Ringkasan: Apa bedanya ketertarikan pada karakter hewan mirip manusia dan hewan sungguhan? Ini penjelasan hasil penelitian dan skala tujuh tingkat.
Karakter rubah berbulu lembut yang bisa berbicara mungkin terasa lucu, hangat, bahkan menarik. Tetapi saat melihat rubah sungguhan, reaksi kebanyakan orang hanyalah, “Hewan yang imut!”
Bulunya sama. Mengapa perasaan bisa berbeda? Apakah ada resep ajaib “70% manusia, 30% rubah”?
Penelitian menemukan perbedaan besar antara ketertarikan seksual pada karakter hewan yang dibuat mirip manusia dan pada hewan sungguhan. Belum ada persentase manusia yang terbukti menjadi batas universal.
Gemas dan tertarik secara seksual bukan hal yang sama
Penggemar furry menyukai tokoh hewan fiksi yang berbicara, punya ekspresi, kepribadian, dan hubungan layaknya manusia. Ada yang menggambar, membuat avatar, berkostum, atau menikmati ceritanya.
Merasa gemas, ingin memeluk, menyukai seseorang secara romantis dan tertarik secara seksual adalah pengalaman yang berbeda. Satu perasaan tidak otomatis membuktikan perasaan lain. Tokoh fiksi dan hewan sungguhan juga harus dibedakan.
Hasil 2019: 8,51 dibanding 2,14
Penelitian tahun 2019 melibatkan 334 penggemar furry laki-laki yang direkrut lewat internet. Pada skala ketertarikan seksual 0–10, rata-rata untuk karakter hewan antropomorfis adalah 8,51, sedangkan untuk hewan sungguhan 2,14.[1]
Perbedaannya besar. Namun 46,7% memberi nilai di atas nol untuk hewan sungguhan, jadi tidak semua peserta menjawab sama. Sampel laki-laki daring itu juga tidak mewakili seluruh komunitas.
Tokoh fiksi tidak hanya memiliki telinga dan bulu. Ia berbicara, menunjukkan perasaan, mengambil keputusan, dan menjalin hubungan. Kesan keseluruhannya mungkin lebih penting daripada kemiripan bagian tubuh.
Mengapa ada angka 99% dan 10%?
Dalam studi 334 laki-laki tersebut, 99% mengaku memiliki setidaknya sedikit motivasi seksual terkait minat furry.[1] Survei FurScience lain pada 2019 menemukan sekitar 10% menganggap furry terutama sebagai fetish pribadi.[2] Survei 2011 mencatat kira-kira sepertiga menilai ketertarikan seksual penting bagi keikutsertaan mereka, sedangkan sekitar seperempat menganggapnya hampir tidak berperan.[3]
Pertanyaan dan kelompok respondennya berbeda. “Apakah ada sedikit unsur seksual?” tidak sama dengan “Apakah itu alasan utama?”. Suka bakso tidak berarti semua orang ingin membuka warung bakso.
Skala tujuh tingkat mengukur bentuk avatar
FurScience membahas survei Anthrocon 2016. Peserta menilai karakter furry milik mereka sendiri dari 1 (sangat mirip hewan biasa) sampai 7 (sangat mirip manusia). Kebanyakan memilih desain yang lebih antropomorfis.[4]
Survei itu membahas desain karakter, bukan persentase anatomi manusia yang memicu ketertarikan seksual. Grafik “tingkatan furry” di internet boleh jadi bahan diskusi selera, tetapi bukan ambang ilmiah.
Untuk menelitinya secara langsung, wajah, telinga, bulu, bentuk tubuh, ekspresi, dan sifat perlu diubah satu per satu. Lalu tanyakan terpisah soal kelucuan, keinginan memeluk, rasa romantis, dan ketertarikan seksual.
Apakah yang dilihat otak adalah kesan utuh?
Itu hipotesis yang masuk akal. Seseorang yang tertarik pada ciri feminin mungkin menyukai kombinasi siluet feminin dan bulu lembut. Orang lain bisa lebih menyukai ciri maskulin, suara, kepribadian, atau kelucuan semata.
Dalam eksperimen 2023, laki-laki yang terlebih dulu melihat tayangan erotis cenderung melaporkan rasa jijik yang lebih rendah terhadap cairan tubuh terkait seks sesudahnya.[5] Sebuah tinjauan 2004 membahas kaitan perkembangan otak selama pubertas dengan makna seksual suatu rangsangan.[6]
Keduanya tidak menguji penyebab seseorang menjadi furry. Hasilnya mengingatkan kita bahwa konteks dan persepsi juga penting.
Berapa persen harus seperti manusia?
Tidak ada angka universal yang terbukti. Lebih berguna mencari tahu ciri apa yang menghasilkan rasa gemas, nyaman, romantis, atau ketertarikan seksual.
Seseorang bisa berpikir, “Ini benar-benar tipeku,” sekaligus, “Kalau dipeluk saat musim hujan pasti hangat.”
Menghitung semua itu menjadi “65% manusia” seperti mengukur jatuh cinta dengan termometer. Yang terukur mungkin hanya suhu selimutnya.
[1] Hsu & Bailey (2019), The “Furry” Phenomenon, Archives of Sexual Behavior
[2] FurScience (2019), Furry as Fetish
[3] FurScience, International Online Furry Survey: Winter 2011
[4] FurScience, Fursona Species Popularity and Anthrocon 2016 scale
[5] Bidirectional relationship between sexual arousal and (sex-related) disgust (2023), PLOS ONE
[6] Sisk & Foster (2004), The neural basis of puberty and adolescence, Nature Neuroscience
