Ketika obrolan santai mendadak berubah jadi soal ala Fermi
0. Intinya: pertanyaannya belum tentu aneh; ukuran masalahnya yang besar
Bayangkan seseorang bertanya:
“Aku suka tiba-tiba nanya hal aneh, ya?”
Lalu contoh yang diberikan adalah:
“Kalau kamu cuma bisa bertemu satu orang di seluruh dunia, kamu mau bertemu siapa?”
Pertanyaannya sendiri tidak aneh. Masalahnya, kalau dilempar tanpa konteks, ruang jawabannya sangat besar.
Sebaliknya, “mau ciuman?” mungkin punya beban sosial yang jauh lebih tinggi, tetapi bentuk jawabannya cukup jelas: ya, tidak, belum, mungkin.
“Satu orang di seluruh dunia” berbeda.
Hanya orang yang masih hidup? Tokoh sejarah boleh? Kenalan sendiri boleh? Cuma bertemu atau bisa ngobrol? Orang yang dikagumi? Orang yang disukai? Orang yang kelihatannya menarik? Dan kenapa pertanyaan ini muncul sekarang?
Obrolan biasa tiba-tiba menyambungkan kita ke basis data seluruh umat manusia.
Rasanya hampir seperti versi percakapan dari:
“Ada berapa tiang listrik di Jepang?”
1. Sumber kesulitannya adalah ruang pencarian × kriteria × konteks
Ada tiga alasan utama.
1. Ruang pencariannya terlalu luas
“Satu teman” masih gampang dicari.
“Satu aktor favorit” juga.
“Satu orang di seluruh dunia” membuat hampir semua manusia menjadi kandidat.
Tentu otak tidak benar-benar memeriksa miliaran orang. Masalahnya adalah tidak tahu harus mulai dari rak yang mana.
2. Tidak ada kriteria penilaian
“Ingin bertemu” bisa berarti banyak hal.
Minta nasihat hidup. Bertemu idola. Mendengar sejarah langsung. Membahas pekerjaan. Makan bersama. Bertemu secara romantis.
Kalau kriterianya berubah, peringkat pertama juga berubah.
Sebelum menjawab, orang harus menciptakan dulu jenis ranking yang dimaksud.
3. Konteks percakapan tiba-tiba berpindah
Kalau topik sebelumnya sama sekali berbeda, pertanyaan hipotetis besar memaksa pendengar memproses bukan hanya isi, tetapi juga:
“Kenapa sekarang?”
Karena itu, jawaban pertama kadang justru:
“Kenapa nanya itu?”
Bukan berarti pertanyaannya ditolak. Bisa jadi orang hanya sedang meminta petunjuk.
2. Kenapa rasanya seperti soal Fermi
Secara teknis, “siapa yang ingin kamu temui?” bukan estimasi Fermi.
Tapi sensasinya mirip.
Kalau ditanya “ada berapa tiang listrik di Jepang?”, kita biasanya harus membuat asumsi dulu.
Perkirakan dari luas wilayah? Jumlah rumah tangga? Pisahkan kota dan desa? Apa saja yang dihitung sebagai tiang?
Hal yang sama terjadi pada “satu orang di dunia”.
Tentukan kandidat. Tentukan kriteria. Tentukan apakah jawabannya harus spontan atau dipikirkan serius.
Definisi masalah datang sebelum jawaban.
Obrolan santai diam-diam berubah jadi case interview.
3. “Kalau tiba-tiba begitu aku bingung” bisa berarti butuh waktu, bukan menolak
Kalau beberapa orang berkata “kok tiba-tiba?”, mudah untuk berpikir:
“Pertanyaanku aneh?” “Mending jangan nanya begini?”
Namun ada penjelasan lain.
Pertanyaannya menarik. Jawabannya tidak langsung muncul. Kalau dipikir sebentar, bisa. Kalau diberi satu batasan, jauh lebih mudah.
Jadi masalahnya mungkin bukan rasa ingin tahu, tetapi format input.
Kalau seseorang sering membalas “kenapa nanya?”, mungkin dia sedang mengecek tujuan, cakupan, dan nada pertanyaan.
Tidak perlu membuang pertanyaan menarik.
Cukup tambahkan satu filter pencarian.
4. Riset juga tidak mengatakan “semakin banyak pilihan selalu semakin buruk”
Terlalu sederhana jika mengatakan manusia selalu gagal memilih karena opsi terlalu banyak.
Meta-analisis tahun 2010 yang merangkum 50 studi, 63 kondisi, dan 5.036 peserta menemukan efek rata-rata choice overload hampir nol, dengan variasi besar antarpenelelitian.[1]
Jadi “lebih banyak pilihan selalu buruk” bukan hukum universal.
Meta-analisis tahun 2015 atas 99 observasi dan 7.202 peserta mengidentifikasi faktor penting seperti kompleksitas pilihan, kesulitan tugas keputusan, ketidakpastian preferensi, dan tujuan untuk mengurangi usaha.[2]
Pertanyaan “satu orang di seluruh dunia” mudah menggabungkan faktor-faktor itu.
Kandidat sangat banyak. Kriteria kabur. Tidak ada jawaban benar. Dan karena cuma obrolan, orang mungkin tidak mau mengoptimalkan jawaban selama lima menit.
Maka respons “mendadak banget, aku nggak kepikiran” sangat masuk akal.
5. Bertanya sendiri bukan kelemahan dalam percakapan
Riset dari arah sebaliknya juga menarik.
Studi percakapan tahun 2017 melaporkan bahwa orang yang lebih banyak bertanya, terutama dengan pertanyaan lanjutan yang mengikuti ucapan lawan bicara, cenderung dianggap lebih responsif dan dinilai lebih positif.[3]
Pada 2025 beberapa angka pelaporan dikoreksi, tetapi audit menyatakan kesimpulan utama tetap bertahan.[4]
Tentu ini bukan berarti “semakin banyak pertanyaan semakin bagus”.
Kuncinya adalah apakah pertanyaan mengikuti alur.
“Aku kemarin nonton konser.” “Konser siapa?”
Itu mengikuti.
“Aku kemarin nonton konser.” “Ngomong-ngomong, kalau cuma bisa bertemu satu orang di dunia, siapa?”
Itu memasukkan pekerjaan baru ke CPU percakapan.
Masalahnya lebih dekat ke penjadwalan tugas daripada kualitas bertanya.
6. Solusinya simpel: tambahkan satu kondisi pencarian
Tidak perlu teknik komunikasi rumit.
Sebelum pertanyaan besar, tambahkan satu saja dari tiga hal ini.
A. Persempit kandidat
“Kalau harus selebritas, siapa yang mau kamu temui?”
“Kalau tokoh sejarah?”
Pencarian seluruh manusia langsung menjadi pencarian kategori.
B. Tambahkan kriteria
“Kalau satu orang yang ingin kamu dengar ceritanya, siapa?”
“Kalau untuk makan malam bersama, siapa?”
Sekarang ranking punya tujuan.
C. Izinkan jawaban spontan
“Yang pertama kepikiran saja: kalau bisa ketemu siapa pun, siapa?”
Ini sangat membantu.
Tugas berubah dari “cari jawaban optimal” menjadi “sebut satu kandidat yang masuk akal”.
Tidak perlu mengadakan kejuaraan dunia umat manusia.
7. Sebelum dan sesudah
Before
“Kalau cuma bisa bertemu satu orang di dunia, siapa?”
After
“Yang pertama kepikiran saja: kalau harus selebritas, siapa yang mau kamu temui?”
Before
“Kalau bisa pergi ke mana saja, mau ke mana?”
After
“Kalau akhir pekan ini bisa liburan gratis, pilih dalam negeri atau luar negeri?”
Before
“Apa yang paling penting dalam hidup?”
After
“Untuk kamu sekarang, mana yang paling penting: waktu, uang, atau hubungan?”
Keseruan pertanyaannya tetap ada.
Yang hilang hanyalah pekerjaan tersembunyi untuk menentukan premis.
8. Kesimpulan: pertahankan rasa ingin tahu, buat soal sedikit lebih ramah
Orang yang suka melempar pertanyaan tak terduga bisa membuat percakapan jauh lebih hidup.
Dari makan malam bisa lompat ke filosofi, lalu ke perjalanan, lalu kembali ke makanan minimarket.
Ketidakpastian itu sendiri bisa menyenangkan.
Masalah muncul ketika pertanyaan besar menganggap kedua orang sudah memakai filter pencarian yang sama.
Jadi pasang satu pegangan kecil.
“Hanya selebritas.” “Jawaban pertama yang muncul.” “Seseorang yang ingin kamu ajak ngobrol.”
Itu sudah cukup.
Tidak perlu berhenti bertanya hal-hal aneh.
Cukup tambahkan satu baris asumsi ke soal Fermi yang menyamar sebagai obrolan.
Pertanyaannya tetap menarik, sementara “kenapa nanya itu?” dan “kalau mendadak aku nggak tahu” akan jauh lebih jarang.
- Scheibehenne, B., Greifeneder, R., & Todd, P. M. (2010). Can There Ever Be Too Many Options? A Meta-Analytic Review of Choice Overload. Journal of Consumer Research, 37(3), 409–425. DOI: 10.1086/651235
- Chernev, A., Böckenholt, U., & Goodman, J. (2015). Choice overload: A conceptual review and meta-analysis. Journal of Consumer Psychology, 25(2), 333–358. DOI: 10.1016/j.jcps.2014.08.002
- Huang, K., Yeomans, M., Brooks, A. W., Minson, J., & Gino, F. (2017). It Doesn’t Hurt to Ask: Question-Asking Increases Liking. Journal of Personality and Social Psychology, 113(3), 430–452. DOI: 10.1037/pspi0000097
- Correction to “It doesn’t hurt to ask: Question-asking increases liking” (2025). Journal of Personality and Social Psychology, 128(3), 669. DOI: 10.1037/pspi0000491
