Melihat pasangan tidak selalu membuat iri.
Dua orang berjalan berdampingan dengan sedikit jarak? Biasa saja.
Lalu mereka bergandengan tangan.
Satu orang merangkul pinggang pasangannya.
Mereka berjalan sambil saling menempel.
Tiba-tiba muncul:
Aku juga mau begitu.
Mungkin yang membuat iri bukan label “punya pasangan”, tetapi bukti nyata kedekatan fisik.
Jika diteruskan, keinginannya menjadi sangat tubuh: ingin menempel, memeluk, bahkan cukup dekat untuk mencium aroma orang itu.
Lalu muncul analogi dengan anjing yang merengek ketika sendirian atau ingin dekat.
Kesimpulan sementara:
Tubuh ingin dimanja.
Pikiran: “Aku bisa hidup sendiri.” Tubuh: “ngiiing…” Pikiran: “Repot sekali kamu.”
1. Mengapa pasangan yang menyentuh terasa lebih kuat daripada pasangan yang hanya berjalan bersama?
Berjalan bersama hanya menunjukkan bahwa dua orang sedang bersama.
Bergandengan tangan, merangkul pinggang, atau bersandar menunjukkan lebih banyak: kedekatan dan sentuhan diperbolehkan, terasa normal, dan diperkirakan akan diterima oleh kedua pihak.
Kajian tentang social touch menempatkan sentuhan sebagai bagian penting dari komunikasi nonverbal, afiliasi, dan ikatan sosial.[1]
Jadi perasaan yang lebih tepat mungkin bukan “aku iri karena mereka punya pasangan”, melainkan:
“Aku iri karena jarak sedekat itu sudah menjadi keseharian mereka.”
Tubuh lebih mudah bereaksi pada bukti konkret daripada status abstrak.
2. Intinya mungkin physical affection, bukan status hubungan
Hubungan romantis dapat memberi percakapan, aktivitas bersama, seks, kerja sama hidup, rencana masa depan, rasa dipilih, dan kasih sayang fisik.
Bagi sebagian orang, bagian terakhir sangat penting.
Bergandengan tangan. Pelukan. Tangan di punggung. Lengan di pinggang. Duduk menempel di sofa.
Itulah physical affection.
Dan kemampuan hidup mandiri tidak menghapus keinginan akan sentuhan.
Kemandirian dan kebutuhan sentuhan adalah variabel berbeda.
Pikiran bisa mengurus belanja, makan, perjalanan, dan tagihan.
Tubuh masih bertanya:
“Bagus. Terus siapa yang bisa kupeluk?”
Departemen lain.
3. “Aku ingin menempel dan mencium aromanya” adalah bahasa tubuh yang sangat jelas
Pikiran bisa berkata, “aku ingin kedekatan emosional.”
Tubuh menulis versi yang lebih kasar:
Dekat. Hangat. Peluk. Aroma. Jangan pergi.
Ini bukan berarti keinginan manusia untuk merasakan aroma pasangan sama dengan perilaku penciuman anjing.
Intinya, keintiman bersifat multisensorik.
Suhu, tekanan, jarak, aroma, napas, dan postur dapat menjadi bagian dari pengalaman “dekat”.
Kata abstrak “suka” diterjemahkan tubuh menjadi sinyal konkret: dekat, hangat, aman disentuh, tidak menjauh.
4. Rengekan anjing memang dapat menjadi panggilan kontak atau tanda distress
Whine pada anjing sering diteliti dalam situasi perpisahan.
Studi 2021 mengamati 167 anjing keluarga saat dipisahkan dari pemilik dan menganalisis 4.086 whine. Beberapa ketidakteraturan akustik berkaitan dengan masalah perpisahan dan tingkat arousal yang lebih tinggi.[2]
Studi 2026 menggambarkan whine saat perpisahan sebagai contact call terkait stres yang dapat menarik perhatian dan membantu memulihkan kontak dengan pemilik.[3]
Merck Veterinary Manual juga mencantumkan distress vocalization sebagai salah satu tanda separation distress.[4]
Namun “merengek = kesepian” terlalu sederhana.
Harapan, permintaan, kegembiraan, kecemasan, atau frustrasi juga dapat memicu whine.
Konteks tetap penting.
Tetapi pola “terpisah → ingin kontak → bersuara” memang nyata.
5. Sentuhan manusia juga bukan sekadar hiasan
Riset social touch mengaitkan sentuhan dengan komunikasi, ikatan, perkembangan, dan kesejahteraan psikologis.[1]
Tinjauan sistematis dan meta-analisis multilevel tahun 2024 memasukkan 137 studi dalam meta-analisis, 75 studi tambahan dalam tinjauan sistematis, dengan total 12.966 peserta. Pada orang dewasa, rata-rata manfaat terlihat pada nyeri, perasaan depresi, dan kecemasan, antara hasil lainnya.[5]
Ini bukan berarti “cari pasangan lalu sering pelukan” adalah resep medis.
Makna sentuhan dipengaruhi jenis sentuhan, rasa aman, preferensi, budaya, konteks, dan kondisi klinis.
Sentuhan yang tidak diinginkan bukan kasih sayang.
Satu tubuh boleh ingin dekat, tetapi tubuh lain tetap punya hak penuh untuk menolak.
6. Hubungan dengan sedikit sentuhan berkaitan dengan lebih banyak kesepian — tetapi studinya kecil
Studi Scientific Reports 2023 melibatkan 60 peserta dan meneliti video call, sentuhan simulasi, frekuensi kontak sehari-hari, dan kesepian.[6]
Virtual high-five tidak menunjukkan efek khusus.
Namun orang dalam hubungan dengan sedikit sentuhan memiliki skor kesepian yang lebih mirip orang lajang daripada mereka yang berada dalam hubungan dengan banyak sentuhan. Frekuensi sentuhan juga berkorelasi negatif dengan kesepian.[6]
Ini menunjukkan bahwa “punya pasangan” dan “mengalami kedekatan” mungkin bukan variabel yang sama.
Namun sampelnya kecil dan desainnya korelasional.
Tidak membuktikan bahwa menambah sentuhan otomatis menghapus kesepian.
Tubuh tidak boleh menjadikan satu makalah sebagai brosur propaganda.
7. “Tubuh ingin dimanja” bukan diagnosis, tetapi model yang berguna
Rapat internal:
Pikiran: “Apa aku butuh hubungan?” Tubuh: “Entahlah. Peluk.” Pikiran: “Aku baik-baik saja sendiri.” Tubuh: “Ngiing.” Pikiran: “Kamu anjing?” Tubuh: “Ngiing.”
“Tubuh” di sini bukan istilah psikologi formal.
Ini metafora untuk memisahkan penilaian kognitif dari keinginan sensorik dan afiliasi.
Menginginkan sentuhan tidak berarti hidup belum lengkap.
Merindukan kedekatan tidak berarti satu orang tertentu adalah jawabannya.
Keinginan akan kasih sayang juga tidak harus langsung diubah menjadi kontrak hubungan.
8. Kesimpulan: memang merepotkan, tetapi tiket permintaannya cukup spesifik
Awalnya hanya satu observasi: pasangan yang berjalan berjauhan biasa saja; pasangan yang saling menyentuh terasa berbeda.
Variabel yang hilang adalah kedekatan fisik.
Lalu muncul pelukan, menempel, dan aroma.
Lalu rengekan anjing ikut masuk.
Riset menunjukkan bahwa whine anjing memang muncul dalam konteks perpisahan dan pemulihan kontak, sementara social touch manusia berkaitan dengan ikatan dan kesejahteraan.
Jadi leluconnya masih lolos pemeriksaan fakta:
Tubuh ingin dimanja.
Pikiran boleh sangat mandiri.
Tubuh tetap bisa membuka tiket:
“Permintaan: satu manusia hangat di dekat sini.”
Merepotkan.
Belum tentu rusak.
- Suvilehto, J. T., Cekaite, A. & Morrison, I. (2023), “The why, who and how of social touch,” Nature Reviews Psychology 2, 606–621 nature.com
- Marx, A., Lenkei, R., Pérez Fraga, P. et al. (2021), “Occurrences of non-linear phenomena and vocal harshness in dog whines as indicators of stress and ageing,” Scientific Reports 11, 4468. DOI: 10.1038/s41598-021-83614-1 nature.com
- Faragó, T., Kocsis, L., Laczi, B. et al. (2026), “Dogs’ reactions to motivations and emotions in conspecific and heterospecific vocalizations,” Scientific Reports 16, 15360. DOI: 10.1038/s41598-026-46906-y nature.com
- Merck Veterinary Manual, “Behavior Problems of Dogs,” separation distress disorder section; accessed 2026-09-21 merckvetmanual.com
- Packheiser, J., Hartmann, H., Fredriksen, K. et al. (2024), “A systematic review and multivariate meta-analysis of the physical and mental health benefits of touch interventions,” Nature Human Behaviour 8, 1088–1107. DOI: 10.1038/s41562-024-01841-8 nature.com
- Gray, N. L. T. & Roberts, S. C. (2023), “An investigation of simulated and real touch on feelings of loneliness,” Scientific Reports 13, 10587 nature.com
