges to Inferring Emotion From Human Facial Movements. Psychological Science in the Public Interest. 2019. https://doi.org/10.1177/1529100619832930
These studies examine social contact, conversation endings, and emotion inference in general. None identifies the motive of the person in this episode or establishes why people leave group chats.
