"Lain kali kita makan bareng, yuk."
"Boleh banget, ayo ayo."
Lalu keduanya tidak pernah membahasnya lagi.
Adegan ini kemungkinan sudah terjadi ratusan juta kali sepanjang sejarah pergaulan manusia.
Tapi di sebuah media sosial anonim di Jepang, ada cerita yang ramai dibicarakan: orang-orang berhenti menganggap "lain kali kita pergi" sebagai basa-basi, benar-benar mengajukan tanggal, dan ternyata cukup banyak yang akhirnya jadi bertemu.
Dari situ muncul pertanyaan.
Jangan-jangan bukan karena tidak mau pergi, tapi semua orang cuma sedang menunggu diajak?
Ditambah lagi, pihak yang mengajak berpikir "kalau ditolak, canggung dong", sementara pihak yang diajak berpikir "kalau menolak, nggak enak".
Kedua pihak menghitung sendiri-sendiri kerugian perasaannya, dan tidak ada yang menjalankan POST /invite.
Hasilnya, rasa suka sudah cukup, tapi janjinya tidak pernah terbentuk.
Umat manusia, terjebak dalam kebuntuan (deadlock) saling menunggu diajak.
Langsung ke kesimpulan: sudut pandang ini punya cukup banyak dukungan penelitian. Tapi ini bukan berarti "kalau diajak semua orang pasti datang" atau "ditolak itu pasti 100% tidak sakit". Yang menarik justru di banyak situasi, hambatannya bukan ada-tidaknya rasa suka, melainkan "biaya untuk memulai".
Intinya: Penghambat bikin teman mungkin kalender, bukan rasa suka
- "Lain kali kita pergi" bukan pilihan antara "100% serius" dan "100% basa-basi".
- Ada kelompok besar orang yang berpikir, "Aku nggak akan mengajak duluan, tapi kalau diajak ya senang-senang saja."
- Orang cenderung meremehkan betapa senangnya orang lain saat dihubungi.
- Setelah mengobrol, orang juga cenderung meremehkan seberapa suka lawan bicaranya pada mereka.
- Ada penelitian: peserta ingin menghubungi teman lama, mengira temannya akan senang, punya kontaknya, bahkan diberi waktu untuk menulis pesan. Meski begitu, yang benar-benar mengirim kurang dari sepertiga.
- Orang yang menolak undangan cenderung melebih-lebihkan dampak buruknya, seperti "dia akan marah" atau "dia tidak akan mengajakku lagi".
- Bahkan untuk bertanya "Boleh aku ikut?", orang lebih sungkan daripada yang diinginkan si pembuat rencana.
- Menjawab "mungkin" atau "kalau bisa aku datang" kurang disukai pengundang dibanding yang dikira si penjawab, karena pengundang tidak bisa memastikan rencananya.
Jadi secara praktis, yang cukup masuk akal adalah: ajak dengan ringan dan spesifik → jangan ubah satu penolakan jadi penolakan terhadap dirimu → kalau jawabannya terus samar, jangan dikejar.
1. "Lain kali kita pergi" itu bukan Boolean
Saat seseorang bilang "lain kali kita pergi", kita refleks ingin menilainya.
true: dia benar-benar mau pergifalse: cuma basa-basi
Tapi manusia nyata tidak sebersih Boolean itu.
Lebih wajar kalau dilihat sebagai skala:
- Ingin sekali pergi. Aku sendiri pun akan mengajak
- Ingin pergi. Kalau diajak dengan jelas, kemungkinan besar aku ikut
- Terserah. Aku ikut kalau jadwal dan suasana hatiku cocok
- Kurang ingin pergi, tapi saat itu tidak mau bikin suasana canggung
- Tidak mau pergi
Yang banyak sekali terkubur dalam pergaulan sehari-hari adalah nomor 2 dan 3.
Bukan karena tidak suka orangnya.
Kamu juga merasa bertemu pasti menyenangkan.
Tapi energi awal untuk mencari tempat, menanyakan tanggal, menanggung kemungkinan ditolak, lalu mengirim pesan itu tidak muncul.
Di titik ini, kalau satu orang mendorong sedikit, "Gimana minggu depan, Rabu atau Jumat?", tugas pihak lain berubah dari merencanakan menjadi memilih.
Ini bukan sekadar cari teman, lebih mirip menutup tiket yang belum diurus.
2. Kenapa kebuntuan saling menunggu diajak bisa terjadi
Kalau keduanya berpikir "aku ikut kalau diajak", secara teori mudah saja.
Tapi saat dijalankan, jadinya begini:
A: ikut kalau B mengajak
B: ikut kalau A mengajak
A -> B: tidak ada yang dikirim
B -> A: tidak ada yang dikirim
Hasil: keduanya tetap di rumah
Penyebabnya tidak hanya satu.
2-1. Ditolak itu agak menakutkan
Tidak seburuk patah hati besar.
Tapi hanya dengan balasan "hari itu nggak bisa", otak langsung mengompilasinya jadi "jangan-jangan dia nggak mau ketemu aku?".
Risiko penolakan kecil ini menghentikan setiap ajakan.
2-2. Terlalu memikirkan kemungkinan merepotkan
"Apa dia bakal repot kalau tiba-tiba kuajak?"
"Gimana kalau yang kemarin itu cuma basa-basi?"
"Kasihan juga kalau dia harus repot-repot menolak."
Sebagai bentuk perhatian, ini indah. Tapi kalau perhatian dimaksimalkan, tidak ada yang bisa memulai apa pun.
2-3. Merencanakan itu memang merepotkan
Cari tempat.
Tanya tanggal.
Reservasi.
Ubah jadwal.
Kelihatannya seperti masalah hubungan manusia yang dalam, padahal kadang ini sebenarnya masalah antarmuka kalender (UI).
2-4. "Nanti juga ada yang mengurus" membuat semuanya berhenti
Dalam grup, ini lebih parah.
Semua ingin pergi.
Semua menunggu seseorang bilang, "Ya sudah, tanggal sekian aja."
Lalu acaranya mati dengan sendirinya.
Bukan tidak ada semangat. Hanya tidak ada penanggung jawab.
3. Penelitian 1: Dihubungi itu lebih menyenangkan daripada yang dikira si pengirim
Dalam penelitian Liu dan kawan-kawan, ketika orang menghubungi teman atau kenalan, mereka secara konsisten meremehkan betapa penerima akan menghargai kontak itu.
Yang paling menarik, peremehan itu makin besar ketika kontaknya agak mengejutkan atau hubungannya agak jauh.
Artinya, di kepala si pengirim mungkin ada:
"Aneh nggak ya kalau tiba-tiba menghubungi?"
sementara di pihak penerima:
"Eh, lama banget! Dia ingat aku."
dan dengan efek kejutan, bisa jadi hal positif.
Tentu ini tidak berarti apa pun yang dikirim ke siapa pun pasti disambut. Tapi setidaknya, prediksi kita bahwa "ini mungkin mengganggu" bukanlah alat ukur yang netral.
4. Penelitian 2: Orang bahkan meremehkan seberapa besar orang lain menyukainya
Dalam "liking gap" yang ditunjukkan Boothby dan kawan-kawan, setelah percakapan seperti pertemuan pertama, orang cenderung meremehkan seberapa suka lawan bicaranya pada mereka dan seberapa menikmati obrolannya.
Ini belum tentu langsung berkaitan dengan ajakan. Tapi kalau dugaan
"aku sih senang, tapi dia mungkin biasa saja"
sendiri sudah condong pesimis, wajar kalau ajakan berikutnya tidak pernah muncul.
Obrolannya sukses.
Kedua pihak cukup senang.
Tapi di dasbor masing-masing, entah kenapa tertulis "kepuasan lawan bicara: rendah".
Bukan bug, melainkan pengaturan bawaan manusia.
5. Penelitian 3: Sekadar "ingin menghubungi" tidak membuat orang benar-benar menghubungi
Penelitian Aknin dan Sandstrom tahun 2024 menunjukkan cukup langsung betapa menakutkannya biaya memulai.
Peserta yang ingin menghubungi teman lama:
- ingin menghubungi atas keinginan sendiri
- mengira temannya akan senang
- punya kontaknya
- bahkan diberi waktu di tempat untuk menulis dan mengirim pesan
Dalam situasi yang hampir semuanya sudah disiapkan, yang benar-benar mengirim pesan kurang dari sepertiga.
Sulit lagi dijelaskan dengan alasan "karena tidak suka orangnya".
Penelitian itu menunjukkan bahwa salah satu penyebab keraguan adalah teman lama yang sudah renggang terasa seperti "orang asing" secara psikologis.
Pelajaran yang bisa diambil sangat besar.
Keinginan dan tindakan adalah dua hal yang berbeda.
"Dia tidak mengajak, berarti tidak mau bertemu" bisa jadi kesimpulan yang sangat asal.
6. Ditolak pun bukan pemberitahuan "hubungan berakhir"
Lalu, bagaimana kalau sudah mengajak dan ditolak?
Dalam penelitian Givi dan Kirk, pihak yang menolak undangan cenderung memperkirakan dampak buruknya lebih besar daripada yang dialami pengundang sebenarnya: seberapa marah, kecewa, merasa "kamu tidak menghargaiku", atau tidak akan mengajak lagi.
Ini menarik.
Bahkan orang yang menolak pun merasa menolak itu cukup berat.
Berarti pihak yang mengajak pun mudah menambahkan makna berlebih pada kejadian "ditolak".
Padahal "tidak" di dunia nyata bercampur dengan banyak variabel yang tak ada kaitannya dengan hubungan, seperti:
- hari itu ada kerjaan
- sudah ada janji lain
- lagi capek
- lagi tipis dompet
- ingin istirahat sendiri
- tidak tertarik dengan acaranya
Bisa jadi bukan 403 Relationship Forbidden, melainkan 409 Schedule Conflict.
Menyimpulkan seluruh hubungan dari satu penolakan itu seperti memakai model dengan satu sampel langsung di lingkungan produksi.
7. "Kalau bisa aku datang" lebih sulit ditangani daripada penolakan
Nah, yang merepotkan adalah ini:
"Kalau bisa, aku datang ya~"
Dari sisi yang mengucapkan, ini terdengar lembut.
Terasa baik hati karena tidak menolak mentah-mentah.
Tapi dalam penelitian Givi dan kawan-kawan tahun 2025, pihak yang diundang melebih-lebihkan seberapa jauh pengundang lebih menyukai "mungkin" daripada "tidak". Pengundang yang menerima "mungkin" cenderung merasa kurang dihargai, dan pihak yang diundang meremehkan perbedaan itu.
Alasannya praktis.
Kalau jawabannya tidak, jumlah orang bisa ditentukan.
Bisa mengajak orang lain.
Bisa memesan tempat.
Kalau "mungkin", rencananya jadi seperti keadaan kuantum.
Datang?
Tidak datang?
Perlu kursi?
Beli daging berapa gram?
Tidak pasti sampai ada yang mengamati.
Karena itu, kalau kemungkinan besar tidak bisa, mengatakan
"Hari itu susah nih! Ajak lagi ya"
kadang justru lebih baik secara praktis.
8. Jadi bagaimana mengajaknya? Tekanan rendah, spesifik, dan ada jalan keluar
Mengajak tidak perlu dijadikan peristiwa besar.
Yang efektif adalah menaikkan kespesifikan sambil menurunkan tekanan.
Misalnya:
Minggu depan ke tempat ini yuk? Aku kosong Rabu atau Jumat. Kalau nggak bisa, lain kali aja!
Dengan begini, lawan bicara tidak perlu menjalani "ujian persahabatan".
Cukup menjawab Rabu, Jumat, atau "kali ini belum bisa".
Sebaliknya, kalau kamu melempar sekaligus
Kapan kamu senggang? Mau ngapain? Mau ke mana?
itu bukan lagi ajakan, melainkan rapat penyusunan kebutuhan.
Baca balasan sebagai pola, bukan kejadian tunggal
| Balasan | Cara membacanya |
|---|---|
| "Hari itu nggak bisa, tapi tanggal 20 bisa" | Cukup positif. Menawarkan alternatif adalah sinyal kuat |
| "Boleh. Di tempat mana?" | Positif. Sudah ikut membahas detail |
| "Maaf, hari itu nggak bisa" (sekali) | Hampir tidak bisa dinilai. Bisa jadi cuma jadwalnya yang kurang pas |
| "Lain kali ya!" berulang kali tanpa alternatif | Prioritasnya tampaknya rendah. Jangan terlalu dikejar |
| Tidak ada balasan, atau penolakan berulang | Hormati sebagai batas dan mundur |
Yang penting, jangan menganggap satu penolakan sebagai penolakan atas dirimu, tetapi juga jangan menimpa penolakan yang berulang dengan "sebenarnya dia pasti mau".
9. Bahkan bertanya "Boleh aku ikut?" pun orang terlalu sungkan
Dalam penelitian self-invitation oleh Givi dan kawan-kawan, calon peserta bertanya "boleh aku ikut?" lebih jarang daripada yang diinginkan si pembuat rencana.
Salah satu alasannya adalah terlalu banyak berpikir: "Waktu membuat rencana, pasti mereka sempat mempertimbangkan mengajakku, lalu sengaja tidak mengajak."
Padahal si pembuat rencana kadang sama sekali tidak berpikir sejauh itu.
Artinya, manusia otomatis membuat cerita bahkan untuk ruang kosong karena tidak diundang.
Tidak diundang = ada catatan pengucilan
belum tentu benar.
Bisa jadi catatannya sendiri tidak ada.
10. Batas saat memakai teori ini: mengajak itu bebas, menekan itu lain lagi
Bagian ini penting.
Penelitian tidak mengatakan "dorong terus, nanti lawan bicaramu luluh".
Yang masuk akal adalah:
- Ajak sekali, dengan ringan dan spesifik
- Jangan menafsirkan penolakan secara berlebihan
- Lihat apakah dia menawarkan alternatif atau mau di lain waktu
- Kalau penolakan samar atau diam terus berulang, mundur
"Ditolak pun mungkin lawan bicara tidak terlalu memikirkannya" dan "boleh terus mengajak berapa kali pun ditolak" adalah dua hal yang sangat berbeda.
Yang pertama meluruskan sikap pesimis.
Yang kedua bisa berarti mengabaikan batas orang lain.
Begitu juga, ketika seseorang menerima ajakan, tidak perlu menafsirkannya sebagai "dia sudah lama menunggu ajakanku".
Ada wilayah tengah yang sangat luas:
"Aku nggak akan merencanakannya sendiri, tapi kalau diajak ya seru-seru saja."
Cukup menyadari itu saja.
Kesimpulan: Kalau basa-basi dideploy ke produksi, ternyata bisa lolos
Tidak perlu memperlakukan setiap "lain kali kita pergi" sebagai kontrak.
Tapi juga tidak perlu membuangnya setiap kali seperti string kosong.
Manusia itu:
- lebih senang dihubungi daripada yang kamu kira
- kadang menilaimu lebih baik daripada yang kamu duga
- ingin bertemu tapi tidak memulai sendiri
- melebih-lebihkan dampak buruk menolak
- mudah merasa jawaban samar itu bentuk kebaikan
- mengisi alasan tidak diundang dengan dugaan pesimis
Kita dibekali spesifikasi aneh seperti itu.
Jadi implementasi minimal untuk menambah teman mungkin ternyata sederhana.
"Lain kali kita pergi" → "Gimana minggu depan?"
Hanya itu.
Kalau ditolak, biasanya cukup "oke, lain kali ya" lalu selesai.
Kalau dia membalas dengan tanggal lain, lanjutkan.
Kalau terus menguap begitu saja setiap kali, jangan dikejar.
Dalam jejaring sosial umat manusia, kadang masalah yang lebih besar bukan kurangnya rasa suka, melainkan tidak ada yang menekan tombol konfirmasi.
Referensi (6)
- Liu, P. J., Rim, S., Min, L., & Min, K. E. (2023). The surprise of reaching out: Appreciated more than we think. Journal of Personality and Social Psychology, 124(4), 754–771. https://doi.org/10.1037/pspi0000402
- Boothby, E. J., Cooney, G., Sandstrom, G. M., & Clark, M. S. (2018). The Liking Gap in Conversations: Do People Like Us More Than We Think? Psychological Science, 29(11), 1742–1756. https://doi.org/10.1177/0956797618783714
- Aknin, L. B., & Sandstrom, G. M. (2024). People are surprisingly hesitant to reach out to old friends. Communications Psychology, 2, 34. https://doi.org/10.1038/s44271-024-00075-8
- Givi, J., & Kirk, C. P. (2024). Saying no: The negative ramifications from invitation declines are less severe than we think. Journal of Personality and Social Psychology, 126(6), 1103–1115. https://doi.org/10.1037/pspi0000443
- Givi, J., Grossman, D. M., Kirk, C. P., & Sedikides, C. (2026). Self-Invitation Hesitation: How and Why People Fail to Ask to Join the Plans of Others. Personality and Social Psychology Bulletin, 52(6), 1613–1626. https://doi.org/10.1177/01461672251324232
- Givi, J., Kirk, C. P., Grossman, D. M., & Sedikides, C. (2025). Maybe don't say “maybe”: How and why invitees fail to realize that they should not respond to invitations with a “maybe”. Journal of Experimental Social Psychology, 121, 104814. https://doi.org/10.1016/j.jesp.2025.104814

