“Sudah beruntung ada orang yang mau berteman denganku. Kalau diajak, aku harus ikut. Kalau menolak sekali, mungkin aku tak akan diajak lagi.”
Awalnya cuma pesan, “Sabtu ikut, tidak?” Namun di kepala orang itu tiba-tiba berlangsung rapat penilaian tahunan pertemanan. Acara sukarela berubah jadi layanan dengan ketentuan khayalan: “Absen sekali bisa mengakibatkan akun ditutup permanen.” Ini grup teman atau aplikasi berlangganan?
Mendengar itu kadang membuat kita gemas. Bukan menertawakan kecemasannya, melainkan merasa tersentuh oleh orang yang sungguh-sungguh mematuhi aturan yang mungkin tidak pernah dibuat siapa pun. Yang keluar dari mulut hanya, “Oh, begitu.”
Buku aturan yang tak pernah dibagikan
Alurnya bisa begini: Aku kurang pantas disukai → Kalau menolak, mereka kecewa → Nanti tidak mengajakku lagi → Kesempatan ini tak boleh hilang → Semua undangan harus diterima. Nongkrong mendadak punya target kehadiran 100 persen. Bagian personalia belum ada, absensi sudah jalan.
Ini mungkin melibatkan penilaian diri yang rendah, menebak pikiran orang lain, atau membayangkan akhir terburuk. Tetapi beberapa kalimat tidak cukup untuk memberi label psikologis kepada seseorang. Ia mungkin pernah benar-benar dijauhi, atau lingkungannya memang menuntut semua orang hadir.
Apakah akibat menolak undangan dibesar-besarkan?
Penelitian Givi dan Kirk yang terbit pada 2024 menunjukkan orang yang menolak undangan cenderung melebih-lebihkan kemarahan, kekecewaan, dan kemungkinan tidak diundang lagi [1]. Bukan berarti semua penolakan aman. Perkiraan kerusakan sosial bisa lebih besar daripada reaksi sebenarnya.
Lucunya, usaha menjaga pertemanan justru mengubah waktu bersantai menjadi lembur wajib. Niatnya jalan-jalan, kok malah harus mengisi daftar hadir?
Tahu jawaban bukan berarti wajib menasihati
Dari luar mungkin terlihat mudah: “Kalau mau datang, datang saja; kalau tidak, tolak.” Namun lawan bicara mungkin sedang bercerita, bukan meminta solusi.
Kalau tiba-tiba kita berteriak, “Itu pikiran katastrofik! Itu membaca pikiran orang!”, obrolan biasa berubah menjadi ujian nasional kesalahan berpikir. Tak ada yang mendaftar, lembar jawab sudah dibagikan.
Riset menemukan bahwa nasihat tanpa diminta dinilai kurang berguna dan lebih jarang diikuti saat penerima memang tidak menginginkannya [2]. Penelitian di tempat kerja menemukan perbedaan penilaian terhadap niat pemberi nasihat [3]. Mendengarkan dengan sungguh-sungguh kadang membantu orang memahami pikirannya sendiri [4], tetapi lebih dari sekadar mengangguk.
Gemas dalam hati, sopan di luar
Menyukai ketulusan yang canggung berbeda dari mengejek penderitaan. Jika diminta pendapat, jawab. Jika ada bahaya serius atau dampak bersama, bicarakan seperlunya. Selain itu, tak ada kewajiban mengedit petunjuk hidup orang lain.
Jika seorang analis langsung meminta “Sebutkan tiga pengalaman penolakan secara rinci,” bisa jadi dialah yang paling pantas diteliti. Ini ngobrol dengan teman, bukan sidang skripsi.
Referensi (1)
[1] Givi & Kirk (2024), Saying No, https://doi.org/10.1037/pspi0000443 [2] Paik (2020), advice solicitation and reactance, https://doi.org/10.1080/03637751.2019.1641729 [3] Landis, Fisher & Menges (2022), advice at work, https://doi.org/10.1037/apl0000876 [4] Itzchakov et al. (2020), high-quality listening, https://doi.org/10.1016/j.jesp.2020.104022
